32 Kekejaman yang sungguh kriminal, yang diawasi dan diarahkan oleh MBS

32 Kekejaman yang sungguh kriminal, yang diawasi dan diarahkan oleh MBS

By: Shaun King

Contoh-contoh ini dimulai dari kematian massal, kemudian berlanjut ke pembunuhan individu, penyiksaan, dan penindasan. Urutan ini bersifat perkiraan. Beberapa poin menjelaskan kampanye yang lebih luas, sementara poin lainnya merinci insiden-insiden spesifik di dalamnya; oleh karena itu, jumlah korban jiwa dari setiap poin tidak boleh dijumlahkan.

Peristiwa-peristiwa ini merupakan tindakan yang dilakukan oleh pemerintah di bawah MBS atau koalisi pimpinan Arab Saudi, dengan tingkat bukti keterlibatan pribadi MBS yang bervariasi. Tanggung jawab kepemimpinan tidak berarti ia secara pribadi memerintahkan setiap serangan. Untuk kasus-kasus domestik yang terjadi lebih awal, penangkapan dan penuntutan terkadang sudah berlangsung sebelum ia naik ke tampuk kekuasaan.

MBS menjabat sebagai menteri pertahanan dan merupakan perancang utama intervensi tersebut. UNDP memperkirakan bahwa perang di Yaman akan menyebabkan 377.000 kematian hingga akhir tahun 2021, termasuk sekitar 223.000 kematian tidak langsung akibat dampak seperti kelaparan, penyakit, dan runtuhnya layanan dasar. Model yang digunakan memperkirakan bahwa hampir 259.000 dari jumlah korban jiwa tersebut adalah anak-anak di bawah usia lima tahun. Angka-angka ini merupakan estimasi untuk keseluruhan konflik—mencakup kombatan maupun kematian yang disebabkan oleh berbagai pihak—dan bukan sekadar jumlah korban akibat tindakan Arab Saudi saja. Secara terpisah, data dari Yemen Data Project, yang dikutip oleh para peneliti, mencatat 8.983 warga sipil tewas secara langsung akibat serangan udara koalisi selama kampanye tahun 2015–2022. Angka yang lebih spesifik ini menunjukkan ribuan kematian warga sipil yang berkaitan langsung dengan pengeboman oleh koalisi.

Sumber: Penilaian UNDP, data korban dari koalisi, peran MBS.

Pembatasan melalui jalur laut dan udara yang diterapkan oleh koalisi sangat menghambat masuknya pasokan kebutuhan pokok. Pada November 2017, menyusul serangan rudal kelompok Houthi ke Riyadh, koalisi menutup titik-titik akses masuk ke Yaman, yang memperburuk situasi darurat kemanusiaan yang sudah sangat parah. Pembatasan bahan bakar juga mengganggu operasional pompa air, sanitasi, transportasi, dan rumah sakit. Human Rights Watch menyatakan bahwa pembatasan tersebut melanggar hukum kemanusiaan; sementara Amnesty International memperingatkan bahwa pengetatan blokade tersebut tampak sebagai bentuk hukuman kolektif. Tidak ada angka kematian terpisah yang dapat dipertanggungjawabkan dan dikaitkan semata-mata dengan blokade tersebut, namun kontribusi blokade itu terhadap penderitaan akibat kekurangan kebutuhan pokok sangatlah besar.

Sumber: Human Rights Watch, Amnesty International.

Human Rights Watch mendokumentasikan bukti bahwa penjaga perbatasan Arab Saudi membunuh setidaknya ratusan migran dan pencari suaka asal Ethiopia, termasuk perempuan dan anak-anak. Para penyintas menuturkan adanya penggunaan senjata peledak yang ditembakkan ke arah kelompok migran, penembakan dari jarak dekat, serta serangan terhadap orang-orang yang sedang mundur kembali ke arah Yaman. Beberapa penyintas mengatakan bahwa para penjaga sempat bertanya anggota tubuh mana yang ingin ditembak, lalu menembak bagian tersebut. HRW mengategorikan serangan-serangan ini sebagai tindakan yang meluas dan sistematis, seraya menyatakan bahwa jika dilakukan berdasarkan kebijakan pemerintah, tindakan tersebut dapat diklasifikasikan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. Pihak berwenang Arab Saudi menepis tuduhan tersebut. Bukti yang tersedia untuk publik tidak menunjukkan adanya perintah langsung dari MBS.

Sumber: Investigasi HRW, tanggapan Arab Saudi sebagaimana dilaporkan oleh AP.

Dua serangan koalisi menghantam pasar yang ramai di Yaman barat laut. Penyelidik PBB mendata 97 korban sipil, termasuk 25 anak-anak, dan melaporkan sepuluh jenazah lainnya hangus hingga tidak dapat dikenali. Human Rights Watch (HRW) menemukan sisa-sisa senjata buatan Amerika. Seorang warga kehilangan 16 kerabatnya; warga lainnya kehilangan 17 kerabat. Meskipun seorang saksi melaporkan sekitar sepuluh petempur Houthi turut tewas, HRW menyimpulkan bahwa jatuhnya korban sipil terjadi secara serampangan atau secara nyata tidak proporsional.

Sumber: Human Rights Watch.

Ini merupakan eksekusi massal terbesar di Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir. Menurut para aktivis yang diwawancarai oleh HRW, 41 orang di antaranya adalah Muslim Syiah; hanya tiga dari 41 orang tersebut yang divonis atas kasus pembunuhan. HRW menelaah putusan terhadap Aqeel al-Faraj, Mortada al-Musa, Yasin al-Brahim, Mohammed al-Shakhouri, dan Asad al-Shibr. Kelimanya sempat menyatakan di pengadilan bahwa mereka disiksa oleh pihak interogator hingga dipaksa untuk mengaku. Banyak keluarga mengetahui kabar eksekusi tersebut melalui media. Otoritas Arab Saudi mendakwakan berbagai pelanggaran, termasuk pembunuhan, terorisme, dan serangan terhadap aparat keamanan; bukti yang ada tidak mendukung klaim bahwa semua pria yang dieksekusi adalah pengunjuk rasa damai. Kegagalan proses hukum yang terdokumentasi itu sendiri merupakan kenyataan yang sangat memprihatinkan.

Sumber: Human Rights Watch.

Laporan awal menyebutkan lebih dari 80 orang tewas dalam serangan terhadap penjara tersebut. Penyelidikan PBB kemudian memilah bahwa 66 tahanan tewas akibat serangan udara koalisi, sementara 16 tahanan lainnya tewas ditembak oleh penjaga Houthi saat mereka mencoba melarikan diri. Perbedaan ini penting: tidak semua korban tewas dapat dikaitkan dengan pemboman oleh Arab Saudi. HRW dan Mwatana tidak menemukan bukti yang mendukung klaim koalisi bahwa fasilitas tersebut merupakan target militer.

Sumber: Investigasi PBB, investigasi HRW dan Mwatana.

Pesawat koalisi menyerang kompleks hunian tempat tinggal para pekerja beserta keluarganya. HRW mendokumentasikan setidaknya 65 kematian warga sipil, termasuk sepuluh anak-anak, dan menyebut serangan tersebut sebagai dugaan kejahatan perang. Para penyelidik mengunjungi lokasi kejadian dan tidak menemukan indikasi bahwa kompleks hunian tersebut digunakan untuk tujuan militer. Orang-orang tewas di rumah mereka sendiri karena koalisi membom lingkungan tempat tinggal mereka.

Sumber: Human Rights Watch.

Serangan udara koalisi menghantam sebuah bus yang membawa anak-anak yang sedang dalam perjalanan rekreasi di kegubernuran Saada. Jumlah korban dilaporkan mencapai 51 orang tewas, termasuk 40 anak-anak. Save the Children mendokumentasikan dampak yang dialami para penyintas, termasuk seorang anak laki-laki yang terluka akibat serpihan peluru di mata dan kakinya, yang hingga kini masih merasa takut untuk keluar rumah. Peristiwa ini merupakan salah satu contoh paling nyata bagaimana perang menghancurkan kehidupan anak-anak.

Sumber: Save the Children, data ICRC sebagaimana dilaporkan oleh Xinhua.

SELENGKAPNYA: https://x.com/shaunking/status/2114008109047767149

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 komentar

  1. BUAHAHAHA… GAK NGARUH SAMA SEKALI… SYI’AH TETAP SUPER KAFIR, SUPER MUNAFIQ DAN SUPER MUSYRIK. MUSUH ISLAM NO. 1. PRIORITAS UNTUK DIHANCURKAN DULU…

  2. Keluarga Al Saud, bukan cuma Doktor didikan orientalis, yg isi mulutnya cuma septik tank, perusak negara, tipikal Sangkuniyyun, pemuja Ahmadiyah dan Khomeini, berkonspirasi dg syiah rafidhah mau rebut Al Haramain ? Lahirnya negara Saudi dari Rahim Perlawanan Keluarga “Al Saud dan syaikh Muhammad Abdul Wahab”, keluarga Warrior ulung, keluarga yg mempunyai Ghirah dan Marwah agama (Tauhid) yg luar biasa. Mereka menghadapi imperium raksasa Turki Utsmani lebih dari 100 th dg korban sangat dasyat.

    (𝙖𝙡𝙞 𝙗𝙖𝙙𝙟𝙧𝙞𝙚)
    Lahirnya Negara Saudi dari Rahim Perlawanan. Keluarga “Al Saud dan syaikh Muhammad Abdul Wahab”, keluarga Warrior ulung, keluarga yg mempunyai ghirah dan marwah agama (Tauhid) yg luar biasa. Mereka menghadapi imperium Turki Utsmani lebih dari 100 th dg korban sangat dasyat.

    Arab Saudi, tanah yang Tak Mudah Ditaklukkan…
    Mengapa Arab Saudi Tidak Pernah Dijajah? Karena jasa besar dua mujtahid yg haqq, dua kerabat Keluarga Al Saud dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, yg berani melawan Utsmani dan lainnya. Pada masa ketika kekuatan kolonial memetakan ulang dan merebut sebagian besar negeri Arab—dari Aljazair hingga Mesir, dan dari Irak hingga Yaman—Kerajaan Arab Saudi tetap kukuh dan tidak tersentuh. Apakah ini kebetulan semata, atau ada kisah besar di balik pengecualian ini?
    Sejak abad ke‑18, Pangeran Muhammad bin Saud dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab membentuk persekutuan yang melahirkan gerakan perlawanan terhadap dominasi asing dan menandai kelahiran negara Saudi.

    Kalau tdk dikuasai dua kerabat Keluarga Al Saud dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab maka Syiah, Ahlul Makam dan ahlul Dongeng akan membuka peluang penjajahan…

    Kekuarga Al Saud, bukan hanya Khadim al-Haramain asy-Syarifain, sejak zaman penjajahan imperium Utsmani, sangat peduli dengan Al Haramain, yg di hinakan Utsmani, di jadikan tempat penyimpanan senjata perang mereka untuk membantai rakyat arab (jazirah Atab). Mufti Mekah dan Syarif Husein pada saat itu komprador (pengkhianat) Utsmani.

    Keluarga Al Saud dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, mengalami
    ~Pembantaian Al-Ras tahun 1817, Utsmani membunuh lebih dari 600 orang syuhada.
    ~Pembantaian Dhurma, tahun 1818, Ustmani membunuh lebih dari 800 orang syahid.
    ~Pembantaian Diriyah, tahun 1818, Ustmani membunuh lebih dari 1300 orang syuhada.

    Mereka memenggal kepala penduduk Saudi dan memotong telinganya. Dengan imbalan 50 Qirsh perkepala dari Ibrahim Pasha.

    ~Ustmani meng-eksekusi warga Saudi dengan meriam dengan menempatkannya dimulut meriam.

    Di antara orang-orang yang terkenal di-eksekusi dengan cara ini adalah:

    •Syaikh Sulaiman Al-Syaikh
    •Syaikh Al-Araini
    •Syaikh Saleh Al-Harbi
    •Dll.

    ~Malapetaka Safarberlik tahun 1917.

    Dimasa itu terjadi deportasi besar²an penduduk Madinah Al-Munawarrah, diangkut dengan kereta api Hijaz. Atas perintah penjagal Utsmani, Fakhri Pasha.

    ~Dan Ustmani merubah Masjid Nabawi Al-Syarif, menjadi barak militer, tanpa menghormati kesucian Masjid Nabi. Atau menghormati jasad suci Nabi Muhammad ﷺ.

    ~Setelah bantai penduduk (dan mengusirnya malam hari dlm keadaan lusuh) dan memporak porandakan Madinah, Imam Abdullah al Saud, dibawa ke Mesir lalu ke Istambul. Disana disalib- diarak dan dipenggal dihalaman masjid (?) Hagia Stovia, ditonton sorakan pengunjung masjid (?), lalu kepalanya dibuang ke selat Bosporus… sebagian Hajar Aswad dicuri dan saat ini dipamerkan di Istambul (similar syiah Rafidhah Qaramithah th 317 H), sangat miris. Penguasanya (Otoman) tdk ada satupun yg menunaikan Haji dan semasa Otoman ibadah Haji dalam suasana mencekam, setiap saat nyawa melayang.

    Lebih dari itu, telah tercatat dalam sejarah berdarah Daulah Utsmani, dalam dua abad terakhir.

    Pada masa itu telah terjadi banyak kejahatan tertulis dan terkubur, dengan puluhan ribu rakyat Arab yang terbunuh. Sebagai korban pengkhianatan dan kebencian Utsmani.

    Antum perlu tahu…

    ~Jasa terbesar “Wahhabi” Arab Saudi bagi Umat Islam. Zaman Ahmad Zaini Dahlan, semrawutnya Masjidil Haram, terdapat lebih dari satu pengimaman di dalam pelaksanaan sholat berjama’ah?
    Raja Abdulaziz Al Saud satukan Shaff Shalat Di Masjidil Haram Makkah. Hal ini dimulai pada tahun 1343 H, sekitar 100 tahun yang lalu. Kalau tdk, bayangkan apa yg terjadi saat ini, akan dirusak Syiah Imamiyah dan ajaran sesat lainnya !!
    ~Abul Husain Muhammad bin Jubair Al Andalusi atau yang dikenal dengan Ibnu Jubair (w. 614 H/ 1217 M) menyebutkan dalam risalahnya yang berjudul Rihlah Ibni Jubair (h.78-79) bahwa di masa beliau, Masjidil Haram memiliki lima pengimaman.
    Empat pengimaman milik 4 madzhab Sunni: Syafi’i, Maliki, Hambali, dan Hanafi. Satu pengimaman milik madzhab Syiah Zaidiyyah. Hanya muaddzin Zaidiyyah yang mengumandangkan adzan agak berbeda. Mereka mengganti lafal ‘hayya ‘alal falah’ dengan ‘hayya ala khairil amal’, seperti yang dulu didengar di Kota Shon’a atau di Dzammar, Yaman.
    ~Ketika shalat berjamaah ditegakkan, maka mereka shalat berjamaah secara bergiliran berdasarkan perbedaan madzhab. Imam dari Madzhab Syafi’i didahulukan. Setelah selesai baru diikuti oleh jamaah madzhab lainnya, yakni madzhab Maliki hanafi dan atau Hambali secara bergantian.
    ~Mereka yang bermazhab Maliki tidak mau melaksanakan sholat kecuali kepada imam sholat yang bermazhab Maliki. Demikian juga mereka yang bermadzhab kepada madzhab lainnya.
    ~Semuanya melaksanakan sholat berdasarkan kelompok madzhab masing masing. Secara bergantian, walaupun mereka telah datang di Masjidil haram dari awal waktu sholat.
    ~Berbeda dengan shalat lainnya, di waktu Maghrib yang lebih sempit, shalat dilaksanakan secara berbarengan dengan imam masing-masing, yaitu dalam satu sholat berjamaah Maghrib ada 4 atau lebih orang imam sholat secara bersamaan.
    ~Hanya saja mereka tetap berkelompok berdasarkan madzhab masing masing, sehingga menurut Ibnu Jubair, sangat dikemungkinkan ada makmum shalat di belakang imam A tetapi mengikuti takbirnya imam B.
    ~Menurut Husain Basalamah dalam Tarikh Imarah Masjidil Haram (h.233), kekacauan dan perpecahan (pelaksanaan sholat) yang terjadi di antara kaum muslimin di Masjidil Haram ini terjadi di masa kekhalifahan Turki Utsmani.
    ~Sampai sekarang di bawah pemerintahan Kerajaaan Saudi Arabia, tidak ada lagi perpecahan dalam permasalahan pengimaman shalat, baik shalat lima waktu maupun shalat tarawih.

    Kecerdasan Politik Raja Abdul Aziz

    Tidak hanya itu, Raja Abdul Aziz bin Abdurrahman –rahimahullah– menenun aliansi seimbang dengan Barat demi menjaga kedaulatan dan kehormatan kerajaan. Beliau tidak serta‑merta menantang Barat secara frontal, melainkan memilih strategi politik yang cerdas.

    Akibatnya, ketika bangsa‑bangsa lain masih bergelut melawan penjajahan, Arab Saudi menulis bab baru dalam sejarah. Bab tentang tanah yang senantiasa mempertahankan kemerdekaannya karena rakyatnya memilih untuk merdeka.