Cacat Dalam Pikiran

Cacat Dalam Pikiran

✍️Made Supriatma

Korban keracunan MBG terus bertambah. Data-data yang masuk tidak saja mengindikasikan bahwa keracunan itu berkurang tapi tampaknya malah meningkat.

Mengapa ini terjadi?

(1) Banyak orang meletakkan kesalahan pada manajemen SPPG. Itu hanya sebagian penyebab. Desain MBG memang adalah untuk mencari untung para investor. Karena rancangannya adalah mencari untung maka para investor ini berlomba untuk menekan harga.

MBG menjadi bisnis yang menguntungkan. Ia hanya bergizi untuk para investor.

(2) Soal kedua, seperti program dan kebijakan pemerintahan Prabowo lainnya, pengawasan hampir tidak ada. Kalaupun ada, sangat lemah. Program-program ini bersembunyi di balik ketiak nasionalisme atau moral agama.

(3) Soal ketiga adalah transparansi. Kita jarang mendengar siapa menjadi pemilik SPPG yang bermasalah kan? Juga para pemilik lainnya. Tanpa informasi tentang pemilik sangat sulit untuk meminta pertanggungjawaban.

Para pemilik SPPG adalah orang-orang sakti. Mereka dilindungi. Karena sebagian besar dari mereka adalah kroni-kroni rejim.

(4) Soal keempat adalah kepala BGN. Sudaryono jelas tidak mampu. Dia pintar berkata-kata namun tidak ada kekuatannya. Saya kira tidak ada yang takut dengan Sudaryono.

Saya paham, dia harus menghadapi pemain-pemain besar. Dukungan politik dari Presiden saja tidak cukup. Dan kemampuan politiknya juga belum sampai ke sana.

Sudaryono masih seorang Letkol yang harus mengerjakan pekerjaan jendral senior macam Luhut Panjaitan. Kalau kita mau realistis, BGN harus dipimpin oleh orang sekaliber Luhut.

Walaupun saya kira, keberhasilannya juga kecil. Artinya, bahkan orang se kaliber Luhut sekali pun tidak akan mampu mengkomando BGN.

Desain program ini sudah cacat dari sejak dalam pikiran. Ia tidak mau melibatkan para stakeholder yang paling berkepentingan: sekolah, komunitas, birokrasi, dan lembaga-lembaga pengawas.

Lalu bagaimana jalan keluarnya? Menurut saya, Sudaryono harus mundur, BGN harus dibubarkan, dan kalau mau ada program makanan bergizi maka itu harus ada desain yang sama sekali baru.

Kalau tidak, korban akan terus berjatuhan. Sampai kapan akan terus begini? 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

21 komentar

    1. Salah satu sumber problem bangsa adalah oposan fomo semacam anda yg ga mampu berfikir runut. Mampu nya hanya berfikir apa yg nampak depan mata.
      Londo ireng demen banget membakar semangat orang2 fomo

  1. Anonim ANJING KURAP TerWo tetap bertahan kalau MBG itu program terHEBAT dari junjungan sekaligus sesembahannya si mbah GendruWO Wowo aNTEK asing Gemoy omon omon untuk tujuan menyehatkan anak Indonesia. Kalau ada yang korupsi itu adalah OKNUM

    Hdeehhh…kalau orang netizen pintar mengingatkan gerombolan MISKIN, BODOH seperti si Anonim TerWo ini memang gak akan masuk dalam otaknya…ngoahahaha…😂

  2. harusnya pak wowo jadi presiden di 2019 saya pikirannya masih lurus dan tajam . Skg jelas udah beda, mungkin faktor U terutamanya, dan mungkin juga dperparah dengan lingkungannya juga..emang udah nasib warga indon keknya

  3. MBG itu usaha negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kalau ada keracunan bukan stop makanan nya, perbaiki kualitas makanan nya
    Penjajah dan londo ireng mau nya indonesia tetep bego, makanya disini banyak oposan fomo

        1. pendidikan tetap nomor satu. jaman dulu banyak org melarat & kelaparan tapi rajin belajar, toh jadi org pintar nan sukses. lha jaman skrg anggaran mbg udah jumbo, jd pinter blmntentu, tp ribuan kasus keracunan udah terjadi. inisiator ama buzzernya tetep denial nolak fakta

          1. Berarti usaha yg menyajikan makanan baik warteg, resto, katering pabrik, nikahan juga bisa di pidana jika ada kasus keracunan
            ga cukup dengan boikot atau ganti katering ?

        2. gini ye, org lapar yg rajin belajar ttp bisa jadi pinter. org makan gajelas kandungan gizinya, g jelas keamanan pangannya, trus situ bilang bikin pinter? muntaber yg ada 🤣🤣🤣

          1. berapa % kemungkinan orang lapar dan rajin belajar bisa jadi pinter
            berapa % kemungkinan orang kagak lapar dan rajin belajar bisa jadi pinter