Ahmad Zaki Ali, pendiri sekaligus relawan dari Gerak Bareng, meninggal dunia di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Jumat, 21 Agustus 2026. Pahlawan kemanusiaan yang akrab disapa Bang Jek ini mengembuskan napas terakhirnya di wilayah Dampek, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, saat sedang menjalankan misi kemanusiaan membantu para korban bencana gempa bumi di Flores, NTT.
Berdasarkan laporan kepolisian dan rekan sesama relawan, berikut adalah rincian mengenai kejadian tersebut:
- Penyebab Wafat: Almarhum diduga mengalami serangan jantung akibat kelelahan setelah berhari-hari mendistribusikan bantuan logistik di lokasi bencana. Rekan setimnya menyebutkan ia mendadak mengalami sesak napas setelah selesai membagikan bantuan.
- Kronologi Kejadian: Sebelum wafat sekitar pukul 16.40 WITA, Ahmad Zaki masih sempat melaksanakan ibadah Salat Jumat di Masjid Nurul Huda Reo dan mendistribusikan bantuan ke Desa Satar Padut. Di perjalanan, ia sempat meminta menghentikan mobil sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.
- Dedikasi Terakhir: Melalui unggahan terakhir di media sosialnya beberapa jam sebelum berpulang, ia menyampaikan bahwa itu adalah hari keenamnya berada di NTT untuk memastikan amanah bantuan masyarakat tersampaikan kepada ratusan keluarga yang terdampak gempa.
Gempa NTT terjadi pada hari Sabtu, 15 Agustus 2026.
Ahmad Zaki terjun langsung ke NTT sehari setelah gempa. Dia telah 6 hari membantu NTT: AHAD, SENIN, SELASA, RABU, KAMIS, JUMAT.
Beliau wafat di hari JUMAT, sebaik-baik hari. Wafat dalam kondisi membantu dan menebarkan kebaikan kepada sesama, Rasulullah SAW bersabda, خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ (“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”).


Di bencana mana yang tidak ada beliau? Hampir semua bencana beliau terjun. Sumatera, Jawa, Papua, Sulawesi, Kalimantan, Lombok, NTT dll, bukan cuma di situ, Turki dan Rohingya pun ketemu beliau.
Dulu ada film fiktif yang menyindir umat Islam, ceritanya ada kelompok radikal yang melarang ambulans lewat jalan yang ditutup untuk pengajian. Kelompok radikal ini menolak membuka jalan karena pasien berbeda agama.
Di masa Jokowi itu kelompok Islamis memang ditekan lahir batin sebagai kelompok radikal, intoleran, memecah bangsa dan bermacam stigma absurd lain.
Kemudian bang Zaki memproduseri film untuk menjawab tuduhan tersebut. Tak ada itu ambulans dilarang lewat oleh orang Islam yang sedang pengajian.
Film bang Zaki judulnya Aku, Kamu adalah Kita.
Hari ini beliau membuktikan komitmen seorang Muslim terhadap kemanusiaan tanpa memandang suku, agama, ras, kampung dll.
Bang Zaki wafat di NTT seusai membagikan bantuan untuk korban gempa. NTT ini adalah provinsi dimana umat Muslim minoritas. Beda agama bukan alasan untuk tidak bergerak bahkan dalam kondisi kesehatan yang kurang fit.
Selamat jalan pejuang kemanusiaan..
Semoga kita berjumpa lagi di Surga-Nya..
(Pega Aji Sitama)
***

Testimoni sahabat:
Ternyata kemarin malam terakhir kita becanda, aku take foto ini pas lagi asik liat kalian ketawa.
Sekarang aku duduk didepan jasad mu bang, aku malu, aku takut karena belum tahu akhir hidup ku kayak apa. Semoga mati dalam keadaan baik kayak bang zaki.
Shubuh tadi kita duduk denger kajian tentang mengumpulkan amal sebelum meninggal, ustad membahas bahwa jangan sedih dengan kehilangan dunia, sedih lah kalau kamu kehilangan jatah akhirat.
Bang zaki sempat bilang *Kalaupun harus meninggal saya ingin meninggal saat bantu orang*
Bang tadi kita sama2 nyalurin amanah kaum muslimin, terus setelah selesai, hanya jelang 10 menit Allah pisahkan kita, semoga Allah tempatkan bang zaki disisi Allah.
Kami sudah selesai memandikan, mengkafani dan insyaAllah akan dibawa ke rumah bang zaki besok.
***

✍️Hafidin Achmad Luthfie Al-Hanbali
Mujahid Kemanusiaan Itu Telah Syahid
Saya mengenal Zaki cukup lama, lima belas tahun atau lebih.
Zaki adalah pribadi yang humble, peduli, dan mendedikasikan hidupnya untuk kemanusiaan.
Berbagai daerah bencana di tanah air telah ditanganinya. Setiap kali terjadi bencana, Zaki bersama timnya selalu berusaha berada di lokasi pada hari-hari pertama.
Beberapa kali kami sempat bertemu di lapangan: di Palu, Pandeglang, dan Lumajang. Di luar itu, kami pernah bertemu di Markas Gerak Bareng, bukan untuk membahas bencana, tetapi untuk makan duren.
Zaki tidak pernah mencampuri urusan perdebatan. Ketika kami sedang berdiskusi, bahkan saat memberikan kritik terhadap kondisi atau pihak tertentu, dia cenderung tidak melibatkan diri. Pernah suatu ketika dia berkata, “Biarlah, itu urusan para ustadz.”
Baju seragam berupa kaos SAI (Solidaritas Amal Islami) adalah salah satu karya Zaki.
Ketika terjadi bencana di NTT, Zaki sudah berada di sana sejak hari pertama pasca gempa. Dan hari Jumat ini, Zaki dikabarkan wafat.
Saat itu saya sedang dalam perjalanan dan menyetir mobil. Saya meminta istri, “Tolong buka PAS, ada kabar atau diskusi apa di sana?”
Istri kemudian memutar voice note dari seorang relawan yang menerangkan bahwa Zaki pingsan karena serangan jantung dan telah wafat.
Saya yang sedang menyetir langsung terdiam. Istri pun ikut diam. Kemudian saya mengucapkan istirja’ dan mendoakannya.
Selamat jalan, Zaki.
Antum telah menanam begitu banyak kebaikan di berbagai wilayah bencana selama belasan tahun. Semoga Allah Ta’ala menerima jihad kemanusiaanmu, mengampuni dosa-dosamu, menerima seluruh amalmu, dan menjadikanmu sebagai syahid.








selayang pandang, utk para “pendengung pnguasa”, klian disini aj..!!
👇👇
“Hampir semua bencana beliau terjun. Sumatera, Jawa, Papua, Sulawesi, Kalimantan, Lombok, NTT dll, bukan cuma di situ, Turki dan Rohingya pun ketemu beliau”
klian para “pendengung pnguasa” suka yg mana..!? pilih satu..!!
👇👇
“ustadz membahas bahwa jangan sedih dengan kehilangan dunia, sedih lah kalau kamu kehilangan jatah akhirat”
. . sesungguhnya kami milik Tuhan kami & kepada_Nya pula kami akan kembali . .
Innalillahi wa Inna ilaihi roji’uun.Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’ fu’ anhu..aamiin 🤲
innalilahi wa innailaihi rojiun
insyaallah Husnul khatimah bang Zaki