Normalnya dalam kerjasama bilateral, pihak yang berkunjunglah biasanya yang mendapatkan benefit lebih dari kunjungan yang dilakukannya. Biasanya tamu lah sebagai pihak yang membawa kepentingan untuk ditawarkan ke tuan rumah.
Ini kok malah kebalik ya. Justru dagangan Perancis yang laris manis.
Anggaplah kita memang butuh banyak susu dan banyak daging sapi untuk program MBG, serta perlu bahasa Perancis untuk diajarkan ke sekolah-sekolah. Tapi ya apa perlu seorang Presiden dan Sekretarisnya yang tampan itu yang harus turun tangan sendiri? Apa beliau tidak yakin menteri-menteri perekonomiannya sanggup bernegosiasi dengan Perancis?
Tapi bagaimanapun beliau adalah ahli strategi. Orang-orang normal seperti kita mungkin tidak bisa melihat apa yang beliau lihat.
Hanya pendukungnya yang bisa.
(Wendra Setiawan)







