KISAH DAVID ATHEIS

✍️ Arief Camra

Sebagai orang yang notok jedok tentang: Kebenaran Mutlak Al-Qur’an, saya gak akan terpengaruh sedikitpun dengan teori-teori mereka aliran non agama (non tuhan).

Jangan dikira, saya gak punya teman Atheis.
Saya menghitung ada 6, kawan saya yg beraliran Atheis. Atau mendekati Atheis.

Salah satunya bernama: David. Teman kerja saya dulu. David senang sekali ngledekin saya terkait aktifitas agama yang menurutnya melelahkan dan tidak ada manfaatnya.

Saya gak respon apa-apa, santai saja.
David ikut aliran Atheis, dia juga masih miskin, gak punya uang. Jadi, gak ngaruh. Gak bisa dibuat contoh juga. Malah kalo hutang duit ke saya.

Jangan tanya ia sholat apa enggak, terlalu jauh.
Dia aliran logika, semua dilogika-kan berdasar kecerdasannya.

Menurutnya; sholat itu gak masuk akal, berdoa juga gak masuk akal, apalagi umroh dan haji, juga peristiwa Isra’ Mi’raj, tentu dianggap dongeng saja. Mereka senang sekali jika diajak memuja tokoh yang berpikiran / berlogika Atheis, atau tokoh logika ilmiah, macam dua hasan itu.

Tapi, yang begituan itu, karena dia masih sehat dan belum diberi sakit.

Sesuai pengamatan saya, ketika dia sakit parah, si David kena musibah juga, terlontar kata: Astaghfirullah, Subhanallah dari mulutnya.

Lho..kamu berarti masih Atheis amatir, kok bisa-bisanya baca Astaghfirullah. Apa mulai sadar Vid?

*

Kawan, percayalah…semua orang kalau dirasa mau meninggal dunia, wafat, qoit, alias bongko, __ia akan mencari yang namanya: pelabuhan jiwa. Ia baru menyadari bahwa Tuhan itu ada dengan segala kekuasaannya yang tak terbatas.

Sementara, logika manusia itu sangat terbatas.
Gak ada sekian tetes air diantara lautan airnya Tuhan.

Orang Atheis gak bisa menebak kapan ia mati dan kemana ia setelah mati. Orang beragama, memang gak tau juga kapan ia akan mati, tapi orang beragama memahami akan kemana setelah mati (ruh-nya). Poin plus 1 untuk yang beragama.

Di Griya Lansia, pernah ada dua yang menganut aliran logika semasih muda. Tapi menjelang kematian di usia senja, mereka hanya punya penyesalan. Kemudian ingin dibimbing ke arah agama yang lebih baik.

Saya pernah bertanya kepada David, jika 100 orang dokter Atheis paling genius di dunia dikumpulkan, apakah 100 dokter paling jenius di dunia itu bisa menghidupkan orang yang sudah mati? Atau ujicoba tikus saja, apakah bisa menghidupkan tikus yang sudah mati?

Gak bisa kan? Logikanya dimana?
Bukankah itu tanda kekuasaan tuhan Vid?

Kata David, kematian dan kelahiran itu proses alamiah di kehidupan. Dia jawab gitu. Orang Atheis hanya punya konsep tentang kelahiran itu sebagai proses biologis. Makanya kalau bicara sering meledek: manusia dibuat dari tanah. Tanah apaan? Kata mereka.

David Atheis yang saya ceritakan itu, di Masjid Al-Falah Surabaya (depan kebun binatang), sebulan sebelum meninggal karena kanker yang menggerogoti tubuhnya mulai parah, ia meminta saya untuk mengantar ke sana, kemudian dia mengucapkan kalimat syahadat dan ingin bertaubat. Didampingi ibu kandungnya David.

Ketika kondisi sakit, David tak bisa bicara gaya-gayaan gak butuh Tuhan.

Saat sakit dia gundah, sembari mikir “kalau saya mati, saya mau kemana?”

Saya akan dimandikan dengan cara bagaimana? Saya akan dikubur dengan cara apa? David semakin bingung.

Beruntung, doa ibunya terkabul.
Ibunya David setiap malam menangis, ingin anaknya kembali seperti dulu, saat sebelum kuliah sangat taat beragama.

Ketika masuk kuliah, pergaulannya mempengaruhi cara berpikir. Sehingga memutuskan untuk menjadi Atheis. Ibunya sedih.

Alhamdulillah, sebelum meninggal David bertaubat..memilih Islam kembali.

FB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6 komentar

  1. ada orang yg merasa pintar lalu jd atheis sj sdh aneh. mrk sbnarnya manusia egois yg merasa paling logis paling benar tanpa mau mngakui pndapat orang lain yg jg pnya hak utk brfikir sprti mrk