Presiden China Xi Jinping menyerukan kepada negara-negara Timur Tengah untuk menolak pengaruh eksternal dan mempertimbangkan penataan ulang tatanan keamanan kawasan tersebut.
Pernyataan Xi pada hari Rabu (2/9/2026) kepada mitranya dari Mesir, Abdel Fattah el-Sisi—dalam kunjungan pertamanya ke Kairo dalam satu dekade terakhir—muncul saat Beijing berupaya memperluas pengaruhnya di kawasan itu di tengah konflik AS-Israel dengan Iran.
“Kita harus menjunjung tinggi prinsip bahwa rakyat Timur Tengah adalah penentu nasib mereka sendiri, menolak campur tangan pihak luar, [dan] mendukung negara-negara kawasan dalam memperkuat dialog mengenai perdamaian dan keamanan,” ujar Xi dalam pertemuan dengan el-Sisi, sebagaimana dilaporkan kantor berita pemerintah Tiongkok, Xinhua.
Xi disambut oleh el-Sisi dan penghormatan tembakan meriam sebanyak 21 kali untuk melakukan pembicaraan di Istana Kepresidenan Ittihadiya di ibu kota Mesir tersebut.
Pembicaraan tersebut mencakup konflik enam bulan antara AS-Israel dan Iran, di mana kedua presiden mendesak adanya “solusi diplomatik” untuk mencapai “kesepakatan komprehensif guna mengakhiri perang”, menurut pernyataan juru bicara el-Sisi.
Kantor el-Sisi juga menyatakan bahwa kedua negara menandatangani kesepakatan untuk memulai tahap ketiga kawasan industri Mesir-Tiongkok di Terusan Suez; kawasan yang menurut para pejabat telah menampung 200 perusahaan dan investasi senilai sekitar 4 miliar dolar AS.
Investasi baru tersebut—yang nilainya belum diumumkan oleh Mesir—memberikan pengaruh yang lebih besar bagi Beijing di kawasan terusan tersebut, yang merupakan jalur vital perdagangan global, di saat konflik di kawasan itu menghambat lalu lintas di Selat Hormuz (antara Oman dan Iran) serta Selat Bab al-Mandeb (yang memisahkan Yaman dan Tanduk Afrika).
Xi menyatakan bahwa Tiongkok “siap bekerja sama dengan negara-negara di kawasan ini untuk menjaga keamanan jalur pelayaran internasional, memajukan kerja sama pembangunan…, serta melenyapkan akar penyebab konflik”.
Serangkaian perjanjian tambahan juga ditandatangani, meskipun para pejabat Mesir tidak memberikan rinciannya.
Beijing berupaya memperluas pengaruhnya
Beijing mengincar pijakan yang lebih kuat di Timur Tengah pada saat “Amerika Serikat tampak tidak bisa memutuskan apakah mereka ingin menarik diri dari kawasan tersebut atau justru lebih terlibat,” ujar Mirette Mabrouk, seorang peneliti senior di Middle East Institute yang berbasis di Washington, kepada kantor berita AFP.
Tiongkok memandang Mesir sebagai mitra utama dan pintu masuk untuk memperluas pengaruh di kawasan tersebut. Bagi Mesir, hubungan yang lebih erat dengan Tiongkok merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk mendiversifikasi kemitraan, alih-alih hanya berpihak pada satu kekuatan besar saja, kata Mabrouk.
Langkah diplomatik ini dilakukan menjelang pertemuan yang dijadwalkan antara Xi dan Presiden AS Donald Trump bulan ini.
Kairo merupakan salah satu penerima terbesar bantuan militer AS, dengan nilai mencapai US$1,3 miliar per tahun, dan secara historis berperan sebagai mediator kunci di Timur Tengah.
Kunjungan Xi juga dilakukan setelah Arab Saudi, Turki, dan Pakistan menandatangani Pakta Pertahanan Mekkah bulan lalu. Para ahli menilai langkah tersebut menunjukkan keinginan negara-negara kawasan untuk mendiversifikasi pengaturan keamanan mereka di luar ketergantungan pada Washington.
Konflik antara AS-Israel dan Iran telah membuat sejumlah sekutu di kawasan tersebut mempertanyakan keandalan jaminan keamanan tradisional dari AS. Di sisi lain, Washington telah meminta mitra-mitranya di kawasan Teluk untuk lebih mengambil tanggung jawab dalam upaya pencegahan (deterensi) regional mereka sendiri.
Pakta tersebut memuat klausul Pasal 5 ala NATO, yang berarti serangan bersenjata terhadap salah satu dari ketiga negara anggota dianggap sebagai serangan terhadap semuanya.
Para pejabat di Turki, Pakistan, dan Arab Saudi menegaskan bahwa pakta ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perjanjian keamanan yang sudah ada sebelumnya.
Di seluruh penjuru Kairo—sebuah kota megapolitan yang dihuni lebih dari 26 juta jiwa—jalan-jalan utama pada hari Rabu tampak dihiasi dengan deretan bendera Tiongkok dan Mesir, serta papan reklame yang menampilkan gambar el-Sisi dan Xi.
Xi dijadwalkan mengunjungi Grand Egyptian Museum, yang menghadap ke arah Piramida Giza, pada hari Rabu ini.
Sumber: ALJAZEERA







