Fathimah Azzahra, Prabowo, dan Mencintai Indonesia Apa Adanya
Denny Indrayana
Advokat Indonesia dan Australia
Bapak Presiden Prabowo, selamat kamis pagi. Berjumpa lagi dengan surat saya yang apa adanya.
Sepagi ini, whatsapp saya dipenuhi oleh berita soal Fathimah Azzahra, Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia. Artikelnya yang viral di harian Kompas, 18 Agustus 2026, berjudul “Bangsaku” menjadi pemicu bagi saya untuk menulis surat ini.
Fathimah, saya tidak tahu bagaimana asal-usulnya. Tapi tolong Bapak Presiden, jangan lihat asalnya. Jangan jadikan kami Londo Ireng, Antek Asing, hanya dari asal kami. Saya sendiri ayah dari Sunda, ibu Banjar, nenek saya dari ayah adalah Tionghoa. Ketika ditanya dari mana berasal, jawaban saya selalu: Indonesia. Sebagaimana kami tidak menyoal darimana asal-usul Bapak Prabowo, apakah ada darah Belanda, penjajah Indonesia.
Yang penting, Kita Indonesia. Kita mencintai Indonesia.
Fathimah saya tidak mengenalnya. Kami tidak pernah bertemu. Tapi hari-hari ini saya melihat kami bersatu dalam semangat perlawanannya. Dalam sikap kritisnya ketika berhadapan dengan kekuasaan. Ketika berdebat dengan polisi yang menghalangi jalan mereka berdemonstrasi ke Bundaran Hotel Indonesia, yang sudah tidak ada lagi hotelnya. Lihatlah Bunderan HI, semua adalah hotel asing di sana. Nama Indonesia, tidak lagi ada di sana.
Bagi saya Fathimah adalah harapan. Gibran tidak. Maafkan saya menyatakan apa adanya. Banyak yang menasehati saya untuk lebih diplomatis. Tapi saya rasa berbicara apa adanya akan lebih sampai pesan moralnya.
Fatimah memperjuangkan Indonesia, Gibran bin Jokowi justru merusaknya. Membaca artikel “Bangsaku” dari Fathimah memberikan siraman air segar nasionalisme ke dalam tenggorokan kering kami. Mendengar beberapa menit Fathimah dengan orasinya, saya rasakan lebih punya kekuatan perjuangan dibandingkan pidato berjam-jam Presiden Prabowo yang cenderung membosankan, dan tidak jarang salah hitung penjumlahan, atau salah baca angka, hingga menjadikan pengupas bawang menjadi orang kaya baru di Indonesia.
Mengapa ada rasa berbeda, meski pesannya sama, tentang cinta Indonesia?
Jawabannya adalah karena kadar niat dan ketulusannya tidak sama. Lebih seminggu lalu, saya bertemu Ustadz Adi Hidayat, satu pesan yang Guru sampaikan adalah: agar menjaga kebersihan hati dan ketulusan niat, dalam setiap gerak perjuangan. Apa yang kita sampaikan, kata Beliau, adalah cerminan hati kita. Hati yang bersih akan mengalirkan gelombang narasi yang mudah diterima oleh hati yang bersih pula, dan sebaliknya.
Jadi ketika Fathimah menyampaikan teriakannya, yang kita dengar adalah perjuangan yang tulus tentang Indonesia antikorupsi. Tentang bangsa yang berjuang untuk bersih dari keculasan pemilu, dari kecurangan pengadaan alutsista, dan dari korupsi gizi dan koperasi. Kuncinya adalah pada kejujuran, pada konsistensi, pada kesamaan antara orasi dan aksi. Sedikit saja terlihat ada warna kemunafikan, maka kekuatan dan wibawa pesan itu pasti menghilang. Sebagaimana ijazah SMA atau setara Mas Gibran yang gaib bin raib hingga kini.
Pertanyaannya, ada dimana kita? Ada dimana saya dan Presiden Prabowo? Kalau Fathimah dan semua rekan mahasiswa dan para pemuda, mereka jelas posisinya. Sejarah telah membuktikan, bahwa ketulusan perjuangan mahasiswa dan kaum muda adalah penyelamat bangsa sejak Rengasdengklok hingga lahirnya reformasi 1998.
Ada dimana anda, Bapak Presiden Prabowo? Apakah ada di pusaran kejujuran, atau masuk jurang kemunafikan?
Pada pidato perayaan HUT Ke-42 PDI Perjuangan di Januari 2015, Megawati Soekarnoputri pernah berpesan kepada Joko Widodo agar tidak hanya melihat kemegahan dan kenyamanan Istana, tetapi juga mengenali “sisi gelap” kekuasaan. Pesan Megawati, seorang pemimpin harus siap berhadapan dengan ujian berat, terutama dari orang-orang dengan niat buruk di sekitarnya.
Sisi gelap kekuasaan itu yang saya lihat sekarang lebih pekat mewarnai Istana Kepresidenan. Warna ketulusan dan kejujuran memudar, tergantikan dengan orasi tanpa isi, miskin konsistensi. Ketika legislasi dengan secepat kilat membuka banyak posisi sipil bagi TNI dan Polri, sambil memberi gratifikasi umur kepada petinggi polri; tapi pada saat yang sama telah setahun lebih hanya berjanji kosong untuk menggolkan UU Asset Recovery; maka mengejar koruptor hingga ke Antartika terasa kuat hanya basa-basi.
Bapak Presiden memang terkesan gagah ketika kabarnya memperjuangkan amanah Pasal 33 UUD 1945 soal kekayaan alam untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Beberapa kelompok “Sembilan Naga” konon terpukul, dengan jutaan hektar hutan yang kembali dikuasai lagi oleh negara. Tapi, perjuangan itu menjadi kehilangan daya, ketika kerusakan alam dan mafioso para haji justru diberi ruang toleransi. Inkonsistensi sekali lagi dibaca sebagai sinyal kemunafikan dan titik terlemah dalam orasi pemberantasan korupsi.
Antikorupsi semakin kehilangan nilai ketika koalisi pemerintahan diisi oleh para pemburu rente dan bagi-bagi proyek, semata-mata untuk biaya politik pemilu selanjutnya. Lebih-lebih orasi antikorupsi, makin kehilangan gigi, ketika diwujudkan dalam teriakan gegap-gempita: Hidup Jokowi!
Ada paradoks yang sulit dicerna logika, ketika Presiden Prabowo menyatukan Jokowi dengan semangat antikorupsi. Karena, tindakan antikorupsi yang paling mendasar seharusnya adalah tidak melanggar konstitusi. Itu artinya: tidak cawe-cawe dalam Pemilu, tidak memaksakan Gibran yang belum siap dan belum waktunya untuk menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia.
Dari Fathimah seharusnya kita belajar mencintai Indonesia. Mencintai Bangsa Indonesia apa adanya. Tanpa pamrih, tanpa kepentingan pribadi ataupun keluarga.
Semoga pesan ini sampai kepada Presiden Prabowo dan semua jajarannya yang sedang berkuasa. Karena sejarah mencatat, kejujuran dan keikhlasan akan menemukan ruang juangnya.
Diblokade, dibarikade dengan kekuatan polisi dan tentara sekuat apapun, mahasiswa dengan ketulusan dan semangat juangnya, adalah kekuatan rakyat yang tak bisa dikalahkan.
Sebelum terlambat Presiden Prabowo, cari lagi kekuatan juang itu pada kemurnian dan ketulusan niat mencintai Indonesia. Sebab, jika gagal, maka bersiaplah digulung oleh kekuatan Fathimah, kekuatan mahasiswa, kekuatan rakyat, kekuatan kami yang tidak kaya-raya, tapi mencintai Indonesia apa adanya.
Sampai jumpa dengan surat apa adanya saya berikutnya, itupun jika Anda masih berkuasa!
*https://dennyindrayana.com/2026/08/20/fathimah-azzahra-prabowo-dan-mencintai-indonesia-apa-adanya/







https://youtu.be/Zni8BENO45s?si=j6cSfUdAG-9mYya2
orang budeg dinasehatin ????? mana masuk
ga bakal nyampe kritik,saran yg bagus kalo msh ada si x disampingnya.
wong si x ini titipan solo lama jd ajudannya