*Tulisan bagus di fb Cocomeo News:
Budaya Jual-Beli Klub
SEPAKBOLA HANYA UNTUK PANGGUNG POLITIK
Jika Anda anggota EXCO PSSI, dan memiliki klub, Maka, Anda boleh memilih klubnya mau jadi apa? Mau promosi bisa! Tapi kalau tidak mau degradasi, juga bisa diatur. Logika inilah yang digunakan stakeholder di republik “sontoloyo” ini, dari periode Nurdin Halid (2003 – 2011) hingga jaman Erick Thohir (2023 – 2027).
Jika Anda pejabat negara, boleh suka-suka membuat klub, atau pun membeli klub. Entah, untuk apa tujuannya. Yang penting, boleh, diperbolehkan, suka-suka Anda. Mumpung, Anda masih memiliki kekuasaan, punya uang, dan bisa atur sana, atur sini. Inilah, wajah sepakbola di republik “mBelgedes” ini.
Mengerikan, bukan?!
Contoh-contoh sepakbola dibangun dengan cara-cara kartel – mafioso ini, sudah dimulai sejak jaman Nurdin Halid duduk di “kursi panas” PSSI. Sepakbola bergaya “cowboy” sekaligus merasa oraganisiasi PSSI sebagai perusahaannya sendiri.
Dimulai, saat Mohammad Zein, sebagai anggota EXCO PSSI, 2003 – 2007, yang bertuga sebagai Ketua Badan Tim Nasional (BTN), serta membidani Komisi Wasit PSSI di jamannya. Jabatannya di Bea Cukai, lumayan sangar, Ketua Subdirektoral Intelejen Bea Cukai. M. Zein juga pengelola Persijatim Jakarta Timur.
Entah Persijatim Jakarta Timur, saat itu sudah berbadan hukum atau belum? Intinya, Persijatim yang sudah kehabisan “bensin”, setelah musafir ke Solo, dengan nama Persijatim Solo FC, tahun 2002 – 2003. Kemudian, 2004 dijual ke Gubernur Sumatera Selatan, Syarial Oesman.
Pertanyaannya. Apakah boleh sebuah perusahaan sepakbola, sesuai akte notaris, bisa berpindah-pindah? Bahkan. Apakah statuta PSSI memiliki aturan baku, tentang jual beli klub?
Kalau Inter Milan dan Oxford United, yang sudah dibeli Erick Thohir, dari masing-masing negara. Apakah, Inter Milan dan Oxford boleh pindah negara, dan pindah ke kota Bandung, atau Solo, misalkan?
BERLOMBA BELI KLUB
Caplok mencaplok klub sepakbola semakin parah, semrawut dan amburadul. Kebetulan, PSSI doyan melakukan pembiaran, tapas punya legalitas sesuai statuta PSSI. Apalagi, di jaman transisi, dari kepengurusan La Nyalla Mattalitti (2013 – 2015), ke Edy Rahmayadi (2016 – 2019), setelah pasca pembekuan PSSI, 18 April 2015.
Sebelumnya, ada jejak-jejak jorok dan memuakan. Ketika, Putra Samarinda, yang bermarkas di Stadion Segiri, Samarinda, dibeli Pieter United, 15 Februari 2015, bernama Bali United, dan hijrah ke Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali. Hanya, gara-garanya, Pieter Tanuri, sudah jadi anggota EXCO PSSI. Ini jejak membangun klub ILEGAL, setelah Persijatim Jakarta Timur, kemudian Putra Samarinda.
Dalam waktu yang tidak lama, dari jejak klub ILEGAL seperti Sriwijaya FC dan Bali United. Kembali larut budaya kotor, untuk mencari panggung politik dan bisnis, kembali mengulang cara-cara membeli klub profesional, tanpa etika, adab, fairplay dan respect.
Awalnya, bernama Pelita Jaya FC (1986), menjadi Pelita Solo FC (2000), berlanjut Pelita Krakatau Steel FC (2002), Pelita Jaya Purwakarta (2006), Pelita Jabar (2008), Pelita Jaya Karawang (2009), Pelita Bandung Raya (2010), Persipasi Bandung Raya (2015), dan akhirnya menclok berganti jubahnya, sebagai Madura United, bermarkas di Stadion Ratu Pemillingan, Pamekasan, Madura.
Saat itu, pemilik Persipasi Bandung Raya, Ari Sutedi menjual ke pemilik baru, Achsanul Qasasih, 10 Januari 2016, berbendera Madura United. Dari Bekasi ke Madura. Artinya, suka-suka yang membeli, mau dipindah kemana, penjual klub lama, tidak boleh protes.
PSSI, masih “buta” memperbolehkan Pelita Jaya, berpindah-pindah, dan kemudian ke Madura, karena Achsanul Qosasih, pernah sebagai bendahara PSSI, 2007 – 2011, dan juga anggota DPR, 2009 – 2014, dari Demokrat.
Yang lebih sangar dan “umpak-umpakan” (istilah anak gaul Semarang), di jaman transisi PSSI dibekukan Menpora Imam Nahrawi. Ada dua klub, ujug-ujug nongol, seperti main sulapan.
Setelah ada Piala Jenderal Sudirman 2015, PS TNI menggunakan sebagian pemain PSMS Medan, satu-satunya tim yang bukan anggota klub Liga Indonesia. Untuk bisa mendapatkan lisensi klub sepakbola profesional. PS TNI, akhirnya “pisah ranjang” dengan PSMS Medan, yang ogah dijadikan PS TNI, dengan membeli “Dewa Laut” – Persiram Raja Ampat, saat di musim 2015, berada diurutan ke-14 (kompetisinya dihentikan PSSI, karena dibekukan).
Tanggal, 13 Maret 2016, Persiram Raja Ampat, diganti namanya menjadi PS TNI. Dan, lahirnya klub “bim-sa-la-bim” di kompetisi yang bernama Indonesia Soccer Championship 2016. Dimana, kompetisinya tanpa degradasi dan promosi. Saat itu, posisi klsemen PS TNI, berada di urutan paling, buncit, nomor 18 dari 18 klub.
PS TNI, bisa “ujug-ujug” menjadi klub profesional, hanya karena bisa dan harus bisa membeli lisensi Persiram Raja Ampat. Menurut mBah Coco, karena ada faktor sosok Pangab TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo, dan di-support Tommy Winata, dibekalang pembelian lisensi PS TNI. Kalau ada penguasa dan pengusaha kakap bersatu. Buat apa saja boleh, dan tidak ada yang boleh melarang.
Bhayangkara FC dan PS TNI “sami mawon.” Karena, lembaga Polri, adalah lembaga yang memberi ijin atau tidaknya semua event bernama sepakbola. Sepertinya, “kepincut” untuk ikut dalam permainan sepakbola. Aneh, bukan?
Harusnya, tugas Polri, hanya menganyomi, melindungi dan mengawasi warga masyarakat, khususunya di sepakbola. Mosok, akhirnya, harus ikutan di dalam permainan sepakbola? Dan, yang dikelola adalah sepakbola profesional. Terkesan, para pelaku sepakbola dianggap bodoh semua. Miris, bukan?
Bayangkan, Bhayangkara, juga menurut mBah Coco, sebagai klub ILEGAL.Saat PSSI memiliki dualisme, semua klub terkesan “aji mumpung.” Karena, PSSI masih semrawut, mengatur Indonesia Premier League (IPL) milik Arifin Panigoro, dan PSSI yang punya Indonesia Super League (ISL). Maka, banyak klub-klub, lahir mendadak dari “liang kubur”.
Salah satu, yang disulap jadi klub seolah-olah profesional, adalah Persikubar Kutai Barat, diambil alih oleh Persebaya Surabaya, yang membelot ke IPL (2011), milik Arifin Panigoro.
Persebaya Surabaya, yang asli, milik ISL murka, dan menentang. Untuk menghindari masalah hukum. Maka, Persebaya Surabaya (IPL), dari Persekubar (Divisi II), disulap menjadi Persebaya Bonek (2015), Surabaya United (2016), dan akhirnya PS Polri (lembaga Polri) membeli Surabaya United, menjadi Bhayangkara Surabaya United, 10 September 2016. ILEGAl, bukan?
Karena, di negeri ini, saat itu, yang paling berkuasa, adalah lembaga Polri. Maka, Bhayangkara FC, ikut di Gojek – Traveloka Liga 1 Indonesia 2017. Dan, saat itu, ujug-ujug Bjayangkara FC, bisa juara. Padahal, jika melihat klasemen yang benar. Bali United, seharusnya yang jadi juara, karena, sama-sama, meraih nilai 68, dari 34 pertandingan. Bali United, punya selisih +38 gol, sedangkan Bhayangkara FC, hanya punya selisih gol +21. Tapi, LIB memutuskan, juaranya Bhayangkara FC. Jaman edan!
Saat itu, PSSI dibawah Edy Rahmayadi, benar-benar tak berkutik dengan kasus-kasus yang melanda wadah kompetisi kasta tertinggi, yang seolah-olah profesional. Nyatanya, semuanya, bisa diatur dengan cara-cara mafioso. Opo tumon? Dan, semuanya menurut mbah Coco, adalah klub ILEGAL. Ngerti, kan son?
PERSIS, RANS, DEWA
Generasi militer di sepakbola profesional, berhenti sejenak. Muncul, “para sultan”. Ketika, dunia politik sedang gencar-gencarnya menuju Pilpres 2024. Ancang-ancang sepakbola sebagai panggung pencitraan, sudah sangat transparan.
Erick Thohir, yang siap-siap lepas landas menuju Pilpres 2024, Membeli Persis Solo, ngajak anak kedua Jokowi, Kaesang Pangarep, 21 Maret 2021. Saat itu, posisi Persis Solo di Liga 2 Indonesia. Dan, promosi ke Liga 1 Indonesia, musim 2023.
Raffi Ahmad, sebagai “sultan” dijorokin, agar ikutan di sepakbola. Caranya, membeli Cilegon United FC, yang berada di Liga 2, sejak 2017. Liga 2 Indonesia 2017, pertama kalinya digulirkan, dengan 33 klub. Dan, Cilegon United FC, selalu bertahan di Liga 2. Dan, 31 Maret 2021, nama Cilegon United FC, berubah RANS Cilegon FC, hingga tahun 2023, promosi ke Liga 1 Indonesia 2023 – 24. Kini, berubaha menjadi RANS Nusantara FC (sempat degradasi ke Liga 3, dan musim depan kembali ke Liga 2).
Nama Dewa United, hampir sama dengan RANS Nusantara. Kakaknya, Erick Thohir, yaitu Garibaldi Thohir, Rendra Sardjono, dan Kevin Hardiman, mengubah nama Samarinda FC yang berhomebase di Samarinda, di pindah ke Tangerang, gunakan Stadion Indomilk, Tangerang, sejak diakusisi 22 Februari 2021.
Posisi Persis Solo, RANS Cilegon dan Dewa United FC, sama-sama berada di kasta kedua, Liga 2 Indonesia 2021, dan kemudian dalam waktu yang bersamaan “janjian” ketemu di kasta tertinggi Liga Indonesia, 2022 – 2023. Hanya, dalam satu musim dengan caranya sendiri, melenggang nyaman lolos ke Liga 1 Indonesia. Luar biasa, mereka ini, manusia super cerdas dan maha jenius !
GARUDAYAKSA, ADHYAKSA
Masih belum puas, masyarakat super elit di republik “mBalgedes” ini, kini di akhir musim BRI Super League 2025 – 26, nongol dua nama anyar grass. Menurut mBah Coco, 10 tahun lalu, nggak pernah ada nama-nama seperti Garudayaksa dan Adhiyaksa, kini nongol sebagai seolah-olah “baya ajaib”. Padahal, menurut mBah Coco, klub-klub tersebut, hanya berkibar disaat “bohir-bohir”-nya masih memiliki kekuasaan, dan memiliki banyak uang, dan bisa membeli apa saja di negeri “konoha” ini.
mBah Coco, mengenal nama Eko Setyawan, anggota EXCO PSSI gerbongnya Erick Thohir. Eko Setyawan, seolah-olah didukung oleh Jaksa Agung, ST Burhanuddin. Menurut CCTV mBah Coco, Eko Setyawan, hanya seorang vendor di lembaga Kejaksaan.
Awalnya, Adhyaksa FC, adalah klub bernama Farmel FC, yang bermarkas di Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Banten. Di musim 2023 – 24, masih di Divisi 3, musim 2024 – 25, dan saat memasuki Geup A – Pegadaian Championship 2025 – 26, menjadi runner up, dan saat play off, menghadpi persipura Jayapura, menang 1 – 0, dan menjadi tim ke-3 yang promosi ke BRI Super League 2026 – 27.
Kalau, Garudayaksa, awalnya memang milik Prabowo Subianto, saat menjadi Menteri Pertahanan RI, meresmikan wadah pembinaan, Garudayaksa Football Academy Indonesia, 14 Desember 2023. Kini, saat mengakusisi PSKC Cimahi, Presiden Klub Garudayaksa FC, dikelola Widjono Hardjatno, yang akrab dipanggil akrab Oni. Menurut CCTV mBah Coco, Oni, yang nantinya akan disodorkan Prabowo Subianto, untuk menduduki “kursi panas’ PSSI periode 2027 – 2031, di Kongres PSSI nanti, untuk menggantikan Erick Thohir.
Tanggal 4 Juni 2025, Academy Sepakbola Garudayaksa resmi mengakusisi PSKC Cimahi, dan bertempur di wadah kompetisi Pegadaian Championship (Liga 2 Indonesia), dan akhirnya promosi, setelah juara Grup A, dan saat menghadapi juara Grup B, PSS Sleman. Di Stadion Maguwoharjo, 8 Mei, menang 6 – 5, atas tuan rumah PSS Sleman, 6 – 5, dan menjaji juara Pegadaian Championship, 2025 – 26.
Pertanyaannya. Apakah Presiden Prabowo Subianto, boleh memiliki klub? Jawabnya, tidak ada yang melarang. Namun, mBah Coco mencoba memberi referensi, seperti Silvio Berlusconi.
Berlusconi, memiliki AC Milan sejak 1986. Dan juga membeli klub Monza 2017. Sebagai pengusaha, Berlusconi mendirikan perusahaan “Mediaset” punya tiga (3) stasiun televisi nasional, “Canale 5” “Italia 1” dan “Rete 4”, juga punya majalah bergengsi “Panorama” serta koran “Il Giornale”. Kemudian, mendirikan partai “Forza Italia” 1994. Serta, prosesnya bisa menjadi Perdana Menteri dua kali, 1994 dan 2008.
BUDAYA KANIBAL
Budaya, para stakeholder membangun klub yang doyan “instant”, sejak Sriwijaya FC Palembang dari Persijatim Jakarta Timur, hingga Garudayaksa FC dari PSKC Cimahi, menurut mBah Coco, adalah sebuah kesalahan permanen, yang sudah akut.
Membangun sepakbola profesional, dari sepakbola amatir, butuh waktu yang seharusnya sangat panjang. Bukan, seperti yang saat ini dibudayakan oleh PSSI.
Sadar atau tidak, menurut mBah Coco, cara-cara yang tidak berproses, dan cenderung kanibal, diperkirakan tidak sehat, dalam membangun sstem pembinaan, sebagai salah satu syarat dan kewajiban, sebuah klub dari amatir ke profesional.
Pertanyaannya. Ketika Persijatim Jakarta Timur dijual ke Palembang, menjadi Sriwijaya FC, sistem pembinaan klub-klub amatir binaan Persijatim Jakarta Timur “mati suri.” Tidak mungkin ada lagi lahir, pemain seperti Maman Abdulrachman. Ketika Persiram Raja Ampat diakusisi PS TNI, maka sistem pembinaan di Raja Ampat, tidak akan ada lagi, muncul bibit seperti Tinus Bonai, Domingus Fakdawer dan Marko Kabiay.
Ketika Putra Samarinda dipindah ke Bali, Indonesia akan kehilangan junior-juior seperti yang pernah menjadi legenda, seperti Agus Waluyo, Ponaryo Astaman, atau Aji Ridwan Mas, yang dibesarkan dalam PSSI Garuda I, atau PSSI junior.
Entah, sampai kapan budaya di PSSI melakukan pembiaran sistem kanibal, yang doyan dilakukan para pebisnis atau para politikus, hanya untuk sesaat. Mencari panggung politiknya?
NUMPANG LEWAT
Sepakbola profesional, gaya sepakbola primitif di Indonesia, terkesan tidak mau belajar. Bahwa, jika hanya ingin berambisi untuk “instant” secepatnya membeli klub. Sebagian klub yang sudah dengan cepat membeli klub, dan ingin secepatnya bercokol di kasta tertinggi, Liga 1 Indonesia, diprediksi nantinya tidak akan siap. Biasanya, akan terjadi peristiwa “ Numpang Lewat” ikutan di Liga 1. Kemudian, di musim tersebut terkena degradasi.
Ada lima (5) syarat untuk bisa tampil di Liga I Indonesia, sporting (punya pembinaan berjenjang) infrastruktur (punya stadion, sewa), personalia (SDM), legalitas (berbadan hukum), dan finansial (keuangan).
Rata-rata, klub yang seolah-olah profesional, ada satu syarat yang selalu belum terpenuhi. Biasanya, LIB akan memaksakan, seolah-olah semua terpenuhi. Salah satunya, adalah masalah infrastruktur dan sporting. Banyak klub setiap awal menjelang kompetisi, masih memilih stadion, yang memiliki lisensi AFC, sebagai syarat memenuhi kriterianya.
Sedangkan, sporting – banyak klub sejak awal, tidak memiliki akademi, merekrut youth development, berkompetisi di daerahnya. Karena, dari hasil CCTV mBah Coco, dalam 30 tahun terakhir, tidak ada wadah kompetisi di setiap kota, yang memiliki klub profesional.
Masih Ingat Kalteng Putra, di musim 2017, masuk 8 Besar. Musim 2018 promosi ke Liga 1, dan 2019 degradasi. Sejak awal, Kalteng Putra, sudah bermasalah, ketika Stadion Tuah Pahoe, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, sudah tidak memenuhi syarat, sebagai tempat berkompetisi kasta tertinggi. Kini, Kalteng Putra terjerembab di Divisi 4,
Ada catatan klub-klub yang katanya, profesional, ketika dengan cara-cara “instant” ternyata saat melakoni kompetisi, hasilnya morat-marit. Baik secara teknis mau pun non-teknis.
Contohnya, RANS Nusantara, hanya menclok satu musim “numpang lewat” musim berikutnya terdegradasi. Musim lalu, sudah terjungkal ke Liga 3, dan musim depan bisa tertatih-tatih ke Liga 2.
Badak Lampung, yang mengakusisi Perseru Serui, saat ikut Liga 1 Indonesia 2019, hanya numpang lewat, langsung terjun bebas ke Liga 2. Dan, kini, entah “terkubur” kemana. Dan, Perseru Serui, juga kehilangan bakat-bakat pemainnya, karena wadahnya sudah pindah dari Serui ke Lampung.
Yang paling sangat menjijikan, ketika PS TNI merasa paling gagah. Dari mencaplok Persiram Raja Ampat, kemudian sebelum terjun bebas ke Liga 2, juga dengan sadis mengakusisi Persikabo Bogor, sehingga berganti nama Persikabo 1973. Pembinaan di Raja Ampat dan Kabupaten Bogor “dibunuh”.
Yang terakhir, adalah Semen Padang dan PSBS, dua klub yang seolah-olah profesional. Lagi-lagi, hanya “Numpang lewat,” – mampir tengak-tengok kanan-kiri di Liga 1 Indonesia. Kemudian, hanya “makan siang” satu musim. Hasilnya, kembali melorot ke kasta 2. Selain, syarat infrasturktur, suporting dan finansial tak memenuhi syarat.
Dari sini, mBah Coco menilai, bahwa PT Liga Indonesia Baru, sebagai operator, memang sangat sontoloyo. Seenak jidatnya, meloloskan semua syarat-syarat sebagai klub profesional. Padahal, rata-rata 18 anggota Liga 1 Indonesia, syarat-syaratnya “bodong” dan “kopong”.
CONTOH IPSWICH TOWN
Jika para penggemar bola fanatik, pasti tidak akan meninggalkan partai-partai terakhir, Championship, atau kasta kedua Liga Inggris – EFL Championship. Khususnya, Ipswich Town, yang berlaga melawan Queen Park Rangers FC, Minggu, 2 Mei 2026 lalu, yang berakhir 3 – 0, sekaligus memastikan Ipswich lolos promosi ke kasta tertinggi Inggris – Premier league 2026 – 27.
Saat mbah Coco, nonton partai Ipswich vs QPR, terlihat suasana Stadion Portman Road, berkapasitas 29 ribu pendukung Ipswich, “The Tracktor Boys” tumpek blekk, turun ke lapangan, setelah wasit Gavin Waad, meniupkan peluit akhir, menandakan “Tractor Boy” memastikan lolos promosi, bersama Coventry City (juara Championship).
Ipswich Town, berdiri 1878, sebagai klub amatir. Namun, baru masuk klub profesional tahun 1936. Serta, menikmati gelar pertama Liga Inggris 1961 – 62. Meraih gelar FA Cup 1981, dan tidak pernah kalah di depan publiknya sendiri, melawan klub elit dunia, AC Milan, Barcelona, Real Madrid dan Inter Milan, saat meraih gelar juara UFFA Cup 1981.
Naik turun prestasi Ipswich, membuat terdegradasi ke Divisi Dua, 1985 – 86. Dan, ketika lahir Premier League 1992 – 93. Ipswich kembali ke kasta tertinggi, sepakbola profesional modern. Namun, hanya bertahan tiga musim, Ipswich terjun bebas, ke liga Championship (kasta kedua), 1995 – 96. Dan, saat menikmati runner up Championship 2025 – 2026, menembus penantian 30 musim. Luar biasa !
Intermezzo empat alinea di atas, hanya ingin membedah sejarah klub-klub yang melakukan jual-beli di Indonesia. Dan, yang terakhir, adalah Garudyaksa FC, yang baru saja promosi ke BRI Super League 2026 – 27, bersama PSS Sleman, ditambah pendatang anyar lainnya, Adhiyaksa FC. Bahwa, Ipswich yang sudah 30 tahun di kasta kedua, sudah memiliki modal besar, yaitu punya 29 ribu suporternya secara fanatik.
Mengapa, banyak klub-klub yang promosi ke liga utama di Indonesia, selalu bermotif, minimal motifnya untuk pencitraan, dan juga ke bisnis? Padahal, tidak punya supporter fanatik?
Mengapa, semua klub ingin yang ngotot ingin ke kasta tertinggi? Mengapa, mereka tidak tertarik berproses, seperti yang dilakukan Ipswich Town? Sehingga, bisa memelihar emosi pendukungnya, untuk setia dan fanatik.
TEKNIS JOMPLANG
mBah Coco, lagi-lagi nggak bosan memberi referensi, soal situasi masalah teknis di BRI Super League Indonesia, musim 2026 – 27 mendatang. Bahwa, kasus-kasus seperti Semen Padang dan PSBS Biak, akan sangat mudah terjadi lagi, dalam tubuh organisasi Garudayaksa FC dan Adhiyaksa FC, yang baru “seumur jagung.”
Garudayaksa FC, yang baru mengakusisi PSKC Cimahi, dalam satu musim, kemudian berlaga di kasta kedua Indonesia, 2024 – 25, langsung juara dan promosi ke Liga 1 Indonesia, berkat diapoles Widodo C Putra, musim ini.
Regulasi Pegadaian Championship Liga 2 Indonesia, 2025 – 26, hanya diperbolehkan merekrut tiga (3) pemain asing, dan wajib merekrut pelatih lokal. Namun, di BRI Super League Indonesia 2026 – 27, semua klub yang seolah-olah profesional, wajib merekrut maksimal 11 pemain asing, dan hanya tujuh (7) pemain yang bisa diturunkan setiap pertandingan. Dan, rata-rata pelatihnya wajib berlisensi A Pro AFC.
Jika, Garudayaksa, masih mempertahankan Widodo C Putra, maka dipastikan lisensi Widodo memenuhi syarat untuk menjadi pelatih Liga 1 Indonesia. Pertanyaannya. Apakah, klub Garudayaksa FC mau tetap mempertahankan Widodo? Mosok, Garudayaksa hanya memilih Widodo? Sedangkan, Persija Jakarta, mampu mengontrak pelatih sekeliber Thomas Doll, musim 2024 – 2025 lalu.
Jika, Garudayaksa FC, karena klub milik Prabowo Subianto. Diprediksi akan memilih pelatih kaliber internasional, yang punya nama besar.
Otomatis, jika Garudayaksa FC memilih pelatih baru, gantikan Widodo C Putra. Maka, materi pemain yang membawa Garudayaksa promosi ke kasta bergengsi. Otomatis, hanya mempertahankan, sebagian pemainnya. Nggak mungkin, dengan materi kelas 2, bisa bertanding menghadapai para pemain kelas 1 di Indonesia?
Otomatis, Garudayaksa FC akan merekrut 11 pemain asing. Dan, para pemain kelas satu Indonesia (naturalisasi atau pun predikat pemain timnas).
Pertanyaannya. Mampukah, pelatih anyar Garudayaksa FC (pasti pelatih asing), mampu merekrut 11 pemain asing, plus pemain terbaik dari tim nasional Indonesia, untuk dijadikan skuad Garudayakasa FC, musim 2026 – 27.
Mampukah, dalam waktu tiga (3) bulan, hingga September 2026 mendatang, seorang pelatih dan asistennya (asing), membangun, membentuk dan menstabilkan taktik strateginya, untuk berlaga di BRI Super League Indonesia 2026 – 27, yang rata-rata nyaris 90%, pemainnya baru, untuk dijadikan skuad tim yang solid dan bermental juara?
Prediksi mBah Coco, masalah finansial Garudayaksa FC nggak akan kehabisan “bensin” di tengah jalan seperti PSBS Biak. Namun, akan kewalahan, saat membangun taktik strategi, dalam membangun skuad tim yang solid, teruji dan konsisten melakoni 34 pertandingan, sejak September 2026 nanti?
ADHIYAKSA “NUMPANG LEWAT”
Dari data-data dan pengalaman serta referensi yang sudah ada dalam artikel panjang mBah Coco. Dari tiga (3) klub yang promosi ke BRI Super League Indonesia 2026 – 27, yang akan “numpang lewat’ alias degradasi di akhir musim nanti, adalah Adhiaksa FC, milik Eko Setyawan, anggota EXCO PSSI, 2023 – 2027.
Cerita-cerita klub yang “numpang lewat’, sudah terbiasa terjadi. Promosi ke Liga 1 Indonesia satu musim. Kemudian, “terjun bebas” melorot ke Liga 2. Karena, syarat-syarat yang sudah dijabarkan mBah Coco di atas, adalah sebab akibat yang biasa dicuekin manajemen klub. Pemilik atau pengelola klub, merasa yang panting namanya dikenal, sebagai selebritis baru!
Masalah teknis, Adhiyaksa FC, akan mengalami hal yang sama, dengan Garudayakasa FC. Masalah non-teknis, Garudayaksa FC punya “pundi-pundi cuan” yang tak ada serinya. Sedangkan, Adhiyaksa FC, akan kedodoran dari masalah keuangan. Sedikitnya, harus punya anggaran Rp 100 sampai 200 miliar jika berkiprah di Liga 1 Indonesia. Makanya, semen padang, yang hanya Rp 40 miliar, akhirnya tumbang.
Namun, menurut mBah Coco, Garudayaksa FC dan Adhiyaksa FC, sama-sama tak akan mudah membangun tim dengan syarat-syarat regulasi, 11 pemain asing. Yang paling sangat rawan negatifnya, adalah malah membangun kelompok suporter.
PSS Sleman, salah satu klub promosi, memiliki jejak sejarah suporternya yang sangat luar biasa. PSS Sleman, pernah dinobatkan sebagai Suporter terbaik 2005, versi ANTV. Punya fanatisme, militansi, dan ultras yang fenomenal.
Sedangkan, Garudayaksa FC, menurut mBah Coco, butuh minimal 10 tahun, bisa mendapatkan suporter seperti PSS Sleman, atau bahkan, bisa membutuhkan waktu 25 tahun, jika ingin mencontoh, seperti Viking Persib Bandung, dan The Jak Persija Jakarta.
Artinya, apa?
Silahkan, diurai, dianalisi dan dijawab sendiri.
CATATAN:
Inilah contoh-contoh yang pernah terjadi di Indonesia, sehingga judul artikel di atas milik mBah Coco, terbiasa dan berbudaya seperti ini. Jorok, norak, tidak beradab dan tidak beretika.
(Sumber: fb)






