Bantahan Ulama Terhadap Syekh Albani
Meskipun menyebut Syekh Albani sebagai muhaddits namun Dr. Mahmud Said Mamduh adalah sosok yang paling konsen mengkritisi dan membantah karya-karya Albani dalam bidang hadits.
Ada banyak hal yang disorot Syekh Mahmud Said terhadap karya-karya Syekh Albani, diantaranya:
(1) Pertama, ia membagi-bagi kitab Sunan yang empat kepada shahih dan dh’aif, lalu memisah-misahkannya.
Maka muncullah Shahih dan Dhaif Sunan Abu Dawud, Shahih dan Dhaif Sunan Tirmidzi, dan seterusnya. Tidak hanya untuk Sunan yang empat, hal itu juga dilakukannya pada buku-buku yang lain seperti al-Adab al-Mufrad karya Imam Bukhari dan lain-lain.
Sekilas hal ini tampak bagus. Umat dengan mudah bisa mengetahui mana hadits yang shahih dalam Sunan yang empat dan mana yang dhaif. Namun sesungguhnya hal ini sangat berbahaya. Kenapa?
Para imam pengarang kitab Sunan itu tentu punya maksud dan tujuan tersendiri dalam menulis karya tersebut. Mereka ingin menyajikan kepada umat hadits-hadits yang bisa dijadikan dasar dalam kehidupan seorang muslim, baik dalam hal akidah, ibadah maupun akhlak. Dan untuk ketiga tujuan utama itu yang dibutuhkan tidak hanya hadits yang shahih, tapi juga hasan dan bahkan yang dhaif.
Memisahkan hadits-hadits di dalam Sunan yang empat lalu membaginya kepada shahih dan dhaif jelas berbeda dengan tujuan pengarang kitab dalam mengarang kitabnya. Apalagi Albani berpendapat bahwa hadits dhaif tidak boleh diamalkan. Otomatis akan ada setengah dari hadits-hadits itu yang tidak diamalkan. Dan ini sangat berbahaya.
Sebenarnya Syekh Albani pernah diingatkan untuk tidak melanjutkan proyek ini. Ia menghargai peringatan itu. Tapi sayangnya ia tidak menghiraukannya.
Kitab al-Adab al-Mufrad karya Imam Bukhari pun dibaginya menjadi Shahih Adab Mufrad dan Dhaif Adab Mufrad. Padahal kalau mau, Imam Bukhari tentu lebih mampu untuk menulis Adab Mufrad dari hadits-hadits yang shahih saja. Namun ia tentu punya tujuan tersendiri ketika memasukkan hadits dhaif ke dalam kitab itu, sesuatu yang tidak dilakukannya terhadap kitab Shahih-nya.
Seorang peneliti bernama Muhammad Abdullah Alu Syakir mengungkapkan kekhawatirannya tentang proyek Albani ini dalam makalah yang berjudul: “Stop mempermainkan turats!” Ia menilai, apa yang dilakukan oleh Albani adalah sebuah ‘abats (kesia-siaan). Bagaimana tidak? Kitab yang ditulis oleh para ulama terkemuka di bidangnya dengan tujuan yang jelas ‘dipreteli’ oleh seseorang yang datang 11 abad setelah itu.
Yang lebih dikhawatirkan lagi adalah, dan ini sudah tampak di banyak tesis dan disertasi berbagai Perguruan Tinggi, generasi muslim akan terputus dari turats pendahulunya. Ketika seorang peneliti memuat hadits di dalam karya ilmiahnya, ia cukup menyebut: “Dishahihkan Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi,” atau “Didhaifkan Albani dalam Dhaif Sunan Abu Dawud”, dan mereka tidak merasa perlu merujuk ke Sunan Tirmidzi dan Sunan Abu Dawud secara langsung.
Akibatnya, generasi muda Islam semakin jauh dari pendapat ulama salaf yang mu’tamad dan penjelasan yang jauh lebih terpercaya. Karena setelah meriwayatkan satu hadits, Imam Tirmidzi biasa menambahkan penjelasan bahwa hadits tersebut diriwayatkan juga dari jalur A dan B. Kemudian di bagian akhir, beliau biasa menyebutkan apa yang diamalkan oleh ulama dalam masalah tersebut. Semua mutiara berharga ini akan hilang ketika seorang peneliti mencukupkan diri dengan merujuk pada Shahih Abu Dawud dan Dhaif Abu Dawud-nya Albani.
(2) Kedua, ‘kelancangan’ Albani dalam mengoreksi sanad hadits yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Parahnya, hal itu ia dan lakukan dengan kalimat yang begitu enteng, misalnya ia berkata dalam Adab az-Zifaf:
حديث ضعيف فى صحيح مسلم
“Hadits Dhaif di Shahih Muslim.”
Lebih berani lagi ia berkata dalam Irwa` al-Ghalil:
ضعيف وإن أخرجه مسلم
“Lemah, meskipun diriwayatkan oleh Muslim”.
Memang, bukan hanya Syekh Albani yang mendhaifkan hadits-hadits yang terdapat dalam Shahih Muslim. Syekh Abdullah bin Shiddiq al-Ghumari juga melakukan hal tersebut dalam bukunya الفوائد المقصودة فى بيان الأحاديث الشاذة المردودة . Namun, jumlah hadits dalam Shahih Muslim yang di-dhaifkan Syekh Abdullah tidak seberapa, dan itu melihat kepada matan-nya yang menurut beliau adalah syadz. Sementara yang dilakukan Syekh Albani adalah mendhaifkan hadits-hadits dalam Shahih Muslim dari segi sanad dan matan sekaligus.
Ketiga, ketidak-konsistenan Albani dalam menilai sanad sebuah hadits. Di satu kesempatan, sebuah sanad dinilainya lemah, tapi di kesempatan yang lain, sanad yang sama dinilainya shahih. Karena itulah Syekh Hasan as-Saqqaf menulis sebuah buku yang berjudul تناقضات الألباني .
*
Menyebut Syekh Albani sebagai muhaddits tidak berarti menerima apalagi menyanjung setiap pendapatnya. Jangankan muhaddits, Imam Bukhari saja yang sampai ke level Amirul Mukminin fil Hadits masih dikritik oleh ulama hadits di zamannya dan bahkan zaman setelahnya.
Yang perlu digaris-bawahi adalah kritik dan bedah pendapat serta ijtihadnya. Adapun profesinya sebagai tukang reparasi jam, semestinya tak menjadi sasaran kritik. Bahkan itu menjadi poin tersendiri baginya karena ia mendapatkan rezeki dengan cara yang halal, iffah dirinya dari meminta-minta, dan kemampuannya menggabungkan antara thalabul ilmi dan thalabul rizqil halal.
والله تعالى أعلم وأحكم








Siapa sih yg ngasih otoritas si Albani ini mendhaif²kan dan menshahih2kan hadits…???