Berat Pak Pur

Kemarin Rupiah tembus 17.500 per dolar. Psikologis pasar udah kena.

Di pasar keuangan, ada yang namanya ambang psikologis. Ketika level tertentu tembus, sinyal yang terbaca oleh investor bukan lagi “rupiah sedang koreksi” tapi “pemerintah tidak mampu menjaga stabilitas mata uang.” Dari situ dampaknya akan muncul: investor akan jual rupiah karena takut turun, dan karena banyak yang jual maka rupiah pun terus turun.

Pemerintah lalu gerak dengan BSF, Bond Stabilization Fund. Sederhananya, Pemerintah melakukan pembelian (buyback) obligasi di pasar, supaya dana yang mau kabur ke luar tertahan, dan yield (imbal hasil/tingkat keuntungan investasi) obligasi tidak naik. Ini dua hal yang krusial karena kalo dana keluar terus maka rupiah semakin terpuruk, dan peningkatan yield obligasi malah semakin memperberat utang.

Tapi ini cuma bisa sementara, karena PR nya masih banyak.

1. Masalah pertama: amunisi terbatas. Cadangan devisa Indonesia sekitar 150 miliar dolar. Sepertinya besar, tapi dalam tekanan spekulatif yang serius, angka itu bisa terkuras cepat. Thailand dulu punya cadangan besar juga sebelum bath-nya kolaps di 1997.

2. Masalah kedua: BSF tidak menyentuh akar masalahnya. Rupiah tertekan bukan karena tiba-tiba ada yang iseng jual. Tapi karena investor menimbang banyak hal, seperti defisit fiskal yang melebar, ekspor yang tumbuhnya cuma 0,90% di Q1, dan dolar global yang memang sedang menguat. BSF ga menyelesaikan masalah ini.

3. Masalah ketiga: jika yield dipertahankan sementara risikonya nyata, investor asing justru makin enggan masuk, karena mereka tahu bahwa imbal hasilnya tidak sebanding dengan risikonya. Ngapain nyimpen duit di obligasi dalam rupiah yang penurunannya dalam satu semester ini sudah mendekati keuntungan obligasi? Ya mending cabut dan nyimpen dolar.

Jadi BSF ini memang bisa memadamkan api hari ini, tapi jika bangunannya tidak diperbaiki, api berikutnya tinggal tunggu waktu.

Yang perlu diperhatikan ke depan adalah, apakah setelah ini rupiah stabil karena fundamentalnya membaik, atau stabil karena amunisinya belum habis? Di permukaan keduanya terlihat sama. Tapi konsekuensinya sangat berbeda.

(Fahmi Hasan Nugroho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 komentar

    1. fetish kadrun kan memang pen lihat penimpin jatoh, mimpi basah kadrun sejak dulu akibat ketularan fetish spt di timteng modern yg doyan revolusi

      1. cieee…BabRun…cieee…
        lu nyesel ya Babi dengan pilihan lu yg terbukti berkualitas jongkok itu⁉️ Terus lu mau ngeles nyalahin kami lagi, dasar Babi guRun lu‼️🐷🐷🐷🐷