Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa sekitar 70 persen industri ayam dan telur di Indonesia saat ini masih dikuasai oleh dua perusahaan besar. Tanpa merinci identitas korporasi tersebut, ia menyebut nilai perputaran uang yang mereka kantongi melonjak signifikan sejak pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dalam keterangannya, Amran menjelaskan bahwa total perputaran industri ayam dan telur secara nasional mencapai Rp554 triliun, dan meningkat menjadi Rp653 triliun setelah program MBG berjalan. Dari angka tersebut, sekitar Rp380 triliun hingga Rp400 triliun disebut hanya dikuasai oleh dua pelaku usaha.
Pernyataan itu disampaikan dalam sebuah forum diskusi yang disiarkan melalui kanal resmi Kementerian Pertanian. Ia menyoroti kondisi ini sebagai tantangan serius bagi kedaulatan ekonomi rakyat, khususnya pelaku usaha kecil di sektor peternakan.
Amran mempertanyakan kapan masyarakat luas bisa ikut merasakan manfaat ekonomi dari sektor tersebut. Menurutnya, dominasi oleh segelintir perusahaan membuat pergerakan ekonomi rakyat menjadi terbatas dan tidak merata.
Sebagai langkah perbaikan, pemerintah mulai mendorong pembangunan proyek hilirisasi ayam terintegrasi di berbagai daerah. Dari total 12 lokasi yang direncanakan, enam di antaranya telah memasuki tahap awal pembangunan. Konsep yang diusung mencakup rantai produksi menyeluruh, mulai dari pabrik pakan, pembibitan ayam atau day old chicken (DOC), hingga pengolahan produk akhir.
Dalam skema ini, negara akan berperan dalam pembangunan sektor hulu seperti pakan dan pembibitan, sementara sektor hilir diharapkan dapat digerakkan oleh masyarakat dan pelaku usaha kecil agar lebih kompetitif.
Pemerintah telah menyiapkan anggaran sekitar Rp20 triliun untuk mendukung proyek tersebut. Selain itu, fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga Rp50 triliun juga disiapkan guna memperkuat pembiayaan dan memperluas partisipasi masyarakat dalam industri ini.






