𝗦𝗮𝗿𝗮𝗻 𝗬𝗮𝗻𝗴 𝗕𝗮𝗶𝗸 𝗜𝘁𝘂 𝗠𝗮𝘀𝗶𝗵 𝗔𝗱𝗮 𝗗𝗶 𝗙𝗮𝗰𝗲𝗯𝗼𝗼𝗸
Oktober 2015, waktu kabut asap besar, seorang “tokoh oposisi” menulis status Facebook.
Isinya bagus. Serius, saya nggak nyindir. Empat sarannya masuk akal semua:
- Satu, naikkan status jadi bencana nasional biar penanganan maksimal.
- Dua, bentuk kementerian khusus bencana seperti di Rusia.
- Tiga, pakai teknologi satelit untuk deteksi titik api, “dengan begitu kebakaran hutan dapat dicegah.”
- Empat, aparat harus berani investigasi supaya pembakar hutan dihukum.
Status itu dibagikan 1.600 kali.
11 tahun berlalu. Mari kita cek realisasinya, satu per satu.
Saran satu: status bencana nasional.
- Realisasi 2026: status tidak dinaikkan.
- Kabar resminya, karhutla “dapat segera dikendalikan.”
Saran dua: kementerian khusus bencana.
- Realisasi: bukannya naik kelas jadi kementerian, lembaga bencana yang sudah ada anggarannya justru jadi yang terendah dalam 15 tahun.
- Badan yang khusus menjaga gambut malah dibubarkan.
Saran tiga: satelit pendeteksi titik api.
- Nah, yang ini terlaksana sempurna. Satelitnya bekerja luar biasa: 1.487 titik terdeteksi, presisi sampai satuan, diumumkan tiap pagi.
- Cuma bagian “dengan begitu kebakaran dapat dicegah”-nya yang belum sempat.
Saran empat: investigasi berani.
- Realisasi: 12 tersangka dalam sepekan. Setelah apinya menyala.
Dan di sinilah letak keindahannya: penulis status 2015 itu, hari ini, adalah satu-satunya orang di republik ini yang punya kewenangan penuh untuk menjalankan keempat sarannya sendiri. Tidak perlu meyakinkan siapa-siapa. Tinggal tanda tangan.
Kenapa keempat saran bagus itu berhenti jadi kenyataan justru ketika penulisnya paling berdaya menjalankannya, itu bukan pertanyaan satir. Itu pertanyaan sistem. Jawabannya panjang, dan sudah saya tulis di esai 𝘒𝘢𝘭𝘪𝘮𝘢𝘯𝘵𝘢𝘯𝘬𝘶: 𝘈𝘱𝘪 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘉𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪 𝘋𝘪 𝘎𝘢𝘳𝘪𝘴 𝘉𝘢𝘵𝘢𝘴 di https://tulis.simei.uk/kalimantanku-api-yang-berhenti-di-garis-batas/
Status 2015 itu masih bisa dibaca sampai hari ini.
Wallahu a’lam bishshawab.
(Ruly Achdiat Santabrata)






