Ada sesuatu yang terjadi di Gaza yang sulit saya jelaskan tanpa membuatnya terdengar lebih terorganisir daripada kenyataannya.
Orang-orang di sana sangat ingin menunjukkan sesuatu yang baik. Sebuah tempat kecil di tepi laut yang telah dibersihkan seseorang. Sebuah kedai falafel. Seorang anak yang membuka kedai crepe mungil dan memasukkan Nutella ke dalam menu karena ia bisa melakukannya. Seseorang yang melukis papan nama di gerobak kopi, memasang beberapa lampu, dan menggunakan potongan kain untuk mengubah sudut reruntuhan menjadi tempat yang nyaman untuk duduk.
Orang Palestina ahli dalam hal ini. Berikan mereka hampir apa pun—atau bahkan hampir tidak ada apa-apa—dan mereka akan tetap menemukan cara untuk menjadikannya sesuatu yang bermakna.
Mereka memotretnya, menambahkan musik, mengunggah videonya, dan pesan yang sebenarnya ingin mereka sampaikan adalah: lihat, kami masih di sini, kami masih bisa menciptakan sesuatu. Saya mengerti alasannya. Banyak dari mereka masih muda. Mereka tidak ingin menghabiskan seluruh hidup mereka hanya dikenal sebagai orang yang membutuhkan bantuan. Mereka ingin bekerja, membangun sesuatu, dan merasa bangga akan asal-usul mereka.
Mereka tidak menginginkan belas kasihan.
Lalu di tempat lain, ada yang merekam seorang anak membawa jeriken air yang ukurannya hampir sebesar tubuhnya sendiri, sementara sang ayah duduk di dalam tenda, memikirkan cara mendapatkan obat untuk anaknya tanpa uang dan tanpa akses ke dokter. Itu juga bagian dari Gaza. Saya benci harus merekam hal seperti itu. Saya kenal orang-orang yang jauh lebih benci lagi melakukannya. Tidak ada yang ingin momen terburuk seseorang dijadikan konten, atau kelaparan diabadikan dalam foto. Namun, jika kita tidak menunjukkannya, orang-orang tidak akan paham apa yang sebenarnya terjadi. Jadi, kita pun memperlihatkan dapur umum, truk tangki air, dan antrean panjang.
Kemudian, seseorang mengunggah video kedai crepe tadi, dan sebuah akun dari Israel mengambilnya lalu berkata, pada intinya: lihat Gaza, mereka makan Nutella, mana buktinya ada kelaparan? Ada yang melihat pemandangan pantai dan menyimpulkan bahwa penderitaan di sana pasti dilebih-lebihkan. Sebuah usaha kecil-kecilan—yang mungkin akan tutup dalam seminggu karena tak ada orang yang punya uang—malah dijadikan bukti untuk menyangkal kenyataan bencana kemanusiaan yang sedang terjadi.
Dan kini, mereka yang berusaha menunjukkan bahwa kehidupan di Gaza masih terus berjalan harus khawatir bahwa kebahagiaan mereka sendiri akan dijadikan senjata untuk menyerang orang-orang yang sedang mengantre makanan di belakang mereka. Akhirnya, mereka pun berhenti mengunggahnya. Atau mereka mulai menjelaskannya, membelanya, atau meminta maaf karenanya. Itu juga merupakan bentuk kerusakan, dan lebih sulit dilihat daripada puing-puing bangunan.
Karena apa yang terjadi pada seorang anak ketika satu-satunya gambaran yang diinginkan dunia tentang rumahnya hanyalah kehancuran, kelaparan, tenda, antrean makanan, dan jeriken air? Pada akhirnya, saat ia berkata “Saya dari Gaza,” ia melihat gambaran yang langsung terbentuk di benak lawan bicaranya: abu, debu, dan tenda.
Mereka tidak mengenal anak yang bisa meracik kopi luar biasa itu. Mereka tidak mengenal gadis yang bercita-cita menjadi desainer, atau pemuda yang menghabiskan waktu tiga hari memikirkan cara mempercantik sebuah kedai meski tanpa modal apa pun. Mereka tidak mengenal siapa pun yang masih berusaha membangun kehidupan di sana.
Dan saya harus jujur di sini, karena bagian inilah yang paling penting. Sisi keindahan itu nyata. Penderitaan itu juga nyata. Keduanya tidak saling meniadakan, dan tidak seharusnya diperbandingkan untuk melihat mana yang lebih berat. Kedai crepe tidak menghapus kelaparan. Dapur umum tidak melenyapkan martabat seseorang. Tawa seorang anak tidak berarti tidak ada anak lain yang kelaparan di tempat lain dalam kota yang sama pada malam yang sama.
Dibutuhkan niat buruk yang khas untuk melihat satu foto dan berpura-pura bahwa foto itu menjelaskan segalanya. Masalahnya bukanlah orang-orang yang merasa bingung. Masalahnya adalah ada orang-orang yang ingin menjadikan satu kebenaran sebagai senjata untuk melawan kebenaran lainnya.
Saya tidak ingin kita menjadi begitu protektif terhadap citra Gaza hingga takut memperlihatkan apa yang sebenarnya dialami penduduknya. Saya tidak ingin sebuah video yang bagus membuat orang lupa akan keluarga yang tidak makan pada hari itu. Namun, saya juga tidak ingin foto dapur umum menjadi satu-satunya definisi tentang suatu bangsa, karena mereka yang menjalani kenyataan ini tidak bisa membelah diri mereka menjadi dua bagian seperti itu.
Mereka kelaparan, namun tetap menginginkan secangkir kopi yang nikmat. Mereka sedang berduka, namun tetap membuka usaha. Mereka menanti truk air saat fajar dan duduk di tepi laut saat malam tiba; tidak ada satu pun dari hal itu yang bertentangan. Begitulah wujudnya ketika seseorang tetap berusaha menjadi manusia seutuhnya, bahkan saat seluruh dunia di sekelilingnya sedang hancur berantakan. Mereka boleh saja ingin dipandang sebagai sosok yang membutuhkan bantuan, sekaligus sebagai sosok yang masih mampu membangun sesuatu. Keduanya.
Tidak seorang pun seharusnya dipaksa memilih sisi mana dari diri mereka yang boleh mereka tunjukkan kepada kita.
–FB–

*Hani Almadhoun adalah seorang aktivis kemanusiaan Palestina-Amerika yang menjabat sebagai Vice President of Philanthropy di UNRWA USA dan merupakan pendiri pendamping gerakan kemanusiaan Gaza Soup Kitchen. Ia dikenal luas secara global sebagai figur yang menggalang dana jutaan dolar untuk bantuan pangan dan logistik bagi warga sipil di Jalur Gaza. Ia kehilangan keluarganya akibat serangan udara Israel—saudara laki-lakinya, saudari iparnya, serta 4 anak mereka.







kadang miris melihat pihak2x yg membela palestina kebanyakan organisasi sipil maupun perorangan dgn dana terbatas justru pemimpin2x negara2x arab pura2x goblog pdhl goblog betulan menganggap palestina bertentangan dgn kepentingan mereka masing2x dan memilih menjauhi konflik zionis Asu dgn palestina bahkan untuk sekedar mengutuk tindakan biadab zionis aza pun tdk mau karena takut sm Asu malah membantu memberikan pangkalan mikiter di wilayahnya unt menyerang kelompok2x perlawanan zionis sungguh terlalu
Terima kasih telah memberikan pencerahan mengenai situasi yang begitu kompleks di Gaza. Saya penasaran dengan sumber-sumber yang Anda rujuk bagaimana Anda menentukan tingkat keandalannya? Apakah ada gd perkembangan terbaru yang mungkin memengaruhi narasi tersebut?