Jika Takdir Sudah Tertulis, Mengapa Masih Berdoa? Inilah Jawabannya

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan:
“Apa gunanya berdoa kalau takdir sudah ditetapkan dan tidak bisa diubah?”

Jawabannya: Doa itu sendiri adalah bagian dari takdir untuk menolak musibah. Doa merupakan sebab turunnya rahmat. Sama seperti perisai yang menahan serangan senjata.

Doa bagaikan perisai, dan musibah bagaikan anak panah yang meluncur ke arah kita. Ketika keduanya bertemu, terjadilah benturan di mana doa bekerja aktif menahan musibah tersebut.

Percaya pada takdir bukan berarti kita pasrah tanpa usaha. Sama seperti saat perang, kita tetap wajib membawa senjata:

وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ
Dan hendaklah mereka waspada dan membawa senjata mereka (QS. An-Nisa: 102).

Walhasil, Allah tidak hanya mentakdirkan hasil akhir, tetapi Allah juga menakdirkan jalan untuk mencapainya.

(Sumber: Kitab Al Adzkar Imam Nawawi Hal. 342)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar

  1. Doa itu perintah allah dan itu termasuk iktiar billisan takdir itu urusan allah jgn dipiutar balikan kaya si af koplak bin goblog ada siswa keracunan katanya takdir giliran ikhtiar dikritik suruh berhenti langsung menggonggong

  2. Berdo’a itu ibadah ! Bukankah didalam sholat juga berisi do’a2

    “Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina’.” ( QS Ghafir : 60)

    Barangsiapa yang tidak berdoa kepada Allah, maka Allah murka kepadanya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)