Pemerintah Arab Saudi secara resmi telah menghapus kalimat “المسلمون لن يتخلوا عن القدس” (“Kaum Muslimin tidak akan pernah menyerah atas Al-Quds/Yerusalem” dari buku teks Bahasa Arab kelas 11. Langkah ini merupakan bagian dari reformasi kurikulum pendidikan nasional yang lebih luas di bawah visi modernisasi kerajaan.

Berikut adalah poin-poin penting terkait perubahan kurikulum tersebut berdasarkan laporan pemantauan pendidikan terbaru:
Rincian Perubahan Kurikulum
- Penghapusan Kalimat Slogan: Kalimat mengenai komitmen untuk tidak menyerahkan Yerusalem yang sebelumnya digunakan dalam latihan menulis bahasa Arab kelas 11 kini telah ditiadakan.
- Perubahan Kosakata: Istilah bermuatan politik seperti “musuh Zionis” (the Zionist enemy) di buku Sejarah kelas 11 telah diganti menjadi istilah yang lebih netral secara hukum internasional, yaitu “pendudukan Israel” (the Israeli occupation).
- Revisi Peta Wilayah: Nama “Palestina” dihapus dari beberapa peta studi sosial yang mencakup wilayah kedaulatan Israel yang diakui secara internasional, dan wilayah tersebut kini dibiarkan tanpa nama.
- Penghapusan Bab Kontroversial: Bab mengenai teori konspirasi “Israel Raya” (Greater Israel) yang menuduh Israel berencana memperluas wilayah dari Sungai Nil hingga Sungai Eufrat juga telah dicabut dari kurikulum.
Konteks dan Tujuan Reformasi
- Sumber Data: Perubahan kurikulum ini diidentifikasi dan dipuji oleh IMPACT-se, sebuah lembaga swadaya masyarakat (NGO) pemantau perdamaian dan toleransi budaya dalam pendidikan yang berpusat di Israel dan London, yang meninjau 136 buku sekolah Saudi untuk tahun ajaran 2024–2026.
- Visi Saudi 2030: Reorientasi materi pendidikan ini didorong oleh kebijakan Putra Mahkota Mohammed bin Salman untuk mengikis konten ekstremisme, mempromosikan toleransi antaragama, serta membangun narasi moderasi.
- Sikap Politik Resmi: Kendati bahasa di dalam buku teks mengalami pelunakan demi nilai koeksistensi, secara diplomatik Kementerian Luar Negeri Arab Saudi tetap menegaskan posisi resminya: tidak akan ada normalisasi hubungan dengan Israel tanpa adanya pengakuan kedaulatan negara Palestina merdeka berdasarkan perbatasan 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.







JIL di tempat ka’bah berada, salah pemimpin memang bikin salah arah
innalillahi wainnailaihirojiun, astaughfirullah
ali bajrie ngumpet
lg ngupas bawang
Penghapusan kata ‘tidak akan pernah menyerahkan Al Quds” itu artinya “akan menyerahkan” atau ” akan membiarkan “
Ya, maklumin aja, klan Ben Saud kan sesama keturunan Yahudi…
bestie.. 😶😶😶