Benarkah Gaza sudah makmur dan warganya bisa naik mobil mewah gara-gara bantuan?
✍️Pega Aji Sitama
Setelah beberapa bulan berlalu, rupanya masih tersebar luas narasi ngawur dari video Ahmad Shorafa, bahwa kalau semua bantuan dari Indonesia sampai ke Gaza maka orang Gaza harusnya bisa naik Ferari.
Walaupun postingan aslinya dihapus tapi video masih direupload akun-akun buzzer Isrhell untuk menjatuhkan legitimasi bantuan kemanusiaan yang dilakukan para aktivis.
Mengapa narasi Shorafa ngawur? Berapa sih total bantuan RI ke Gaza yang terkumpul pas puncak-puncaknya genosida.
Hitungan tertinggi dari informasi yang saya ketahui di perolehan donasi beberapa lembaga besar, paling banyak adalah 1 triliun dalam 1 tahun se Indonesia.
1 triliun dibagi kepada 2 juta warga Gaza itu cuma Rp 500.000 per orang per tahun atau cuma 40 ribuan per bulan. Dengan uang segitu mau buat beli mobil mainan?
Itupun bantuan tidak bisa disalurkan dengan efisiensi 100%, kenapa karena di negara perantara seperti Mesir ada pajak barang, biaya truk, biaya sopir, bensin, makelar dll. Supaya truk bisa masuk antrian.
Kemudian kalau disalurkan dalam bentuk uang langsung ke Gaza, juga kena biaya.
Karena terus beli barang luar, mata uang NIS (mata uang Isrhell yang dipaksakan beredar di seluruh Palestina berdasar perjanjian Oslo) yang beredar makin hari makin sedikit, bank di Gaza sudah wasalam, jika mau bantu cash harus dilakukan tukar guling. Nilai tukar cash NIS di Gaza bisa 60% lebih mahal terhadap USD dari pasaran Isrhell.
Untuk mengatasi kelangkaan NIS, otoritas setempat mengembangkan aplikasi dompet digital, sehingga orang luar dapat melakukan top up. Kendalanya adalah butuh internet, padahal internet di Gaza tidak merata.
Alat tukar sangat dibutuhkan karena kebanyakan truk yang boleh masuk adalah truk komersial, yaitu truk yang membawa barang untuk dijual ke Gaza.
Kuota truk komersial ini pun banyak dimanfaatkan pedagang Isrhell untuk ikut meraup keuntungan. Kita harus tahu bahwa barang yang datang dari Isrhell harganya jauh lebih mahal.
Membuat uang yang dimiliki warga Gaza menjadi kurang berharga.
Maka bagi kita untuk membantu warga Gaza ada 2 cara, pertama menyiapkan truk bantuan dari negara ketiga, harganya mungkin lebih murah namun bisa masuk atau tidaknya, tak tahu kapan.
Cara kedua dengan membantu secara finansial lewat transfer atau tukar guling agar mereka bisa belanja barang-barang dari truk komersial. Dimana harganya pasti lebih mahal karena banyak dari Isrhell.
Dengan kondisi serba terjepit begini, mustahil 2 juta orang di Gaza hidup foya-foya, makan sepuasnya, dan berbagai narasi palsu lain.
Ironisnya selain hasbara, akun-akun yang mempercayai Gaza tidak usah dibantu lagi adalah akun-akun berbau “Sunnah” atau “Salaf”. Ada yang alasannya karena mirip Shorafa yaitu tidak percaya bantuan disalurkan. Ada juga percaya sudah banyak bantuan ke Gaza dari Saudi dan pemerintah lainnya. Serta karena mengira bantuan ke Gaza dimanfaatkan pendukung Iran seperti Husein.
Sayang sekali jika mengaku penuntut ilmu tapi tidak bisa memilah mana informasi yang benar atau salah soal Gaza. Malah jadi tempat bancakan propaganda hasbara.
Mau bantu Gaza itu tanggung jawab setiap Muslim.
Terserah mau lewat lembaga atau perorangan langsung, atau lewat pemerintah.
Bukan malah menggembosi upaya mengirim bantuan, malah itu keinginan Isrhell, biar mereka saja yang dagang dan untung terus.
Dukung dengan perjuangan Palestina
Bukan sekedar belas kasihan
Jika mempercayai Little Project, bisa melalui:
* BCA 008-771-8798
* BSI 7777-333-121
* Mandiri 132-002-224-2789
* BNI 0834-192-954
* BRI 0598-01-000202-568
A.N. Yayasan Little Project
Konfirmasi Transfer : wa.me/08592340002







