Presiden Trump menyerang Gubernur New York Kathy Hochul karena mengenakan hijab saat berkunjung ke sebuah masjid

Presiden Donald Trump menyerang Gubernur New York Kathy Hochul setelah Hochul mengenakan hijab saat mengunjungi Islamic Cultural Center di wilayah Bronx, New York.

Melalui platform media sosial miliknya, Trump menyebut tindakan Hochul tersebut sebagai langkah yang “GILA” (CRAZY) dan menuduhnya tengah berupaya keras demi “meraup suara dari komunitas Arab”.

Perseteruan ini mencuat di tengah terus menguatnya retorika anti-Muslim dalam kancah politik Amerika menjelang pemilihan umum sela (midterm elections) yang akan digelar 3 November 2026.

Respons Kathy Hochul

Gubernur New York dari Partai Demokrat tersebut langsung membalas kritikan Trump. Melalui pernyataan resminya, Kathy Hochul menegaskan bahwa dirinya tidak akan pernah meminta maaf karena telah memperlakukan masyarakat dari latar belakang agama apa pun dengan penuh rasa hormat dan martabat.

Detil Kejadian

Pada hari Jumat 28 Agustus 2026, Gubernur New York Kathy Hochul mengunjungi Islamic Cultural Center (ICC) di Bronx untuk menghadiri salat Jumat, berbicara kepada para jemaah, dan bertemu dengan para pemimpin komunitas Muslim setempat. Selama kunjungan tersebut, ia mengenakan kerudung atau hijab hitam di atas setelan formalnya sebagai bentuk penghormatan terhadap adat dan tradisi tempat ibadah tersebut.

Kunjungan rutin ini kemudian memicu kontroversi politik yang luas setelah video kehadirannya menjadi viral di media sosial. Tanggapan publik terbagi menjadi dua sudut pandang utama:

  • Kritik: Tokoh-tokoh konservatif dan loyalis gerakan MAGA (Make America Great Again) mengkritik keputusan Hochul. Mereka menilai tindakan tersebut bertolak belakang dengan identitasnya yang mengklaim diri sebagai seorang ikon feminis liberal, serta menuduhnya tunduk pada pembatasan hak-hak perempuan dalam budaya tertentu. Beberapa pihak juga mengaitkan waktu kunjungan yang berdekatan dengan peringatan tragedi 11 September.
  • Dukungan: Di sisi lain, para pemimpin komunitas Muslim, aktivis hak-hak sipil, dan pendukungnya membela tindakan tersebut. Kelompok yang membela tindakan Hochul menilai gelombang serangan ini sebagai manifestasi dari Islamofobia. Mereka menekankan bahwa mengenakan penutup kepala di rumah ibadah merupakan bagian dari etika umum di berbagai belahan dunia. Mereka menegaskan bahwa mengenakan penutup kepala di dalam masjid merupakan bentuk kesopanan dasar, etika budaya, dan penghormatan terhadap keragaman agama di New York, bukan merupakan bentuk pemisahan diri maupun kompromi ideologis. Mereka juga merujuk pada preseden historis di mana mantan Ibu Negara Laura Bush dan Ivanka Trump juga pernah mengenakan kerudung saat mengunjungi masjid di Timur Tengah.

Bukan yang Pertama Kali

Hochul sebelumnya pernah mengenakan penutup kepala serupa pada Juli 2025 sebagai bentuk penghormatan saat menghadiri pemakaman Didarul Islam, seorang perwira polisi Muslim NYPD yang gugur dalam tugas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 komentar

  1. Disitu lah anehnya, terwo termul keturunan cina di konoha, nyerang Oposisi dgn gelar Kadrun. Pada faktanya 1 gurun di Arab dihuni oleh 22 negara arab
    Sedangkan CHINA memiliki 3 gurun pasir di dunia Gurun Badain Jaran (mongolia), Gurun Taklamakan (Uyghur) dan Gurun Gobi (mongolia)
    julukan Kadrun itu IRONIS, satu jari nunjuk islam/arab tapi empat jari nunjuk dirinya sendiri