Kenapa tahun 1998 saat Rupiah anjlok ke 16.000, rakyat langsung turun ke jalan, tapi sekarang di 17.500 pada diam?

Mungkin ada yang bertanya, “Kenapa tahun 1998 saat Rupiah anjlok ke 16.000, rakyat langsung turun ke jalan, tapi sekarang di 17.500 pada diam?”

Ini terletak pada kecepatan devaluasi/jatuhnya mata uang.

Pada 1998, Rupiah anjlok dari kisaran 2.500 ke 16.000 hanya dalam hitungan bulan.

Jelaslah ini bikin shock therapy yang meruntuhkan daya beli secara instan dan jelas bisa memicu kepanikan dan revolusi.

Sementara saat ini, pelemahan terjadi secara gradual layaknya sindrom “katak dalam panci yang direbus perlahan”.

Harga beras naik sedikit demi sedikit, ongkos transportasi merangkak naik, dan porsi makan di warteg mengecil secara diam-diam.

Rakyat terlalu sibuk beradaptasi dan mencari kerja tambahan ekstra keras dari hari ke hari, sehingga energi untuk berontak sudah habis tersita di jalanan dan di tempat kerja.

Sehat selalu semua yahh guys 💕💕

BY @Asura0599

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6 komentar

  1. si af dan si Anonim BabRun pendukung garis keras mbah Wowo aNTEK asing Gemoy omon omon yg pengangguran pun tak merasakan kalau negeri ini semakin terpuruk‼️

  2. karena rakyat sdh di adu domba. itu aja. buzzer dan penjilat dipelihara , yg pro pemerintah dikasih kenyamanan hidup. dan org2 inilah jadi tameng nya pemerintah. ga peduli seberapa menderitanya masyarakat yg lainnya.

  3. masalahnya tahun 1998 selisih rupiah dengan dolar terlalu jauh 6 kali lipat. Dari Rp.2.500 per dolar jadi Rp.16.000 per dolar. Tapi ada satu hal yang luput dari perhatian publik, bersatu nya golongan kristen Katholik dan Protestan untuk menjatuhkan Soeharto di danai Amerika Serikat dgn memanfaatkan para mahasiswa GOBLOK jadi pahlawan kesiangan nya. Dan hasilnya setelah reformasi, Korupsi sistemik yang akut, para Aseng dan asing menguasai sumber daya dan ekonomi, para pejabatnya semakin gila kekuasaan dan rakyat semakin sengsara menanggung 10 ribu trilyun hutang luar negeri. hebatkan !!!