Lingkaran Dalam Yang Menyempit

Hari ini kita mendengar keracunan MBG. Kali ini terjadi di Sidoarjo. Ada ribuan murid dari 19 sekolah, salah satunya adalah pesantren, keracunan makanan. Lama kelamaan ini menjadi rutin.

Program yang dimaksudkan oleh pemerintahan Prabowo sebagai pemenuhan kesejahteraan rakyat ini seringkali berujung bencana. Padahal, hal yang sama tidak terjadi di program-program yang lain. Bahkan ada yang mempertanyakan, mengapa makanan di penjara tidak pernah menimbulkan kasus keracunan? Kita tidak tahu kondisi yang sebenarnya. Mungkin saja ada yang keracunan di penjara tapi kita tidak tahu.

Anda tahu bahwa lembaga yang mengelola MBG, Badan Gizi Nasional (BGN), sedang mengalami krisis. Orang yang bertanggungjawab mendesain program MBG ini dan sekaligus menjadi ketua BGN pertama, Dadan Hindayana, akhirnya terjerat kasus korupsi dan harus mundur dari posisinya.

Dadan digantikan oleh seorang loyalis Prabowo, Nanik S. Deyang. Namun ia hanya menjabat selama enam minggu. Nanik mengundurkan diri dengan alasan kesehatan. Kita tidak tahu alasan sesungguhnya. Namun seperti Dadan, Nanik juga bukan seorang ahli gizi.

Baik Dadan maupun Nanik tidak pernah berpengalaman di pemerintahan sebelumnya. Dadan adalah seorang profesor ahli entologi (serangga). Dia tidak pernah mengelola organisasi besar sebelumnya. Nanik kita kenal sebagai mantan wartawan tabloid. Satu-satunya pengalaman dia berorganisasi adalah menjadi komisaris perusahan.

Singkatnya, BGN mengalami krisis kepemimpinan. Prabowo akhirnya mendudukkan seorang loyalis, yang dia didik sendiri, untuk duduk di kursi kepemimpinan BGN. Dia adalah Sudaryono.

Sudaryono masih sangat muda. Umurnya baru 41 tahun. Dia berasal dari Gombong, Jawa Tengah. Biografinya sangat mengesankan. Dia lahir dari keluarga sederhana. Dia mendapat beasiswa belajar di sekolah elit SMA Taruna Nusantara. Ini adalah sebuah sekolah yang sering di anggap sebagai sekolah persiapan masuk ke Akademi Militer, yang letaknya juga tidak jauh dari lokasi TN.

Namun Sudaryono gagal masuk Akmil. Saat hendak ujian, ketika berangkat ke Jakarta dan sampai di terminal Pulogadung, dia beli tiga arem-arem. Dua dia makan. Dan ketika dimakan yang ketiga, dia baru sadar bahwa arem-arem itu basi. Dia kena tipes. Dan, gagal masuk Akmil.

Dia menangisi nasibnya itu. Namun tidak lama, kakak kelasnya di SMA TN, Sugiono (sekarang jadi menteri luar negeri) membawanya menemui Prabowo. Sudaryono kemudian disekolahkan ke Akademi Pertahanan Nasional di Jepang. Setelah selesai, pada 2010 sampai 2015, Sudaryono menjadi asisten pribadi Prabowo. Dia mengaku bahwa dia mendapat banyak dari Prabowo. Mulai dari belajar bisnis hingga politik.

Prabowo memang “melatih” banyak anak muda sebagai kader politiknya. Mereka dikenal sebagai “Jedi,” sebutan yang meniru ksatria film Star Wars. Tempo pernah menulis anak-anak muda ini — seperti Sugiono, Sudaryono, dan Dirgayuza Setiawan. Yang terakhir sekarang menjadi penulis pidato Prabowo dan adalah anak dari Kol. dr. Setiawan, kawan karib Prabowo.

Sudaryono kemudian menjadi pebisnis. Perjalanan karir politiknya meningkat setelah dia menjadi ketua DPD Gerindra Jawa Tengah. Ketika pencalonan gubernur Jawa Tengah pada 2024 lalu, Sudaryono digadang-gadang oleh Gerindra untuk menjadi calon gubenur Jawa Tengah. Namun, Jokowi mengangkatnya menjadi wakil menteri pertanian. Karena Jokowi punya calon sendiri, yakni Komjen Pol. Ahmad Luthfi, yang kemudian terpilih menjadi gubernur.

Jabatan wakil menteri tetap disandang Sudaryono pada masa Prabowo. Namun itu berubah setelah Prabowo mengangkatnya menjadi Kepala BGN.

Ini sebuah lompatan besar. Kalau saja Sudaryono masuk Akmil maka dia akan menjadi bagian lulusan 2006. Cohort Akmil 2006 saat ini pangkat tertingginya adalah Letnan Kolonel. Sebagian besar mereka saat ini menjadi Komandan Batalyon atau Komandan Kodim tipe B. Misalnya, Letkol Inf. Imam Buchori, lulusan terbaik Akmil 2006, saat ini menjadi Dandim 0623/Cilegon.

Sekarang Sudaryono memimpin BGN. Ini adalah lembaga yang mengelola dana APBN terbesar (Rp268 triliun). Bahkan lebih besar dari anggaran pertahanan RI (Rp187,10 triliun). Sehingga, jabatan yang dipegang Sudaryono sekarang ini sesungguhnya adalah jabatan dengan nilai strategis yang sangat besar dari segi anggaran dan organisasi.

Mengapa ini terjadi? Saya menulis sebuah artikel yang dipublikasi minggu ini. Saya melihat pola yang sama dari gaya pemerintahan Prabowo, khususnya ketika menghadapi krisis. Prabowo akan menaruh ‘orang-orang di lingkaran dalamnya’ untuk menangani krisis atau di posisi yang menjadi perhatian utamanya.

Ini adalah orang-orang yang dikenalnya secara pribadi. Dengan bertindak seperti itu, dia seakan-akan mendudukkan dirinya sendiri untuk mengontrol organisasi itu.

Untuk posisi menteri luar negeri, ia mendudukkan Sugiono, salah satu “Jedi”-nya. Ini adalah orang yang secara personal sangat dekat dengan dirinya. Untuk sekretaris negara, dia mendudukkan Prasetyo Hadi. Demikian juga dengan sekretaris kabinet, yang mendapatkan peran jauh lebih besar dari jabatannya karena berperan sebagai ‘gate keeper’ presiden, dia mendudukkan Letkol Inf. Teddy Indra Wijaya.

Hal yang sama terjadi ketika terjadi krisis. Ketika meletus kerusuhan akhir Agustus 2025, dia mencopot Menko Polkam, Budi Gunawan, seorang yang dekat dengan PDIP (partai yang tidak bergabung dengan pemerintahan Prabowo).

Prabowo menggantikannya dengan seorang mantan jendral yang sudah sangat senior, Letjen Purn. Djamari Chaniago. Djamari dulu masuk ke dalam Dewan Kehormatan Perwira yang pada 1998 memberhentikan Prabowo dari dinas militer. Namun dalam perkembangan kemudian dia bergabung dengan Gerindra, partai besutan Prabowo.

Ketika Garuda Airlines merugi, dia memasukkan sahabat karibnya, Mayjen Purn. Glenny Kairupan, sebagai direktur utamanya.

Kecenderungan untuk memegang komando terpusat membuat Prabowo memilih orang-orang lingkaran dekat yang dia sangat percayai. Dan lingkaran ini semakin sempit.

Ada kecenderungan Prabowo tidak mempercayai orang-orang dengan spesifikasi keahlian teknis. Juga tidak percaya pada teknokrat. Ini terlihat sangat kentara saat menanggulangi kebakaran hutan.

Ketika Kapolri mengatakan bahwa tepung bisa mengatasi kebakaran, Prabowo langsung menyambar, produksi tepung ubi besar-besaran! Pernyataan Kapolri itu belum teruji, tidak datang dari ahli, dan sangat amatiran. Hal semacam ini tidak terjadi sekali-sekali. Namun sudah menjadi rutin.

Gaya ini juga bertautan dengan meningkatnya orang-orang yang menjilat. Para penjilat atau sycophant ini menjadi dominan dalam pemerintahan ini. Apapun dilakukan demi membuat Prabowo senang. Dan Prabowo menerimana dengan senang hati. Sehingga tidak heran bila dia selalu mendapat “laporan” … yang pada akhirnya menjadi bahan tertawaan.

Apakah pengangkatan Sudaryono, seorang loyalis yang secara personal sangat dekat dengan presiden, akan membereskan persoalan-persoalan di BGN?

Sayangnya tidak. Sudaryono mungkin seorang yang pintar. Dia punya masa depan politik yang cerah. Namun, jabatan Kepala BGN ini terlalu besar untuknya. Ini adalah jabatan dengan level jendral senior, dimana Sudaryono belum levelnya.

Persoalan MBG adalah persoalan struktural. Desain lembaga ini, yang mendistribusikan kesejahteraan kepada masyarakat lewat kontraktor swasta, tidak berjalan sesuai dengan misinya. Para kontraktor swasta itu adalah ya kontraktor! Motif mereka adalah untung rugi.

Sehingga, tidak heran bila kasus keracunan makanan ini terus menerus terjadi. Problem utama MBG adalah para pemburu rente.

Sudaryono mungkin tahu itu tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Nanik S. Deyang mundur karena kabarnya tidak tahan dengan ancaman para “investor” yang terancam SPPG-nya ditutup. Kantor BGN diberitakan ditembak orang tidak dikenal. Para pemilik berdemo karena penutupan SPPG ini.

Jadi sesungguhnya Prabowo mungkin sedang terjerat dalam jaring-jaring yang dia tenun sendiri. Sudaryono mungkin bukan penyelesaian. Dia adalah juga jaring yang ditenun oleh Prabowo sendiri.

(Made Supriatma)

FB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6 komentar

  1. Bagaimana kalau makhluk² ini aja yang diangkat dalam jabatan strategisnya Mbah GendruWO Wowo⁉️
    Ippsss tapi mereka ini semuanya GUOBLOKKKK sejak lahir kan⁉️😂

    ANJING-ANJING KURAP PENJILAT TerMul dan TerWo:
    1. Aris Wijayantolol alias ABAH DUKUN alias ISLAM ABANGAN alias KERE KESOT MUNAFIK islamophobia ODGJ akut, MABUK ONANI, MABUK KEJAWEN, MABUK CABUL
    2. Anonim TerWo (Akal Nol, Otak miNim, Ternak GendruWo Wowo)
    3. EBeneZER SituMORANG ( Enak Bener jadi buZER Situ Memang Otaknya kuRANG)
    4. Albert Timodius Saragih
    5. Rangga MilanBlues Saryatama
    6. Kentung Kwng
    7. Federico Valverde preman KAMPUNGAN GUOBLOKKKK
    8. Enzot Fernandez pemain tarkam TERGOBLOK sedunia
    9. si win/Edwin Cakra CEKER
    10. Judi Belingham, ST., M.Si (Semakin Tolol, Magister Sinting)
    11. Lionel SukaONANI
    12. Farah “otak parah” Fariha
    13. AF/af (ANTEK FuFuFaFa/anak _fuck_)

  2. Curhatan Wowok (si gembrot tolol inkompeten):
    “Setelah sekian banyak keracunan makanan dan korupsi MBG, ketololanku dalam menghancurkan bangsa, mereka tetap tidak mau menghargaiku. Ah.. dasar Antek Asing.”

  3. orang yg kena tipes krn makan arem² basi skrg dipercaya memimpin badan gizi, dan ndilalah kasus keracunan massal akibat mbg basi jg belum berhenti. kok agak gimana gitu

  4. ya sama aja kalo si Anis jadi pejabat jg pasti bawa gerombolan kesayangannya kadrun bagi2 jabatan, hal normal di indonesia