Saya pernah ikut 17 Agustusan di istana negara.
Waktu saya masih SMA.
Bukan dari jalur “war”, tapi jalur lomba karya ilmiah. Duluuu, finalis-finalis lomba begini diundang 17-an. Selama 2 minggu, mengikuti banyak rangkaian kegiatan di Jakarta. Ketemu menteri-menteri, ketemu sama Mendiknas zaman itu, sama Menteri ESDM (bukan bahlil). Bisa nanya-nanya, diskusi langsung di ruang kerjanya, foto-foto, berasa elit sekali. Ikut jamuan makan-makan, mengunjungi museum-museum. Termasuk acara 17 di Istana. Pagi dan sore, lengkap.
Zaman itu Soeharto di ujung-ujung kejayaannya. Wah, wah, saat dia masuk ruangan, dahsyat sekali efeknya. Seluruh hadirin berdiri, tepok tangan sekencang-kencangnya.
Sayangnya, momen yang paling membekas, yang saya ingat adalah: saya kehilangan goodie bag acara 17an. Dibagikan saat masuk, saya pegang erat-erat. Nah, selesai upacara, saya mau foto-foto bareng finalis, pakai kamera zaman bahuela. Saya tinggal itu goodie bag paling hanya 1-2 menit di kursi, karena saya mau foto-foto di luar tenda. Astagfirullah, pas balik ke kursi saya, lenyap itu goodie bag.
Sedih kan.
Padahal tenda saya itu isinya selain finalis lomba karya ilmiah, adalah orang-orang terhormat lainnya. Dan semua dapat. Ternyata, masih ada yang ngembat goodie bag di atas kursi.
Saya pulang ke penginapan finalis karya ilmiah dengan sedih. Di bus, saat yang lain asyik memeriksa isi goodie bag, saya cuma bisa nonton. 😞
Begitulah. Indonesia gitu loh. Jiwa maling itu jangan-jangan sudah jadi local wisdom. Entah apa yang dipikirkan oleh orang yang ngembat goodie bag saya. Dia mesti sudah punya loh goodie bag sendiri, tapi merasa kurang, dia bawa juga yang ‘nganggur’ di kursi. Apalagi urusan titik dapur MBG yang 1,8 M per tahun cuannya. Apalagi proyek bangun kopdes merah putih yang per bangunan sekian ratus juta. Apalagi pengadaan ini dan itu yang triliunan.
Tapi, setelah saya pikir-pikir. Kalau dulu sudah bisa saya viralkan, palingan saya juga yang kena caci netizen: “makanya, jangan ditinggal dong!” , “Duh ini anak SMA kok bego banget, dijaga goodie bag-nya. Biar nggak dimaling.”
Tidak apalah. Ada hikmah lain kok. Sejak saat itulah Tere Liye jadi kritis dalam banyak hal, gara-gara goodie bag 🙂
(By Tere Liye)
*foto atas dari CNBC







keren ya Tere… emang dari SMA sudah top markotop.
mabruk ter