Israel masih berupaya mengeluarkan warga Palestina dari Jalur Gaza, demikian diakui oleh Menteri Pertahanan Israel Israel Katz. Ia menyatakan bahwa Presiden AS Donald Trump hanya menangguhkan rencana yang oleh para pegiat hak asasi manusia dianggap sebagai tindakan pembersihan etnis.
Saat berbicara dalam konferensi yang diselenggarakan oleh media Israel, Ynet, pada hari Rabu (2/9/2026), Katz mengatakan bahwa pengosongan penduduk Gaza—yang oleh sebagian pejabat Israel secara halus disebut sebagai “imigrasi” atau “migrasi” sukarela warga Palestina—tetap menjadi “satu-satunya solusi”.
“Pada akhirnya, tidak ada solusi nyata bagi Gaza tanpa migrasi ini,” ujar Katz, sebagaimana dikutip oleh Times of Israel.
Selama hampir tiga tahun, para pegiat hak asasi manusia Palestina berpendapat bahwa tujuan akhir dari perang genosida Israel terhadap Gaza adalah melakukan pembersihan etnis di wilayah Palestina tersebut.
Sejumlah pejabat sayap kanan Israel sebelumnya secara terbuka menyerukan pengosongan penduduk Gaza, dan Trump sempat mendukung gagasan tersebut di awal masa jabatannya sebagai presiden. Ia mengatakan bahwa Amerika Serikat akan mengambil alih wilayah kantong tersebut dan “memiliki” wilayah itu setelah warga Palestina disingkirkan.
Usulan tersebut memicu kemarahan dari negara-negara Timur Tengah, termasuk pemerintah yang menjadi sekutu Washington.
Trump kemudian mensponsori kesepakatan “gencatan senjata” yang secara tegas menegaskan hak warga Palestina untuk tetap tinggal di tanah mereka.
“Tidak ada seorang pun yang akan dipaksa meninggalkan Gaza, dan mereka yang ingin pergi bebas untuk melakukannya serta bebas untuk kembali,” demikian bunyi kesepakatan yang memuat 12 poin tersebut.
“Kami akan mendorong warga untuk tetap tinggal dan menawarkan kesempatan bagi mereka untuk membangun Gaza yang lebih baik.”
Sejak gencatan senjata mulai berlaku pada Oktober 2025, Israel terus membatasi bantuan ke Gaza dan menghalangi upaya rekonstruksi di wilayah tersebut, sembari melancarkan serangan yang hampir setiap hari menyasar warga Palestina.
Katz mengatakan pemerintah Israel siap untuk menguasai Gaza “melalui jalur laut, udara, dan cara apa pun yang diperlukan”. Namun, Mesir—yang berbatasan langsung dengan wilayah Palestina tersebut—menolak untuk menampung pengungsi Palestina.
Ia menambahkan bahwa negara-negara lain yang mungkin bersedia menerima warga Palestina yang mengungsi membutuhkan dukungan AS, namun ia menekankan bahwa Washington belum sepenuhnya membatalkan usulan tersebut.
“Saat ini, Trump belum membatalkannya; ia hanya menangguhkannya,” ujarnya.
Katz menyebutkan bahwa rencana pembersihan etnis tersebut “terus-menerus dibahas”.
“Menurut saya, pada akhirnya tidak ada solusi lain, demi kebaikan semua pihak. Namun agar hal itu bisa terwujud, kita membutuhkan Amerika Serikat, dan saatnya nanti akan tiba,” tambahnya.
Selama tiga tahun terakhir, AS telah memberikan bantuan militer senilai sekitar $25 miliar kepada Israel dan membela pemerintah Israel di berbagai forum internasional, termasuk dengan menjatuhkan sanksi terhadap pejabat Mahkamah Pidana Internasional (ICC) yang menyelidiki kekejaman di Gaza.
Pada bulan Juli, Trump mengumumkan kesepakatan untuk melucuti senjata Hamas sebagai bagian dari proses yang didukung AS, yang mencakup penarikan pasukan Israel dan penghentian serangan mematikan terhadap wilayah Palestina tersebut.
Namun, Israel menolak usulan itu dengan menyatakan tidak akan memberikan konsesi apa pun sampai Gaza sepenuhnya didemiliterisasi.
Menanggapi pernyataan Katz, Senator AS Chris Van Hollen mengatakan bahwa ia dan sesama senator dari Partai Demokrat, Jeff Merkley, telah memperingatkan adanya rencana Israel untuk melakukan pembersihan etnis di wilayah kantong Palestina tersebut setelah mereka mengunjungi perbatasan Gaza-Mesir tahun lalu.
“Kini, Menteri Pertahanan Israel mengonfirmasi bahwa itulah tujuannya,” tulis Van Hollen dalam sebuah unggahan di media sosial. “Kita harus mengakhiri keterlibatan kita dalam hal ini.”
Sumber: Aljazeera








kenapa banyak orang gaza di luar negeri .. karena sekali keluar dengan alasam apapun, mereka gak bakalan bisa balik lagi
“Kiamat tidak akan terjadi sampai tidak lagi dikatakan di muka bumi: Allah, Allah.”
— HR. Muslim