Gentengisasi

Gentengisasi

Prabowo berkeluh kesah bahwa atap rumah-rumah Indonesia kelihatan jelek karena memakai seng. Dia lebih suka rumah-rumah Indonesia memakai genteng. Itu diucapkannya dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 di Sentul (2/2/2026). Dan tentu, para pegawai negara yang hadir di sana bertepuk tangan riuh rendah. Seakan mengamini itu sebagai ide jenius.

Kalau Anda menduduki tahta tertinggi di sebuah negeri, para punggawa dan gedibal itu akan bertepuk. Apapun yang Anda katakan. Salah atau benar. Pokoknya bertepuk dulu. Soraki dulu. Jilati dulu. Soal itu masuk akal apa nggak, soal itu benar atau nggak, soal itu ada dalam kemampuan kantong atau tidak, itu semua bisa diurus belakangan.

Dan, penguasa tahta tertinggi itu biasanya senang. Dia hanya tahu hal-hal yang menyenangkan dirinya. Jarang dia tidak bisa tidur karena memikirkan ketidaksenangan orang lain.

Tentu ide ini bersambut. Sama seperti ide lain yang dilontarkan oleh Prabowo dalam pidatonya yang panjang dan tampak inkoheren (tidak padu dan lompat sana sini) itu. Dia berhitung salah, 10+2 = 13, orang toh bertepuk tangan.

Ketika dia merutuki pantai-pantai Bali yang penuh sampah, dan menginstruksikan “korve, korve, korve” kepada PNS, TNI/Polri, dan anak-anak sekolah, esoknya dengan sigap mereka semua ke pantai dan membersihkan semua sampah dari Kuta sampai Kedonganan.

Kuat dugaan saya bahwa Prabowo sendiri tidak pernah menginjakkan kaki di pantai-pantai itu. Dia hanya mendapat laporan. Tidak peduli pula bahwa sampah datang dari mana-mana seturut musim dan gelombang yang membawanya.

Tapi itu tidak masalah. Pegawai-pegawai, militer, polisi, dan sekolah-sekolah berlomba-lomba setor muka. Semua ingin menyenangkan penguasanya. Lebih-lebih mereka yang mendapat makan dan mencari makan dari negara. Tentu, mereka pertama-tama harus mengabdi kepada Kepala Negara, bukan? Tidak peduli bahwa makanan mereka sebenarnya disumbang oleh tukang parkir, supir Ojol, buruh bangunan.

Dan, bahkan dari tukang antar (delivery) makanan. Apakah tidak cukup aneh bahwa tukang antar makanan mengantarnya kepada orang yang makan dari pajak yang dikutip dari kerja mereka?

Namun sekali lagi, itu tidak jadi soal. Yang penting tepuk tangan dulu. Yang penting perlihatkan ketundukan. Makin dalam makin baik. Makin lantang memekik makin heroik.

Ketika menonton pidato tersebut, saya tertegun. Serius? Dia tahu yang dia omongkan? Pernahkah ia bayangkan membawa genteng ke daerah bencana untuk membangun rumah-rumah baru untuk mereka yang terkena banjir dan lumpur? Jelas, dia tidak pernah punya bayangan itu sama sekali.

Seorang kawan saya menunjukkan bahwa tidak mungkin punya rumah genteng di wilayah seperti Dieng yang curah hujannya tinggi karena akan lembab dan berat.

Panas atau tidaknya sebuah rumah tidak tergantung hanya dari atapnya. Tapi juga dari desainnya. Atap seng bisa menjadi indah. Saya tahu di pasaran ada banyak seng untuk atap yang berkualitas baik. Selain itu, dari sisi harga, seng itu jauhlebih murah.

Program gentengisasi ini tidak saja adalah program yang tidak paham akan realitas (out of touch). Ia lahir dari seseorang yang hanya melihat realitas dari atas helikopter. Biar pun sudah mendarat, dia tetap mengambang karena dijaga oleh para penjilat dan gedibal yang hanya ingin menyenangkan hatinya.

Namun, ada satu hal yang sungguh mengganggu saya. Orang-orang ini selalu bicara besar tentang Indonesia masa depan. Indonesia yang maju dan biasanya ditambah tahunnya: 2045! Namun jika ditanyakan, apa sebenarnya isi imajinasi Indonesia yang maju itu?

Nah, disini mulailah mulut mereka kedodoran. Beberapa waktu lalu, Ahmad Ali, ketua harian PSI, membandingkan Jokowi dan Gibran. Dia mengatakan bahwa Jokowi itu ibarat Pentium 1 dan Gibran adalah upgrade-nya, Pentium 3. Dengan segera dia menjadi olok-olok sejagat karena tidak ada program komputer apapun yang ada saat bisa jalan dengan Pentium 3. Itu komputer generasi Abad 20. Dan sekarang sudah Abad 21.

Mungkin lucu. Namun juga ada persoalan serius disini, Negara ini diurus oleh orang-orang yang berimajinasi menciptakan negara besar dan maju. Akan tetapi isi imajinasi itu masih tetap abad yang lampau. Bahkan berimajinasi pun mereka ketinggalan jaman.

Seindah-indahnya genteng, ia adalah masa lampau. Ia tidak praktis. Ia berat. Ia tidak mudah dipindahkan. Ia statis. Sangat berbeda dengan seng atau atap metal yang dinamis, ringan, lebih murah, efisien, dan juga bisa indah. Bangunan-bangunan di banyak negara maju beratapkan metal. Ia tetap bisa indah.

Saya ingat pernah bertamu ke rumah seorang pejabat Orde Baru. Rumahnya mentereng dan luar biasa luas. Ketika masuk ke ruang tamu, saya melihat kursi-kursi dari jati yang penuh ukiran. Di bagian atas kepala ada burung Rajawali yang membungkuk seakan melindungi kepala yang duduk dibawahnya. Kepala saya berkali-kali terantuk Rajawali sialan itu. Norak dan tidak praktis.

Mental seperti itulah yang menjadi dasar gentingisasi ini. Persis seperti furniture Orba yang mau kelihatan mewah tapi sesungguhnya norak dan tidak praktis.

Dan, yang lebih sial lagi, imajinasi orang-orang yang mengelola negara ini masih terpantek pada abad lalu. Saya curiga, jangan-jangan Indonesia yang maju itu adalah seperti jaman tahun 1970-80an. Kita memang sudah tidak lagi naik bemo atau oplet. Paling tidak kita sudah melihat mobil listrik BYD yang jauh lebih efisien dan nyaman itu di jalan-jalan.

Ah, ya. Kita sudah punya Maung! Itu mobil Indonesia bermesin Korea!

(Made Supriatma)

Komentar