Dr. Omar Suleiman Ungkap Mimpi Indah Yang Dialaminya ‘Palestina Terbebas dari Israel’


Sheikh Dr. Omar Suleiman adalah seorang cendekiawan Muslim, imam, pendakwah terkemuka di Amerika Serikat keturunan Palestina.

Di akun X (4/9/2026) beliau menceritakan mimpinya:

“Saya hampir tidak pernah berbagi mimpi-mimpi saya, tapi hari ini saya akan membuat pengecualian.

Sepanjang hidup saya, bahkan ketika saya bermimpi tentang Palestina, selalu ada tentara Israel yang muncul di latar belakang karena itulah gambaran yang akrab dengan keseharian saya sejak kecil.

Lalu sebulan yang lalu, saya bermimpi ayah mengajak keluarga berkeliling desa kami di Tulkarem (Tepi Barat Palestina), tempat beliau lahir sebelum masa pendudukan (penjajahan Israel). Beliau menunjukkan pepohonan dan tanaman miliknya dengan penuh sukacita dan rasa rindu—perasaan yang tak mungkin bisa saya lukiskan dengan kata-kata. Namun, bagian terindah dari mimpi itu justru adalah apa yang tidak ada di sana: tidak ada tentara Israel maupun pemukim ilegal.

Kemudian tadi malam, saya kembali mendapat mimpi indah tentang Palestina. Dan untuk pertama kalinya seumur hidup, saya bermimpi tentang Masjid Al-Aqsa tanpa kehadiran tentara israel di sekitarnya.

Saya tidak tahu apa artinya ini bagi saya secara pribadi, meskipun saya punya doa-doa saya tentang apa yang saya harap lihat dalam hidup saya sendiri. Saya juga tidak mengklaim sebagai orang yang saleh yang berbagi mimpi-mimpi ini sebagai semacam nubuat baru. Saya tidak butuh mimpi untuk memberi tahu saya bagaimana kisah ini berakhir. Meskipun saya sangat rindu untuk berdoa di Masjid itu suatu hari nanti dan memetik zaitun dari pohon-pohon yang dirawat oleh generasi keluarga saya sebelum penjajah datang, saya sudah sepenuhnya percaya dengan keyakinan bahwa Palestina akan merdeka suatu hari nanti InshaAllah.

Namun, di tengah kehancuran luar biasa yang bisa membuat hati jatuh dalam keputusasaan, mimpi-mimpi ini sungguh menghangatkan hati saya. Oleh karena itu, saya memilih untuk membagikannya, seraya berdoa semoga siapa pun yang tumbuh dengan menanggung trauma ini dapat menemukan sedikit penghiburan karenanya, sembari menyadari bahwa mereka yang hidup di bawah pendudukan telah menanggung rasa sakit dan kekejaman yang tak mungkin bisa kita pahami sepenuhnya.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar