Orang Saudi Dan Keberhasilan Negaranya
Oleh: Hartono Subirto (WNI yang pernah kerja di Saudi)
1. Dahulu, waktu bekerja di Indonesia ketika atasan datang ke ruangan, sekejap semua staf seperti orang sibuk bekerja apa saja, yang di depan computer langsung buka excel atau word atau ppt atau aplikasi kantor seperti sedang ada yang dikerjakan.
Hal itu tidak terjadi saat bekerja di Saudi, tepatnya di Kementrian tempat saya bekerja. Orang Saudi kalau ada atasan datang, ya biasa saja. Paling mereka berdiri untuk bersalaman, lebih itu duduk lagi. Kalau memang lagi gak ada yang dikerjakan, ya gak berusaha seperti sibuk, yang lagi nonton youtube, yang lagi ngobrol atau yang lagi browsing ya lanjutkan saja. Orang Saudi punya pemahaman tentang sebuah keberhasilan dari pekerjaan, yaitu apabila apabila suasana kantor santai dan rileks. Namun apabila suasana kantor terlihat sibuk dan panik maka ada sesuatu yang tidak beres. Kalaupun bisa diatasi, ini tidak disebut keberhasilan
2. Bagi yang pernah bermain proyek di pemerintahan Saudi, pasti tahu bahwa data semua pelaku proyek akan di masukkan kedalam sistem pencegahan korupsi. Setiap tahap proses dari mulai tender sampai commissioning akan dimonitor oleh sistem dari Lembaga Anti Korupsi Saudi (nazaha). Orang Saudi sangat patuh mengikuti aturan yang dimonitor oleh sistem ini. Pernah saya coba idekan sebuah cara untuk menyimpang, sekejap mereka memarahi saya… 🙂 . Bagi orang Saudi, sistem nazaha adalah keberhasilan pemerintah dalam mencegah perbuatan korupsi. Sementara menangkap pelaku korupsi dijadikan sebagai kegagalan, dan sistem yang harus segera diperbaiki.
3. Teman saya orang Saudi memiliki kakak seorang tentara. Suatu hari sang kakak dikabarkan gugur dalam pertempuran di Yaman Utara. Saat saya melayat ke rumah teman saya, tentu keluarga bersedih, namun tidak ada satupun anggota keluarga yang menangis atau terlihat sedih yang berlebihan. Pendek cerita, bagi orang Saudi kematian dalam tugas sebagai pengawal negara adalah bagian dari husnul khatimah. Tidak perlu diratapi apalagi disesali. Namun bagi orang Saudi, kalaupun perang itu dimenangkan oleh negara mereka, itu bukanlah keberhasilan. Keberhasilan sesungguhnya adalah tidak adanya perang. Disini kita bisa tahu, bahwa dalam beberapa situasi, Arab Saudi tidak ingin terlibat konflik dalam peperangan. Karena terjadinya peperangan adalah sebuah kegagalan sebuah negara.
4. Dahulu saat pandemik covid terjadi, Arab Saudi adalah satu-satunya negara yang terkenal keras melakukan pelarangan ini dan itu pada aktivitas warganya. Tujuannya adalah mencegah meluasnya penularan. Saya termasuk yang terpapar covid saat itu. Cerita saya tentang bagaimana penanganan covid di Arab Saudi viral dan sempat masuk media CNN Indonesia.
Namun yang saya takjub adalah ucapan perwakilan dari Kementrian Kesehatan saat menyampaikan sambutan sesaat sebelum kami boleh pulang. Beliau bilang, “Alhamdulillah, anda telah sembuh dan boleh kembali ke rumah, namun kesembuhan anda bukanlah keberhasilan kami. Karena kami telah gagal melindungi anda dari penularan. Untuk itu, kami mohon maaf…”. Deg… siapa yang tidak terharu…? kami berhasil melewati masa kritis dan sembuh, tapi mereka malah bilang itu sebuah kegagalan lalu meminta maaf…
Akhirnya sayapun berprinsip seperti orang Saudi, keberhasilan adalah apabila bisa mencegah terjadi kegagalan atau penyimpangan sehingga zero cases. Selama kegagalan atau penyimpangan masih terjadi walaupun bisa diperbaiki, maka itu bukanlah keberhasilan tapi perbaikan.
Salam,
(Hartono Subirto)







Keberhasilah AF dan makhluk2 hina laknat adalah bukan hanya menjilat tulang dari majikannya, tetapi sampai TAI dan semua najis-najis di Silit majikannya benar-benar bersih.
yang pertama di Saudi Arabia GK muluk2. hancurkan kesyirikan dan sebarkan tauhid. yang lain nyusul dgn sendirinya