SORBAN, MINYAK DAN DANSA DI PADANG PASIR
Kalau ada negeri yang nasibnya persis seperti menantu kaya di tengah keluarga besar yang cerewet, itulah Arab Saudi.
Dia dipuji karena amplopnya tebal, tapi dirasani (digunjingkan) karena cara berpakaiannya dianggap aneh oleh tetangga sebelah rumah.
Saudi ini memang ajaib. Di satu sisi dia adalah imam shalat yang bacaannya paling fasih, tapi di sisi lain dia dituduh sebagai pengawal setia Paman Sam yang paling rajin membawakan tas belanjaan.
Membicarakan Saudi itu ibarat makan sambal terasi di siang bolong; keringatan, bikin sakit perut, tapi kalau tidak ada, rasanya hidup kurang bumbu.
Banyak orang melihat Saudi dengan “kacamata kuda”, atau mungkin lebih tepatnya kacamata yang kacanya sudah burem kena debu padang pasir. Begitu mendengar kata “Saudi”, pikiran kita langsung memutar kaset lama: radikal, intoleran, antek Amerika, sampai isu elitnya yang hidup glamour melebihi bintang Hollywood.
Antara Kiblat dan Gedung Putih
Bagi sebagian saudara kita, Saudi adalah benteng terakhir kesucian. Seolah-olah kalau ada nyamuk lewat di Riyadh, nyamuknya pun punya sanad yang jelas.
Tapi bagi kelompok lain, Saudi adalah pengkhianat ulung. Mereka bilang, Saudi ini kalau shalat menghadap Ka’bah, tapi kalau urusan dompet dan keamanan, telinganya dipasang kencang-kencang ke arah Washington DC.
Ini memang sarkasme tingkat tinggi yang disediakan oleh sejarah.
Bayangkan saja, sebuah negeri yang memegang kunci dua kota suci, tapi tangannya yang lain memegang erat kontrak pembelian jet tempur buatan Texas.
Ini ibarat seorang kiai yang khotbahnya menggelegar tentang bahaya gaya hidup Barat, tapi pulang khotbah dia naik Harley Davidson sambil dengerin Elvis Presley.
Aneh? Ya memang. Tapi itulah dunia, bung! Isinya memang kontradiksi yang dibungkus rapi dengan jubah dan sorban.
Tuduhan “Antek Amerika” ini sudah menempel seperti daki yang susah luntur meski sudah digosok pakai sabun batangan paling keras sekalipun.
Hubungan Saudi dan Amerika itu romansa yang bikin bingung. Mereka benci tapi butuh, seperti pasangan suami-istri yang setiap hari bertengkar soal uang belanja tapi tetap saja punya anak sepuluh.
Saudi butuh perlindungan agar kursinya tidak digoyang tetangga, sementara Amerika butuh minyak agar mobil-mobil di California tidak mogok di tengah jalan.
Sebuah simbiosis mutualisme yang membuat malaikat mungkin geleng-geleng kepala sambil mencatat.
Revolusi di Balik Cadar

Lalu munculah Pangeran Muhammad bin Salman (MBS). Anak muda satu ini seolah ingin membuktikan bahwa gurun pasir pun bisa dipasangi AC sentral.
Tiba-tiba saja, Saudi yang dulu kaku seperti kerah baju yang kebanyakan kanji, berubah jadi lentur.
Perempuan yang dulu dilarang pegang setir mobil—mungkin karena takut menabrak norma—sekarang sudah jago injak gas. Bahkan, konon katanya, sekarang sudah ada konser musik di sana.

Ini yang bikin pusing sebagian orang di Indonesia yang “lebih Saudi dari orang Saudi sendiri”. Mereka yang sudah terlanjur memelihara jenggot sepanjang penggaris dan mengharamkan musik, mendadak kena mental breakdown.
Bayangkan, pusat “paham” yang mereka bela mati-matian malah mengundang penyanyi pop yang pakaiannya lebih irit daripada kain serbet.
Saudi sekarang sedang menuju “Liberal-Sekuler”, kata para kritikus sambil mengelus dada. Mereka kaget melihat bioskop dibuka. Padahal, apa salahnya menonton film? Daripada menonton kelakuan politikus kita yang lebih drama dari sinetron streaming, tentu lebih sehat menonton Tom Cruise melompat dari pesawat. Tapi begitulah, bagi penganut teori kiamat yang sudah dekat, setiap bioskop yang buka di Riyadh dianggap sebagai satu langkah lebih dekat menuju tiupan sangkakala.
Elit Glamour dan Perut Rakyat
Kita sering dengar cerita tentang pangeran-pangeran Saudi yang kalau liburan membawa rombongan yang panjangnya melebihi antrean bansos. Mereka menyewa hotel satu lantai, memesan makanan yang harganya bisa buat beli sawah di kampung kita, dan hidup dalam kemewahan yang bikin kita merasa miskin tujuh turunan.
Di sini letak lucu dan getirnya. Sementara mereka bicara tentang “kembali ke ajaran salaf”, gaya hidupnya lebih mirip kaisar Romawi yang sedang mabuk kemenangan. Ini yang disebut “Wahn”—cinta dunia dan takut mati—tapi dalam level yang sudah pakai topping emas 24 karat. Mereka memegang teguh diktatorisme dan feodalisme seolah-olah itu adalah rukun iman tambahan. Rakyat disuruh sabar dan qanaah, sementara pimpinan puncaknya bingung mau menaruh kapal pesiar di mana lagi karena pelabuhan sudah penuh.
Namun, jangan salah. Biar begitu, Saudi tetaplah pemimpin dunia Islam di mata banyak orang. Kenapa? Ya karena mereka punya Ka’bah. Itu kartu as yang tidak bisa dilawan oleh negara manapun. Mau senakal apa pun kelakuan elitnya, kalau musim haji tiba, semua orang tetap harus sujud ke arah sana. Saudi tahu betul posisi tawarnya. Mereka memegang “hak veto spiritual” seluruh umat Muslim.
Menanti Akhir Cerita di Padang Pasir
Dunia Islam saat ini seperti sedang menonton pertunjukan akrobat di atas tali. Di satu sisi ada keinginan untuk maju, modern, dan sejajar dengan bangsa lain. Di sisi lain, ada beban sejarah dan beban “kesucian” yang harus dipikul. Saudi mencoba melakukan keduanya: dansa dengan Amerika, tapi tetap ingin jadi imam shalat global.
Apakah mereka munafik? Ah, istilah itu terlalu berat. Mari kita sebut saja mereka sedang “beradaptasi dengan nakal”. Mereka ingin mencicipi nikmatnya dunia sekuler tanpa harus melepaskan jubah kebesarannya. Seperti orang yang sedang diet tapi diam-diam makan gorengan di pojokan dapur saat malam hari.
Pada akhirnya, kita yang di luar ini hanya bisa menonton sambil sesekali bergunjing di warung kopi. Mengkritik Saudi itu gratis, tapi pergi ke sana butuh biaya yang mahal dan antrean yang panjangnya bisa bikin kita tua di jalan.
Kita sering menghujat mereka sebagai “Antek Amerika”, tapi kalau ada tawaran beasiswa atau bantuan dana dari Riyadh, kita tetap saja berebut seperti anak kecil mengejar tukang es tung-tung. Itulah sifat dasar manusia: idealis di mulut, tapi pragmatis di perut.
Saudi akan tetap menjadi misteri yang dibungkus sorban. Sebuah negeri di mana kemewahan masa kini bertabrakan dengan tradisi masa lalu, dan di mana kepentingan politik seringkali lebih nyaring suaranya daripada suara muazin di waktu subuh. Kita hanya perlu menonton dengan santai, jangan terlalu fanatik membela, jangan terlalu nafsu menghina. Karena di panggung dunia ini, seringkali yang paling suci di depan kamera adalah yang paling lihai bersandiwara di belakang layar.
Tabik
(The Argumentator)







apa hasil zoom nya?
penguasa arab sekarang buan cuma antek tapi jongos kafir penjajah.
barbuk yg nyata ialah base militer US di tanah Saudi..
👆👇
digunakan utk kpentingan perang US & dukungan utk skutunya di kawasan trmasuk zionis..
kalo bukan karena kabah & madina gw ogah kesana