MANHAJ ATEIS

Oleh: Ahsan Hakim

Tidak benar ateis pasti seorang pemikir, sebab yang pemalas juga banyak. Lebih banyak. Kita sering membayangkan mereka sebagai sosok intelektual yang memutuskan tidak percaya Tuhan setelah membedah teori Charles Darwin atau Richard Dawkins, misalnya. Padahal, realitasnya tidak selalu segagah itu.

Tidak semua ateis murni karena argumentasi sains, sebab ateis yang fungsi akalnya tidak genap juga tidak sedikit. Ketidakpercayaan pada Tuhan seringkali justru, adalah produk dari pengalaman hidup, bukan kesimpulan laboratorium. Sains tidak jarang dijadikan akal-akalan untuk pembenaran.

Kita mulai dari Estonia. Negara kecil di Eropa itu sering disebut sebagai salah satu tempat paling tidak beragama di dunia. Apakah masyarakatnya sekumpulan ilmuwan? Ya tidak. Ketika Uni Soviet berkuasa, pemerintah komunis menerapkan ateisme secara paksa. Sekolah dilarang mengajarkan agama, tempat ibadah ditutup. Akibatnya, generasi baru di Estonia tumbuh besar tanpa pernah mendengar ajaran agama. Mereka menjadi ateis bukan karena membaca jurnal-jurnal ilmiah, melainkan karena “buta huruf” soal agama.

Yang tak kalah sering, kasus-kasus ateisme lahir dari luka emosional.

Tidak sedikit kasus, orang berhenti percaya pada Tuhan karena ekspektasinya terjatuh di tengah jalan: pemuka agama yang dikaguminya melakukan kejahatan moral, orang saleh yang dipercayainya berkhianat, orang baik terdekatnya menipu, orang alim yang dikenalnya ternyata brengsek. Dan satu lagi, wanita salehah pujaannya menolak perasaan cinta darinya. Marah, kecewa, dendam, lalu dilampiaskan dengan membenci Tuhan.

Termasuk juga kasus-kasus penderitaan yang dialami dalam kehidupan.

Di sisi lain, uniknya, ada juga orang yang menjadi ateis karena hidupnya terlalu nyaman.

Di Swedia misalnya, terdapat konsep jaminan sosial yang sangat kuat. Pemerintah menanggung hampir seluruh kebutuhan warganya, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga masa tua. Ketika semua urusan perut dan masa depan sudah dijamin oleh sistem negara, fungsi psikologis Tuhan sebagai tempat mengadu tidak terlalu dibutuhkan. Orang-orang di sana menjadi ateis bukan karena mendadak cinta sains, melainkan karena hidup mereka sudah terlalu makmur untuk merasa butuh pada Tuhan.

Terakhir, fenomena ateisme yang murni urusan gaya hidup. Cukup banyak pemuda gaya-gayaan mendeklarasikan diri sebagai ateis hanya agar terlihat keren, modern, dan berpikiran terbuka. Mereka menyukai gagasan tentang kebebasan mutlak tanpa dikungkung oleh aturan moral agama. Mereka sebenarnya tidak pintar-pintar amat, tapi pilihan-pilihan katanya cenderung brutal dan seringkali menjadi hooligan bagi sosok ateis intelektualnya.

Pada akhirnya begini. Iman atau tidak iman seringkali mirip dengan pilihan pakaian. Ada orang yang memilihnya karena paham betul kualitas bahan dan sejarah desainnya. Namun percayalah, jauh lebih banyak orang yang memakainya hanya karena harganya murah, sedang tren, nyaman, atau sekadar ikut-ikutan lingkungan sekitar.

Jadi menjadi ateis itu, tidak mesti ber-IQ tinggi. Banyak juga manhaj-nya. Seringnya adalah mereka yang merasa lelah dengan hidup, kecewa pada manusia, atau sekadar malas dengan aturan agama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 komentar

  1. Menjadi atheis TIDAK MESTI ber IQ tinggi. Apalagi yang KEJAWEN kayak si Aris Wijayantolol alias ABAH DUKUN alias ISLAM ABANGAN alias KERE KESOT alias Roy Panci MUNAFIK islamophobia ODGJ akut MABUK ONANI, MABUK KEJAWEN, MABUK CABUL yang sangat jelas kualitas otaknya‼️😜🤣😝😂