Profesor Irwandi Jaswir, pionir teknologi halal paling canggih di dunia mendapat penghargaan tertinggi dari Raja Saudi

Namanya Profesor Irwandi Jaswir. Lahir di Medan tahun 1970, dia berhasil ciptakan teknologi pelacak DNA babi dan alkohol di makanan serta kosmetik dengan kecepatan dan akurasi super tinggi. Dia juga kembangkan formula gelatin halal dari ikan dan unta, plus metode deteksi lain yang bantu jutaan umat Muslim di seluruh dunia memastikan produknya benar-benar halal.

Poin Penting Inovasi Prof. Irwandi Jaswir:

  • Deteksi Cepat & Akurat: Menggunakan metode canggih yang mampu mendeteksi kontaminasi DNA babi dan alkohol dalam waktu singkat pada berbagai produk.
  • Electronic Nose (e-Nose): Alat ini dikembangkan dengan prinsip meniru indera penciuman manusia untuk mengendus kandungan non-halal.
  • Dampak Global: Inovasi ini diakui dunia dan berkontribusi besar bagi perkembangan industri halal global serta perlindungan konsumen. 

Tapi ironisnya….. karya Profesor Irwandi Jaswir berkat fasilitas dari Malaysia.

Saat itu dia mau bangun pusat riset halal besar-besaran di Indonesia, malah terbentur birokrasi yang lambat dan minimnya dana riset. Fasilitas kurang memadai, dukungan pemerintah waktu itu juga kurang maksimal. Akhirnya dia terima tawaran dari Malaysia.

Di sana, dia disambut bak raja. Dikasih laboratorium canggih, dana riset melimpah, dan langsung jadi profesor tetap di International Islamic University Malaysia (IIUM). Dia bahkan pimpin International Institute for Halal Research and Training (INHART) yang sekarang jadi salah satu pusat halal ternama dunia.

Puncaknya tahun 2018, dia dapat King Faisal International Prize, sering disebut “Nobel-nya dunia Islam”, langsung dari Raja Arab Saudi. Penghargaan ini diberikan atas dedikasinya membangun “Halal Science” sebagai bidang ilmu baru. Prof Irwandi Jaswir menerima hadiah 200 ribu dollar AS (Rp 3 miliar lebih) dari Raja Salman.

Irwandi Jaswir berkarier sebagai akademisi dan ilmuwan internasional di Malaysia selama 25 tahun. Rasa bangga terselip di hatinya ketika menyandang pengakuan tertinggi justru sebagai ilmuwan berkewarganegaraan Indonesia. Ia mendapatkan penghargaan King Faisal Prize Laurate 2018 untuk kategori Service to Islam, penghargaan yang dianggap setara Nobel di dunia Islam.

Irwandi merupakan ilmuwan bidang sains halal pertama dunia yang mendapatkan penghargaan untuk kategori Service to Islam atau Pelayanan pada Islam yang dimulai 1979 dari King Faisal Foundation di Arab Saudi.

Irwandi merupakan orang Indonesia kedua yang menerima penghargaan King Faisal Prize untuk Service to Islam setelah Perdana Menteri Indonesia Mohammad Natsir (1980). Adapun dari Malaysia yang pernah menerima adalah Perdana Menteri Mahathir bin Mohammad (1997) dan Perdana Menteri Abdullah Ahmad Badawi (2011).

Sekarang tahun 2026, Prof. Irwandi masih aktif di IIUM, terbitkan paper baru soal gelatin ikan, dan bahkan jadi board member di Halal Centre Saudi Food and Drug Authority. Penemuannya sudah dipakai oleh pabrik-pabrik global.

Sumber: Kompas, Antara, X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

10 komentar

  1. Alhamdulillah.. turut bangga, meski pengembangannya didanai oleh Malaysia..
    Sharusnya hal ini menjadi PEMECUT & TAMPARAN buat Penguasa rezim negeri Nusantara ini! Biar sadar agar SDM² Potensial tidak pada lari ato diambil negara lain, meskipun Malaysia satu rumpun dgn Indonesia..

  2. Dari fakta ini sepertinya ‘Kabur Aja Dulu” memperoleh alasan yg logis. Seorang ilmuan saja ditelantarkan oleh pemerintah negaranya , apalagi rakyat kebanyakan. Maka Teruslah Bodoh Jangan Pintar.

  3. terus maunya negara kita ngasih dana gede buat riset gitu? o ngga bisa dongggg. dana gede itu khusus buat mbg & kmo. orang² pinter, akademisi, ilmuan kalau kepengen dana riset gede nyari aja sendiri ke negara lain

  4. Kata gerombolan TerMul dan TerWo: “itu pasti profesor Kadrun Yaman.’ Lagian ngapain juga sih pentingnya bikin penemuan untuk mendeteksi babi dan alkohol? Harusnya para kadrun itu toleren lah kepada masyarakat yang mengkonsumsi babi dan alkohol.

    Netizen cerdas: “ya begitulah kualitas OTAK kosong tanpa AKAL yang dimiliki TerMul dan TerWo. Sama seperti isi kepalanya si af dan si Anonim pendukung garis keras Mbah Wowo antek aseng, Gemoy omon omon!”

  5. ini service utk ummat.. Islam ga pandang ras, bangsa.. trima kasih jiran kami Malaysi..
    ☝🏻👇
    utk Indonesi.. gmn ini dana r&d_nya..!?