Surga Bertambah Luas Dengan Sholawat

Imam Yusuf bin Ismail al-Nabhani membahas perkara ini dalam kitab Sa‘adat al-Darayn fi al-Salah ‘ala Sayyid al-Kawnayn.

Imam Yusuf bin Ismail al-Nabhani (1849–1932 M) adalah seorang ulama besar Sunni, qadi (hakim ketua), penyair produktif, dan pembela Kekhalifahan Ottoman asal Palestina. Beliau dikenal luas sebagai ulama yang sangat mencintai Nabi Muhammad ﷺ, zuhud, dan menentang gerakan modernisme sekuler serta pemikiran barat pada zamannya.

Beliau mencantumkannya di bawah judul al-Mas’alah al-Thalithah ‘Ashrah fi Kawn al-Jannah Tazid bi al-Salah ‘alayhi Sallallahu ‘alayhi wa Sallam, yang berarti “Permasalahan Ketigabelas mengenai Keadaan Surga yang Bertambah Luas melalui Shalawat kepada Nabi SAW.”

Imam Yusuf al-Nabhani mengutip informasi ini dari bab kesebelas kitab al-Ibriz min Kalam Sayyidi ‘Abd al-‘Aziz al-Dabbagh. Kitab tersebut disusun oleh Ahmad bin al-Mubarak al-Lamati al-Sijilmasi berdasarkan perkataan gurunya, Syekh ‘Abd al-‘Aziz al-Dabbagh.

Ahmad bin al-Mubarak berkata: Aku mendengar beliau—semoga Allah meridhai-Nya—berkata:

Sesungguhnya, bershalawat kepada Nabi (shallallahu ‘alayhi wa sallam) merupakan zikir bagi para malaikat yang berada di bagian paling luar Surga. Salah satu keutamaan bershalawat kepada Nabi (shallallahu ‘alayhi wa sallam) adalah bahwa setiap kali mereka mengucapkannya, Surga pun meluas. Mereka tidak berhenti bershalawat dan Surga terus meluas. Mereka bergerak dan Surga pun bergerak bersama mereka.

Surga tidak berhenti meluas hingga para malaikat beralih melakukan tasbih (penyucian/pengagungan). Mereka baru beralih melakukan tasbih ketika Allah SWT menampakkan tajalli-Nya kepada para penghuni Surga. Saat tajalli ini terjadi dan disaksikan oleh para malaikat, mereka mulai bertasbih kepada-Nya. Ketika mereka mulai bertasbih, Surga berhenti meluas dan tempat tinggal para penghuninya menjadi tetap.

Seandainya para malaikat terus-menerus bertasbih sejak mereka diciptakan, Surga tidak akan meluas. Hal ini termasuk dalam keutamaan bershalawat kepada Nabi (shallallahu ‘alayhi wa sallam). Ahmad bin al-Mubarak kemudian bertanya kepada Syekh ‘Abd al-‘Aziz al-Dabbagh:

“Aku bertanya kepadanya—semoga Allah meridainya—: Mengapa Surga meluas karena ucapan selawat kepada Nabi SAW, sedangkan hal ini tidak terjadi pada bacaan tasbih dan zikir lainnya?

Syekh ‘Abd al-‘Aziz al-Dabbagh menjawab:

“Hal itu karena asal-usul Surga berasal dari cahaya Nabi SAW. Surga merindukan beliau sebagaimana seorang anak merindukan ayahnya. Ketika Surga mendengar nama beliau disebut, Surga menjadi segar dan bergerak cepat ke arah beliau karena ia menerima limpahan karunia dari sosok agung tersebut (Nabi SAW).”

Syekh ‘Abd al-‘Aziz al-Dabbagh kemudian memberikan perumpamaan tentang seekor hewan yang sangat menginginkan makanan, berupa rumput dan jelai. Jelai disodorkan kepada hewan tersebut saat ia sedang sangat lapar. Ketika mencium aroma jelai itu, hewan tersebut segera mendekatinya. Jika jelai itu dijauhkan, hewan itu akan terus mengikutinya hingga berhasil mendapatkannya.

Beliau berkata:

“Demikianlah keadaan para malaikat yang berada di bagian terluar dan di pintu-pintu Surga. Mereka senantiasa menyebut nama Nabi SAW dan berselawat kepada beliau. Surga merindukan penyebutan nama itu dan bergerak ke arah mereka. Para malaikat berada di seluruh penjuru Surga. Oleh karena itu, Surga meluas dari segala arah.”

Syekh ‘Abd al-‘Aziz al-Dabbagh melanjutkan penjelasannya:

“Seandainya bukan karena kehendak dan larangan Allah, niscaya Surga akan keluar menuju dunia pada masa kehidupan Nabi SAW. Surga akan menyertai beliau ke mana pun beliau pergi dan bermalam bersama beliau di mana pun beliau bermalam. Namun, Allah SWT mencegah Surga untuk keluar menemui beliau agar keimanan kepada beliau SAW tumbuh melalui keyakinan terhadap hal yang gaib.”

Beliau juga menggambarkan keadaan Surga ketika Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya memasukinya:

Ketika Nabi SAW dan para pengikutnya memasuki Surga, Surga bersukacita menyambut mereka. Surga diliputi kegembiraan dan kenikmatan yang tak terhingga. Namun, ketika para nabi lain beserta umat mereka memasukinya, Surga menjadi lebih kecil dan menyusut.

Mereka bertanya kepada Surga mengenai keadaan tersebut. Surga menjawab: “Aku bukan berasal dari kalian dan kalian bukan berasal dariku.” Situasi ini berlanjut hingga persoalan tersebut diselesaikan melalui nabi-nabi mereka yang menerima berkah dari Nabi Muhammad SAW.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar