Tarik terus Pak Pur

Saya baca pernyataan Menkeu Purbaya soal pajak baru di 2027 kalau ekonomi tumbuh 6%.

Saya coba pahami logikanya, Purbaya bilang ruang pajak baru terbuka lebar kalau pertumbuhan dua kuartal berturut-turut tembus 6 %.

Target penerimaan pajak 2027 sendiri udah dipatok Rp2.591,4 T naik 12,1 % dari tahun ini.

Jadi skenarionya begini: Pemerintah kejar pertumbuhan 6%, pakai itu sebagai pembenaran, lalu tarik pajak baru.

Ini bukan soal daya beli masyarakat yang Purbaya sebut-sebut, tapi soal gimana menambal defisit Anggaran akibat program-program besar yang selama ini digeber seperti MBG dan Kopdes.

Saya khawatir ini yang disebut “rekayasa pertumbuhan”.

Pertumbuhan yang dipaksakan lewat belanja konsumtif, bukan dari perputaran ekonomi rakyat.

Ini seperti orang yang paksa badannya gemuk biar bisa bilang “sehat”, padahal di dalamnya kosong.

Tahun ini pertumbuhan kuartal I 5,61%, tapi rakyat di bawah masih merasakan beban ekonomi yang berat.

Kalau pertumbuhan 6% itu hanya angka di atas kertas, lalu dipakai sebagai alasan untuk pajak baru, yang terjadi bukan sejahtera, tapi beban ganda.

Rakyat yang pendapatannya gak naik, malah harus bayar pajak lebih banyak.

Saya setuju, negara butuh penerimaan. Tapi jangan jadikan pertumbuhan 6% sebagai kambing hitam untuk membenarkan pungutan baru.

Pertumbuhan ekonomi yang sehat seharusnya diikuti daya beli yang naik, bukan malah dijadikan alasan untuk menarik lebih banyak uang dari rakyat.

(M Maki)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

11 komentar

  1. kalau kenaikan pajak misalnya hanya 1% saja, akan terjadi efek domino. seandainya dalam sehari kita belanja kebutuhan hidup 6 item maka kenaikan pajak yang kita bayar sebesar 6%. bagaimana dengan besaran kenaikan gaji karyawan, kalau kenaikan gaji karyawan dibawah 6% daya beli pun menurun, akhirnya… tidak menutup kemungkinan akan terjadi inflasi.

    untuk menaikkan pemasukan negara dari sektor pajak, yang harus dilakukan pemerintah adalah meningkatkan pula daya beli masyarakat secara permanen (pemberdayaan), bukan pengucuran dan pengocoran bansos. jika daya beli (pendapatan) masyarakat meningkat maka pemasukan negara dari sektor pajak pun meningkat

  2. pertumbuhan ekonomi 6% (rata²) dalam ekonomi makro, di ekonomi mikro akan terlihat kesenjangan. pertumbuhan ekonomi para oligarki sudah bisa dipastikan besar, misalkan 10%, pertumbuhan ekonomi rakyat jelata sisanya (2%)

  3. what pertumbuhan 6%⁉️⁉️
    Wah ini efek dari banyaknya kontribusi gerombolan ANJING-ANJING KURAP PENJILAT TerMul dan TerWo BabRun alias Babi guRun Jaringan ANak CUcu Keturunan (JANCUK) PKI yang sekarang sudah banyak beralih profesi jadi BURUH PENGUPAS BAWANG yang bergaji 700.000 per kg sehingga menyebabkan pertumbuhan ekonomi negeri ini sangat sehat‼️

    Selamat gue ucapin kepada ANJING-ANJING KURAP PENJILAT TerMul dan TerWo yang sekarang sudah jadi BURUH PENGUPAS BAWANG:
    1. Aris Wijayantolol alias ABAH DUKUN alias ISLAM ABANGAN alias KERE KESOT MUNAFIK islamophobia ODGJ akut, MABUK ONANI, MABUK KEJAWEN, MABUK CABUL
    2. Anonim TerWo (Akal Nol, Otak miNim, Ternak GendruWO Wowo)
    3. EBeneZER SituMORANG ( Enak Bener jadi buZER, Situ Memang Otaknya kuRANG)
    4. Albert Timodius Saragih
    5. Rangga MilanBlues Saryatama
    6. Kentung Kwng
    7. Federico Valverde preman KAMPUNGAN
    8. Enzot Fernandez pemain tarkam TERGOBLOK sedunia
    9. si win/Edwin Cakra CEKER
    10. Judi Belingham
    11. Lionel SukaONANI
    12. Farah “otak parah” Fariha
    😜😂😝🤣😅

  4. apapun alasannya narik pajak adalah kedholiman. seharusnya pajak semakin turun bukan malah naik jika pemerintahannya benar dan efisien efektif. Sita semua aset para Koruptor dan berantas Mafia Tambang itu sudah cukup membiaya negara dan rakyat.