Arab Saudi telah mengatasi sebagian besar “tema bermasalah” dalam kurikulum sekolahnya yang sebelumnya dianggap tidak toleran terhadap umat Kristen dan Yahudi. Hal ini terungkap dalam tinjauan terhadap 136 buku pelajaran yang dilakukan oleh sebuah lembaga kajian (think tank) Israel yang telah memantau buku-buku pelajaran kerajaan tersebut selama lebih dari 20 tahun.
Sebuah hadis yang menyamakan umat Kristen dan Yahudi dengan hewan yang cacat kini telah dihapus; siswa kelas 11 kini belajar tentang hidup berdampingan melalui perjanjian Nabi Muhammad dengan umat Kristen dan Yahudi. Siswa kelas 9 mempelajari sosok Galileo sebagai pelajaran mengenai pemikiran mandiri. Siswa kelas 6 diminta untuk menyanggah gagasan bahwa kebaikan hanya perlu diberikan kepada sesama Muslim.
Tinjauan oleh IMPACT-se (Institute for Monitoring Peace and Cultural Tolerance in School Education) -sebuah lembaga pemikir (think-tank) internasional yang berpusat di Israel dan London aktif meneliti dan memantau konten buku teks serta kurikulum sekolah di berbagai negara untuk dinilai berdasarkan standar toleransi dan perdamaian —mencatat adanya perubahan di luar aspek agama. Pelajaran kini juga mendorong sikap welas asih terhadap pekerja migran dan penyandang disabilitas. Laporan tersebut menyimpulkan bahwa kurikulum telah bergerak “menuju moderasi dan inklusivitas yang lebih besar, serta selaras dengan tujuan reformasi yang lebih luas dalam Visi 2030.”
Sistem pendidikan Arab Saudi menjadi sorotan internasional setelah serangan 11 September 2001 di AS, ketika Komisi 9/11 meneliti buku-buku pelajaran kerajaan tersebut. Para peneliti AS menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menerjemahkan kurikulum itu, dan Riyadh berjanji kepada Washington untuk melakukan revisi sejak tahun 2006.
Proses penulisan ulang materi ini telah dipercepat di bawah kepemimpinan Putra Mahkota Mohammed bin Salman, yang mencabut sebagian wewenang polisi agama pada tahun 2016 dan menjanjikan kembalinya “Islam moderat” setahun kemudian. Materi berpikir kritis dan filsafat mulai diajarkan di sekolah menengah pada tahun 2021 sebagai upaya menangkal ekstremisme. Pelajaran musik kemudian menyusul, dan pengajaran bahasa Inggris diperluas hingga mencakup siswa sekolah dasar.
Menurut IMPACT-se, revisi-revisi tersebut dilakukan secara bertahap dan terkadang tidak konsisten. Instruksi untuk melaporkan “tukang sihir” kepada pihak berwenang sempat dihapus pada satu tahun, namun diberlakukan kembali pada tahun berikutnya. Sebuah latihan tata bahasa tingkat sekolah menengah menggunakan ayat Al-Qur’an yang menggambarkan orang-orang kafir dan musyrik sebagai pihak yang akan masuk neraka—sebuah pilihan yang dipertanyakan oleh para peneliti, mengingat poin tata bahasa yang sama sebenarnya dapat dijelaskan dengan mudah melalui kalimat-kalimat lain.
Aspek geopolitik juga menjadi sorotan dalam studi tersebut. IMPACT-se menyatakan bahwa bahasa yang bernada antisemitisme telah dihapus dari buku pelajaran, namun sikap “tidak mengakui Israel dan pelabelan Israel sebagai kekuatan pendudukan” masih tetap ada. Satu hal lain yang tidak berubah adalah siswa diajarkan bahwa istilah “Teluk Persia” mencerminkan bias anti-Arab.
IMPACT-se telah mendokumentasikan materi yang meresahkan, namun para kritikus berpendapat bahwa menarik kesimpulan berdasarkan segelintir frasa dan kalimat yang tersebar di ratusan buku dapat mengarah pada kesimpulan mengenai intoleransi atau ekstremisme yang tidak mencerminkan keseluruhan kurikulum secara akurat.
Nathan J. Brown, seorang profesor ilmu politik dan hubungan internasional di George Washington University, mempertanyakan anggapan bahwa buku pelajaran semata-mata menjadi pemicu ekstremisme. Israel mengendalikan buku-buku pelajaran yang digunakan di sekolah-sekolah Palestina dari tahun 1967 hingga 1994, namun generasi yang menempuh pendidikan pada masa itu menunjukkan tingkat penentangan terhadap Israel yang tidak kalah besarnya dibandingkan dengan warga Palestina yang dididik setelah periode tersebut. Brown menyebut kelompok-kelompok seperti IMPACT-se sebagai bagian dari “lobi penghasut” yang memanfaatkan buku pelajaran sebagai bahan bakar untuk perselisihan politik yang lebih luas.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kurikulum Arab Saudi telah mengalami transformasi. Pernah ada masa ketika pelajaran biologi melewatkan materi evolusi, atau saat penyensor bidang keagamaan menghitamkan gambar perempuan maupun bagian tubuh tertentu. Menjelang tahun terakhir pada 2015, sebagian besar pembatasan tersebut telah dicabut; setahun kemudian, Visi Saudi 2030 diumumkan, yang membawa negara tersebut menapaki jalur modernisasi seperti saat ini.
Washington telah lama mencermati buku-buku pelajaran Arab Saudi selama beberapa dekade. Laporan majalah Time mengenai gelombang perubahan pertama mencatat bahwa Departemen Luar Negeri AS menilai perubahan tersebut sebagai langkah yang menjanjikan, sementara para pejabat Saudi menjanjikan akan ada lebih banyak lagi perubahan di masa mendatang.







ide evaluasi buku pelajaran sekolah dari prabowo sepertinya terinspirasi dari ini.
lha elu aja bantai anak2 gaza
Tanah Hijaz (Makkah, Jeddah, dan Tha’if) dan Madinah al-Munawarah, tempat paling suci bagi Muslimin, telah dikuasai oleh Arab as-Sa’udi dari Najd, yang merupakan Antek Asing, Amerika, dan Zionis… Miris
Lah, kurikulum Israel apa tidak menfajarkan kekerasan dan pembunuhan terhadap Umat Islam.
Nathan J. Brown, menyebut kelompok² spt IMPACT-se sbg bagian dari “lobi penghasut” yg memanfaatkan buku plajaran sbg bahan bakar utk prselisihan politik yg lebih luas..