KETIKA SI “DOKTER ATEIS” SALAH MENDIAGNOSIS MUKJIZAT

Oleh: Ahmad Ridho Ibnul Mustakim

Saya menemukan sebuah postingan dari seorang dokter ateis yang cukup populer, yakni dr. Ryu Hasan, yang kali ini menyinggung mukjizat.

Yang menarik bagi saya bukan siapa yang menyampaikannya, tetapi bagaimana sebuah klaim agama dipahami sebelum kemudian dibantah.

Dalam tulisannya, ia mempertanyakan bagaimana mungkin manusia dari masa lalu melakukan perjalanan ke langit.
Kalau yang dia maksud adalah Isra Mi’raj, maka ada kekeliruan mendasar yang perlu diluruskan.
Karena Al-Qur’an dengan jelas mengatakan:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya…”
QS. Al-Isra’: 1
Perhatikan kata:
أَسْرَىٰ — asrā.
Berbeda dengan سَرَىٰ — sarā.

Dalam konstruksi أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ, maknanya adalah Allah memperjalankan hamba-Nya.

Ini seperti bedanya:
“Saya menyeberangi lautan”
dengan:
“Saya diseberangkan.”

Yang pertama menekankan kemampuan saya melakukan perjalanan. Yang kedua menunjukkan bahwa saya dibawa oleh pihak lain.
Nabi Muhammad bukan pihak yang digambarkan melakukan perjalanan dengan kekuatannya sendiri. Beliau adalah hamba yang diperjalankan.
Pihak yang memperjalankan adalah Allah.
Maka ketika seseorang bertanya “Mana mungkin manusia zaman batu pergi ke langit?”
Pertanyaan itu sudah salah alamat sejak awal.
Yang perlu dipertanyakan bukan “Mampukah manusia melakukannya?”
Tetapi “Mampukah Allah melakukannya?”
Karena bukankah itu bagian dari keimanan kepada Tuhan Yang Mahakuasa?

Maka rantai argumen bahwa
manusia zaman batu pergi ke langit → bukan keajaiban/mustahil → omong kosong/dongeng
sudah bermasalah sejak premis pertama.

Yang diklaim Islam adalah perbuatan Allah tetapi yang dibantah adalah kemampuan manusia.
Secara kemampuan manusia, memang manusia tidak mampu.
Itulah mengapa ia disebut mukjizat.

Bahkan jika manusia menggunakan alat bantu atau teknologi itu tetap tidak menjelaskan klaim Isra Mi’raj. Sebab klaimnya bukan bahwa Muhammad berhasil mencapai langit dengan kemampuan atau teknologi manusia.
Klaimnya adalah Allah memperjalankan hamba-Nya.

Tetapi keterangan “diperjalankan” ini baru menjawab pertanyaan “Apakah mukjizat mungkin?”
Pertanyaan berikutnya lebih penting adalah “Mengapa kami percaya Isra Mi’raj benar-benar terjadi?”

Jawabannya sederhana yakni karena Al-Qur’an yang mengabarkannya dan kami meyakini Al-Qur’an sebagai wahyu Allah yang benar.

Jadi urutan berpikir kami umat islam bukan sekadar “Cerita ini luar biasa dan Allah mungkin melakukan apa saja, maka saya percaya.”
Melainkan Allah ada dan Mahakuasa → mukjizat mungkin terjadi → Al-Qur’an adalah wahyu Allah → Al-Qur’an mengabarkan Isra → maka kami menerima berita tersebut.

Lalu bagaimana kami sampai pada keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah?
Tentu bukan sekadar karena Al-Qur’an mengatakan demikian.
Kami memiliki alasan untuk meyakininya. Salah satunya, Al-Qur’an sendiri memberikan tantangan kepada manusia untuk mendatangkan yang semisal dengannya.

Jadi kepercayaan kami terhadap Isra Mi’raj berdiri di atas keyakinan terhadap sumber beritanya bukan sekadar karena kisah tersebut secara logis mungkin terjadi.

Dari sinilah saya melihat kekeliruan yang sering terjadi dalam sebagian kritik ateis.
Bukan karena argumennya selalu rumit.
Kadang hanya satu premis yang bergeser, satu konteks yang dihilangkan atau satu istilah yang tidak dipahami.

Namun dari kesalahan kecil itu lahir kesimpulan besar:
salah memahami klaim → dianggap bukan keajaiban karena mustahil → lalu disebut omong kosong atau dongeng.

ini juga menunjukkan satu hal penting bahwa Profesi bukan ukuran kebenaran.
Seorang dokter tentu ahli dalam bidang kedokteran. Tetapi gelar dokter tidak otomatis menjadikan seseorang ahli dalam tafsir, hadis, sejarah Islam atau agama.

Maka jangan silau dengan gelar atau profesi. Tetap periksa premisnya. sumbernya dan tentu saja periksa kesimpulannya.

Saya menulis ini bukan untuk menyerang pribadi dr. Ryu Hasan, tetapi karena tulisan yang keliru dan memiliki jangkauan luas layak diluruskan secara terbuka.

Sebab tulisan yang keliru namun dibiarkan beredar bisa menjadi “pengetahuan” bagi generasi berikutnya.
Hari ini dibaca ratusan orang, besok bisa ribuan. Dan bisa jadi suatu hari anak cucu kita membacanya tanpa pernah menemukan bantahannya.

Karena itu, jangan biarkan orang yang paling banyak berbicara menjadi satu-satunya yang didengar.

Bantahlah kekeliruan dengan ilmu.
Sebab kebenaran tidak ditentukan oleh profesi orang yang mengucapkannya.

Dan jangan sampai kita salah mendiagnosis mukjizat hanya karena kita gagal memahami klaimnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

10 komentar

  1. liat aja orang-orang pintar yang begelar professor atau doktor atau lc atau segambreng, setelah masuk pemerintahan berubah jadi kodok semua, itu suatu mukjizat yang tidak dapat dibantah

  2. Kalau seseorang pandai dalam dunia akademik tapi GUOBLOKKKK dalam ilmu agama (Islam) itu namanya LAKNAT, dijauhkan dari rahmat Allah. Termasuk mereka yg memiliki banyak gelar yang duduk dalam jabatan di jajaran pemerintahan tapi GUOBLOKKKK tak mampu berbuat amar makruf nahi munkar, cuma jadi YES MEN, Asal Bapak Senang itu juga namanya LAKNAT.

    Nah kalau perbuatan yang dilakukan Gerombolan TerMul dan TerWo BabRun alias Babi guRun juga termasuk itu…LAKNAT. Mereka punya otak tapi tak ada akal. Hanya mengutamakan NAFSU dan KEBENCIAN pada KEBENARAN. Dijauhkannya manusia dari berbuat baik dan benar disebabkan diantaranya adalah SUKA MAKAN MAKANAN HARAM dan BERBUAT HARAM.

  3. Menanggapi seorang ateis dengan dasar keimanan adalah kesalahan. Mengapa? Karena dasar berpikirnya berbeda. Kesalahan yang juga dilakukan oleh si dokter ateis. Kalau ia memang yakin bahwa Tuhan tidak ada, mengapa ia harus mengurusi orang yang yakin bahwa Tuhan itu ada? Bukankah berbeda pendapat adalah sebuah keniscayaan?! Tapi memang si dokter ini pengikut setan. Bukankah setan akan terus ‘merayu’ manusia untuk menjauhi Tuhan?!

  4. Kalau ada yg percaya kpd orang yang telah berbuat curang scr trang benderang bahwa dia akan berjuang demi orang banyak (baca rakyat), berarti orang tsb telah cacat mental dari awal, apapun gelar org tsb.

  5. cara bales org ateis bicara begitu gampang, jawab aja : kita juga GK percaya kalo di dalem kepala lo ada otak nya, yg percaya lo ada otak itu ajaib banget hahha

  6. Tidak percaya mukjizat bukan berarti mukjizat itu tidak ada. Mata manusia terbatas, kuasa Allah tidak.
    Akal manusia punya batas, sedangkan kekuasaan Allah tidak mengenal batas.
    Jangan mengukur kuasa Allah dengan keterbatasan logika manusia.
    Yang mustahil bagi manusia, bisa jadi hanya perkara kecil bagi Allah.
    Mukjizat tidak membutuhkan pengakuan manusia untuk tetap menjadi kuasa Allah.
    Kadang bukan mukjizatnya yang kurang nyata, tetapi keyakinannya yang terlalu kecil.
    Kalau semua harus masuk akal manusia baru mau percaya, lalu di mana letak iman kepada Allah Yang Mahakuasa?