Kalau Fathimah Seorang Cina Kristen?

✍️Kezia Dewi

Saya bukan pemuja Fathimah. Saya lebih melihat dia seperti saya melihat mahasiswa saya sendiri: masih sangat muda, tentu bisa salah, tetapi berani, cerdas, mampu mengartikulasikan kritik, dan menunjukkan kemampuan kepemimpinan yang baik. Sebagai dosen, justru anak muda seperti ini yang ingin saya lihat. Jangan matikan daya kritis mahasiswa Indonesia.

Tetapi ada sesuatu yang menarik dari serangan terhadap Fathimah. Ketika argumennya sulit dibantah, ketika dia berhasil memimpin aksi protes terhadap pemerintah, mulai dicari identitasnya. Arab. Berhijab. Lalu sekarang muncul tuduhan Syiah dan “agenda tersembunyi”, atau makian “pantas mahasiswi tolol, berhijab sih”, atau mulai ngatain “wajah Yaman”. Rasis banget pendukung – pendukungnya pemerintah.

Saya jadi membayangkan: bagaimana kalau ikon demonstrasi mahasiswa ini bukan perempuan Arab-Indonesia berhijab, tetapi perempuan China-Indonesia berkalung salib?

Apakah SOP-nya akan berubah menjadi: “Cina”, “Kristen”, “agenda aseng”, “tidak nasionalis”, dan seterusnya?

Kita pernahkan melihat bagaimana identitas bekerja sebagai senjata politik? Pada masa Orde Baru, keturunan China didorong menjauh dari politik. Setelah Reformasi ruang itu terbuka, tetapi ketika Ahok menjadi lawan politik yang kuat, identitas China dan Kristennya kembali menjadi sasaran. Ironisnya, setelah pengalaman Ahok dan mobilisasi 212, sebagian pendukung Jokowi kemudian membangun politik ketakutan yang lain yang berlawanan: minoritas harus takut pada Islamisme, sampai level paranoid. Narasi ini dipupuk oleh buzzer – buzzer politik Jokowi, misalnya dengan mempopulerkan sebutan “KPK Taliban”. Lalu berlanjut pada pemilu terakhir kemarin, ketika narasi – narasi takut terhadap “Islam”tadi turut menjerumuskan kita, sehingga sekarang kita punya Presiden yang membangkrutkan negara.

Saya mengerti ketakutan terhadap politik Islam yang intoleran. Saya sendiri tahu kasus – kasus kelompok Islamis yang ingin memaksakan keyakinannya kepada orang lain. Atau masa – masa habis reformasi ketika PK dan lalu PKS menjadi besar, serta tentu saja kasus Ahok dan 212.

Kalau dulu kita marah ketika Ahok dianggap mencurigakan karena dia Cina dan Kristen, bagaimana mungkin sekarang kita menggunakan logika yang sama terhadap seorang perempuan muda karena dia keturunan Arab, Muslim, dan berhijab? Rupanya yang nyerang Fathimah logikanya persis dengan bani 212.

Dalam politik Indonesia, ternyata yang berubah hanya targetnya.
Dulu: “Cina Kristen.”
Sekarang: “Arab, hijab, Syiah, Islamis.”

SOP-nya sama: ketika tidak suka politik seseorang, weaponize identitasnya.
Kalau tidak suka akan lebih baik kritik argumennya, kritik tuntutannya, kritik datanya kalau salah. Itu kalau otaknya mampu, kebanyakan sih membeo klaimnya pemerintah… Tetapi jangan jadikan etnis, agama, hijab, salib, atau asal-usul keluarganya sebagai alasan untuk menentukan apakah seorang anak muda Indonesia berhak bersuara. Hanya orang yang hidup seperti katak dalam tempurung yang mengira bahwa perempuan berhijab bodoh semua.

Yang juga muncul adalah argumentasi mengecilkan para mahasiswa, bahwa mereka masih muda, masih belum tahu apa – apa, jadi sebaiknya diam. Oh ya, mungkin pola pikir mereka masih belum sempurna, tapi jelas mereka tidak lebih bodoh daripada orang – orang yang lebih tua. Usia mereka sudah cukup untuk ikut bersuara bagi bangsa. Masih mendingan para mahasiswa itu peka terhadap fenomena – fenomena yang terjadi di sekitar mereka, yang menyebabkan mereka protes, daripada orang tua – tua, usia di atas 40 tapi cuma mampu menjilati dan menyeboki pemerintah!

Indonesia tidak membutuhkan mahasiswa yang takut berpikir karena sadar dirinya minoritas. Indonesia membutuhkan generasi muda, Arab, China, Jawa, Muslim, Kristen, berhijab ataupun tidak, yang merasa negara ini milik mereka sehingga mereka berani mengkritiknya.

(Kezia Dewi)

FB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 komentar

  1. Mantap Bu Dosen, biar para TUKANG CEBOK PEMERINTAH BUSA KEBUKA POLA PIKIRNYA, kalau mereka PUNYA OTAK, SOALNYA KEBANYAKAN MEREKA FAK PUNYA OTAK KARENA IQ 200 SEKOLAM
    WKWKWKWK

  2. kita berharap semoga apa yg dilakukan FA dkk tulus dan murni dari suara mahasiswa yg ingin mengkritisi n mengoreksi kebijakan pemerintah agar cita2 negara sesuai UUD 45 dan motto HUT RI 81 thn negara berdaulat, adil makmur terealisir