Pidato Kenegaraan:
“Saya dapat laporan…
Gempa besar di NTT merenggut puluhan nyawa dan merusak rumah serta fasilitas publik.
Kalau rakyat sedang berduka, kita tidak perlu pesta terlalu meriah.
Jadi kita batalkan acara Pesta Rakyat di Monumen Nasional
Kembang api bisa menunggu.
Anggarannya lebih baik membantu korban, sekolah, puskesmas dan rumah warga.
Kemerdekaan bukan soal seberapa besar pesta negara.
Kadang terlihat dari seberapa cepat negara datang ketika rakyat kehilangan segalanya.”
“Saya dapat laporan…
Rasio klaim BPJS sudah sekitar 108%.
Artinya tekanan pembiayaannya nyata.
Saya tidak mau solusi paling mudah hanya:
Rumah sakit ditekan.
Dokter diminta makin hemat.
Klaim disulit.
Kalau BPJS melindungi ratusan juta warga kita, fondasi keuangannya harus diperkuat.
Perbaiki tarif.
Cegah fraud.
Perkuat pencegahan.
Tambah pembiayaan bila memang perlu.
Jangan membuat pasien dan tenaga kesehatan bertengkar karena anggarannya kurang.”
“Saya dapat laporan…
Ada ibu hamil yang harus menempuh perjalanan 7–9 jam untuk sampai rumah sakit.
Saya sempat terpikir ambulans udara dan dokter terbang.
Itu berguna untuk keadaan darurat.
Tapi saya sadar:
Kalau jalan rusak, rumah sakit kurang alat, bank darah tidak ada, dokter spesialis tidak betah tinggal di daerah…
yang harus diterbangkan bukan cuma dokternya.
Anggaran juga harus diterbangkan ke sana.
Perbaiki akar masalahnya.
Bukan cuma transportasinya.”
“Saya dapat laporan…
MBG kembali membuat anak-anak sakit.
Di Karo bahkan ada murid yang mengalami penurunan kesadaran dan harus dirawat intensif.
Saya tidak mau menjawab:
“Program harus tetap jalan karena ini janji saya.”
Tidak.
Kalau makanan untuk anak justru berulang kali menjadi masalah keamanan pangan, saya akan hentikan dulu ekspansi SPPG baru.
Audit dapurnya.
Perbaiki sistemnya.
Anak-anak bukan kelinci percobaan kebijakan.”
“Saya dapat laporan…
Ternyata masih ada guru yang dibayar sekitar Rp500–900 ribu sebulan.
Saya sedih.
Mulai sekarang saya tidak mau hanya bilang guru adalah pahlawan.
Kalau mereka mendidik anak kita sepenuh waktu, negara juga harus menghargai mereka dengan penghasilan yang layak.
Saya minta anggaran ditata ulang.
Kurangi seremoni dan program yang kurang penting.
Naikkan kesejahteraan guru.
Pahlawan tanpa tanda jasa tetap butuh bayar kontrakan.”
“Saya dapat laporan…
Setiap saya pidato bisa membuat pasar ikut tegang. Bahkan memicu gelombang Meme Nasional.
Kalau ucapan saya pernah menambah ketidakpastian, saya minta maaf.
Mulai sekarang kalau bicara didepan publik saya akan lebih disiplin pada data dan naskah pidato.
Improvisasi boleh.
Tapi saya akan sangat berhati-hati, jangan sampai menimbulkan kehebohan yang tidak perlu.”
(Note ini hanya mimpi disebuah negara yang bawahannya berani melaporkan kebenaran)






