Per 1 Mei 2026, Uni Emirat Arab (UEA) resmi cabut dari organisasi kartel minyak OPEC+.
UEA (produsen ketiga terbesar di OPEC) akan bisa sakkarepe dewe dalam memproduksi minyak sesuai kapasitas penuh (4,8–5 juta barel/hari) tanpa kuota OPEC.
Analis geopolitik mengatakan bahwa minggatnya UEA itu sebagian karena ‘Pak Camat UAE’ jengkel pada negara teluk lain yang dianggap “tidak becus” lindungi UEA dari serangan Iran.
Para pengamat memprediksi GCC sudah retak. GCC adalah aliansi enam negara Arab di kawasan Teluk Persia, yaitu:
- Arab Saudi
- UEA
- Kuwait
- Qatar
- Bahrain
- Oman.
Oman condong ke arah Iran; Qatar dan Kuwait absen; Arab Saudi memperkuat kemitraannya dengan Pakistan dan Turki, sedangkan UEA dan Bahrain semakin cenderung menjadikan AS-Israel sebagai bestie-nya, terutama melalui Abraham Accords.
Cabutnya UEA bikin Pakde Trump senang karena dia selama ini selalu menuduh OPEC “merampok dunia” dengan menaikkan harga minyak. Keluarnya UEA melemahkan kendali OPEC atas pasar minyak dunia. Trump sebelumnya menekankan bahwa dukungan militer AS kepada UEA harus dibayar dengan harga minyak yang terjangkau. Dengan cabutnya UEA dari OPEC, kini AS bisa lebih leluasa minta minyak semaunya.
Keputusan UEA untuk keluar dari OPEC ini merupakan puncak dari persaingan diam-diam yang sengit yang telah berlangsung selama puluhan tahun antara Arab Saudi dan UEA, meski secara resmi mereka adalah bestie alias seperti konco kenthel dalam GCC.

Kebijakan Saudi, sebagai “ketua kelas” OPEC, yang membatasi produksi (kuota OPEC), dianggap menghambat rencana ambisius UEA untuk memonetisasi kapasitas produksi minyak mereka yang telah ditingkatkan besar-besaran.
Langkah UEA cabut dari OPEC adalah cara Abu Dhabi menunjukkan otonomi penuh atas kedaulatan ekonominya. Pesannya adalah Abu Dhabi emoh jadi “nomor dua,” nggak sudi lagi mengikuti arahan Riyadh dalam kebijakan energi global. Ini bisa memicu perang harga minyak antara Riyadh vs Abu Dhabi.
UEA juga merasa bahwa koordinasi ekonomi dan keamanan kolektif melalui blok tradisional (seperti OPEC atau GCC) seringkali terlalu letoy atau terlalu didominasi oleh kepentingan Saudi.
Selain itu menurut sebagian analis timteng, negara hasil kumpulan kecamatan ini memang sejak lama ingin menjadi “superpower-nya” Timteng dengan modal duit dan sewa preman/centeng AS dan Israel.
Karena itu, beberapa analis mulai melihat ada kemungkinan muncul dua aliansi alternatif:
- UEA dan Bahrain semakin solid bekerja sama dengan AS dan Israel.
- Sedangkan Arab Saudi lebih memilih memperkuat aliansi dengan kekuatan regional lain seperti Turki dan Pakistan.
Keputusan UEA untuk lebih condong ke poros Amerika Serikat-Israel daripada solidaritas negara-negara Islam bukanlah tanpa alasan. Sejak penandatanganan Abraham Accords (normalisasi dengan Israel) pada 2020 hingga puncaknya pada tahun 2026 ini, UEA telah menggeser paradigma politik luar negerinya. Pemerintah UEA memandang gerakan Islam politik (seperti Ikhwanul Muslimin) sebagai ancaman stabilitas dalam negeri dan regional.

Dari segi akses ke pasar Barat/AS, hubungan baik dengan Israel adalah “tiket emas” untuk mendapatkan dukungan penuh dari lobi bisnis dan politik di Washington (yang dikuasai lobyist zionis), yang memudahkan aliran investasi AS dan Barat ke Abu Dhabi.
Di bawah kepemimpinan bin Zayed, prinsip utamanya adalah “UAE First”. Jika bekerja sama dengan Israel dan AS memberikan keuntungan ekonomi/kekayaan dan keamanan yang lebih besar daripada solidaritas negara Muslim Sunni, maka UEA akan memilih jalur yang lebih menguntungkan secara harta-kekayaan (ekonomi) dan keamanan meskipun harus mengorbankan norma-norma lama tentang solidaritas ideologis lintas-negara Islam.
Oleh karena itu, Israel, sebagai teman baik UEA, mengirimkan sistem pertahanan udara Iron Dome beserta kru IDF ke UEA untuk menangkal rudal-drone Iran. Ini menandai pertama kalinya Israel mengirimkan sistem tersebut ke luar negeri.
Di samping itu, citra satelit menunjukkan peningkatan kehadiran militer AS di Pangkalan Udara Al-Dhafra di UEA, dengan pengerahan yang kini mencakup 12 jet tempur dan pesawat pengisi bahan bakar di udara, seperti 7 pesawat tanker KC-135R milik Angkatan Udara AS.

Lokasi pangkalan AS di Al Dhafra di UEA memberikan Amerika Serikat jangkauan yang sangat strategis untuk operasi udara di seluruh kawasan Teluk. Al-Dahfra adalah aset strategis yang utama, lengkap dengan landasan pacu dan dukungan penuh dari negara tuan rumah, yaitu UEA.
Aktivitas militer AS-Israel yang meningkat sejak gencatan senjata ini menimbulkan dugaan kuat bahwa AS-Israel, dengan dukungan penuh UEA, akan kembali menyerang Iran.
Barangkali itu sebabnya, Menlu Iran, Pak Araghchi, beberapa hari kemarin pergi ke Pakistan, Oman, dan Rusia, serta menelpon pemimpin Arab Saudi, Qatar dan Mesir.
Perkembangan ini semakin seru. Sudah makin jelas siapa teman AS-Israel dan siapa teman Iran dan siapa yang masih mikir-mikir mau berteman ke siapa.
(Triwibowo Budi Santoso)






