DUO ATEIS

✍️Muhammad Farid Maricar

Duo Hasan ini mungkin punya background yang sama, selain sama-sama punya nama Hasan. Kita semua tahu bahwa kata hasan dalam bahasa Arab berarti baik. Kita pun berprasangka baik, orang tuanya memberikan nama itu dengan harapan anaknya tumbuh menjadi anak yang baik. Tapi di sisi lain, kita tidak pernah benar-benar tahu pengalaman, lingkungan, bacaan, pergaulan, dan perjalanan hidup seseorang akan membentuk cara berpikirnya menjadi seperti apa.

Kalau membaca argumen dan cara mereka berpikir, saya yang dulu mungkin akan takut berkuliah di luar negeri, khususnya Jepang. Karena kebetulan mereka berdua lulusan Jepang, saya mungkin akan berpikir bahwa hidup di lingkungan internasional membuka peluang terjadinya asimilasi dengan budaya dan pemikiran luar yang pada akhirnya bisa menjauhkan seseorang dari Allah.

Kekhawatiran seperti itu menurut saya bukan sepenuhnya tanpa dasar. Saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana hidup di lingkungan internasional memang membawa banyak godaan yang sebelumnya mungkin tidak terlalu dekat dengan kehidupan kita. Ada teman Muslim yang perlahan meninggalkan shalat, bahkan Jumat, lalu masuk ke lingkungan pergaulan yang menjadikan minuman keras sebagai sesuatu yang biasa.

Kalau urusan ibadah yang terlihat saja bisa perlahan bergeser, apalagi perkara keyakinan yang memang tidak selalu bisa ditimbang dengan cara yang sama seperti kita menimbang benda di laboratorium.

Keberadaan Allah, kenabian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Isra Mi’raj, hari akhir, dan perkara ghaib lainnya memang berdiri di wilayah iman, walaupun tentu Islam juga mengajarkan manusia untuk berpikir, melihat tanda-tanda, dan menggunakan akalnya.

Di sinilah saya merasa penting membedakan antara berpikir kritis dan merasa bahwa semua hal harus tunduk kepada metode pembuktian yang sama.

Kalau saya sedang menghitung debit air, tentu saya butuh data. Kalau sedang melakukan penelitian, tentu saya butuh metode, pengukuran, analisis, dan bukti yang bisa diuji. Kalau membuat klaim ilmiah, ya jangan cuma berkata, “sing penting yakin.”

Tapi perkara iman memang tidak semuanya bekerja dengan logika empiris seperti itu. Kita tidak bisa menuntut semua perkara ghaib hadir dalam bentuk grafik, tabel, atau eksperimen laboratorium baru kemudian mau mempercayainya. Kalau syarat beriman adalah seluruh yang ghaib harus lebih dulu menjadi sesuatu yang kasatmata, mungkin makna iman sendiri menjadi kehilangan tempatnya.

Alhamdulillah, dalam perjalanan hidup saya justru banyak kejadian yang membuat saya tidak mengambil pola pikir bahwa semakin rasional seseorang, maka semakin jauh ia harus dari agama. Saya justru merasa keduanya bisa ditempatkan pada tempatnya masing-masing. Akal dan logika tetap dipakai. Bukti tetap dicari ketika memang wilayahnya menuntut bukti.

Tapi akal juga perlu rendah hati untuk mengakui bahwa tidak semua realita harus mampu dijangkau olehnya.

Ini mungkin yang paling terasa setelah lama hidup di luar negeri. Tinggal di Jepang tidak otomatis membuat seseorang menjadi lebih liberal, lebih sekuler, atau lebih jauh dari agama. Lingkungan memang punya pengaruh, tetapi manusia juga membawa fondasi, kebiasaan, guru, keluarga, bacaan, dan pilihan-pilihannya sendiri.

Bahkan dalam kasus saya, hidup jauh dari lingkungan Muslim justru beberapa kali membuat agama terasa lebih sadar dijalani. Karena ketika sesuatu tidak lagi menjadi kebiasaan kolektif, kita dipaksa bertanya kepada diri sendiri….

Saya melakukan ini karena memang yakin, atau hanya karena semua orang di sekitar saya juga melakukannya?

Mungkin karena itu, kekhawatiran terbesar saya terhadap kuliah di luar negeri sekarang bukan lagi sekadar takut “terpengaruh budaya asing”. Pengaruh memang ada di mana-mana, bahkan tanpa pergi ke luar negeri pun sekarang pemikiran dari seluruh dunia masuk lewat satu HP.

Yang lebih penting adalah seberapa kuat fondasi sebelum seseorang berhadapan dengan banyak pilihan.

Karena keterbukaan pikiran itu penting, tetapi keterbukaan tanpa fondasi juga bisa membuat kita menerima apa saja hanya karena terdengar baru dan intelektual. Sebaliknya, keyakinan tanpa kemauan belajar juga bisa berubah menjadi fanatisme yang takut terhadap pertanyaan.

Maka mungkin yang kita butuhkan bukan memilih salah satunya. Berpikir kritis tanpa kehilangan iman, dan beriman tanpa mematikan akal.

Bagi saya, justru di situlah tantangannya. Semakin jauh kita berjalan dan semakin banyak pemikiran yang kita temui, semoga bukan semakin merasa paling tahu, tetapi semakin sadar bahwa akal manusia punya kemampuan sekaligus keterbatasan.

Dan mungkin pertanyaan pentingnya bukan, “Apakah kuliah di luar negeri akan mengubah keyakinan seseorang?”

Tapi, “Ketika keyakinan kita akhirnya benar-benar diuji oleh lingkungan dan pemikiran yang berbeda, seberapa dalam sebenarnya fondasi yang sudah kita bangun?”

Wallahu’alam bish showab.

 -FB-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

7 komentar

  1. ya kalo perjalanan manusia yo saya ga percaya, lha ini kan manusia sempurna yang diperjalankan sama gusti alloh, yo saya sangat percaya, kalo dari gusti alloh, lebih dari itu yo saya percaya satus persen

  2. Y betul diibaratkab ada seekor semut dari bandung ke jakarta pergi cuma menempuh waktu 2 jm karna naik kereta bukan berjalan kaki sama isro miroj nabi kesidrotul muntaha dlm waktu singkat karna allah yg kuasa yg menjalankannya

  3. Diduniia ini ga ada yg ga mungkin
    Bisa jd aris af ngentot preman kampung berubah jd kaya trus makannya yg yadinya makan tai menjadi makan nasi siapa tau

  4. makanya kuliah di luar negeri drun biar bisa tau pemikiran2 begituan, jgn kayak kadal dalam tempurung kerjanya liat2 fyp tiktok sama reels doang makanya akal kalian jadi minim

    1. heh kesot pesek, makanya jangan nyembah pohon mulu, jadi bego kan lu, dan bikin negara susah maju wkwkwkwk
      kadrun itu negara maju dan kaya, amerika, china, australia, isriwil, arab termasuk yordania juga yaa, wkwkwk
      minimal kalo mau ngata”in kadrun ya jadi negara kaya atau negara maju dulu lah.