Ketika IRAN-SAUDI Berusaha Berdamai 🇮🇷🇸🇦

KETIKA REPRESENTASI WAHABI DAN SYIAH BERUSAHA BERDAMAI🇮🇷🇸🇦

“Menteri Luar Negeri Iran🇮🇷 Abbas Araghchi, yang sedang berada di Beijing untuk melakukan pertemuan dan konsultasi dengan para pejabat Tiongkok, hari ini melakukan percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi🇸🇦 Faisal bin Farhan Al Saud.

Dalam percakapan tersebut, kedua pihak meninjau perkembangan terbaru di kawasan dan menekankan pentingnya melanjutkan upaya diplomatik serta kerja sama antarnegara regional guna mencegah dan meredakan eskalasi ketegangan.”

Demikian kabar resmi dari Iran kemarin. China dalam hal ini menjadi “broker perdamaian,” setelah rundingan AS-Iran gagal.

Kemungkinan penurunan ketegangan dan perbaikan relasi (walau sementara) Iran dan Saudi mendapat perhatian karena ada potensi mengurangi ketegangan secara lebih signifikan.

Selain itu, salah satu yang menarik para pengamat adalah karena secara historis dan ideologis, kedua negara itu sejak lama merepresentasikan dua aliran agama dan ideologi yang berlawanan, Wahabi dan Syiah. Bagaimana keduanya akan berdamai?

Berikut ringkasan sebagian analisis dan teori dari para pengamat geopolitik dan isu keagamaan:

Jika Iran dan Arab Saudi benar-benar berdamai (atau setidaknya menjaga rekonsiliasi dalam jangka panjang), ketegangan antara Wahabisme dan Syiah kemungkinan besar akan mereda di tingkat negara dan proxy dan sebagian masyarakart.

Sebelum konflik 2026 ini, sebenarnya para pemimpin kedua negara sudah jarang sekali saling tuduh “Wahabi ekstremis-radikal” dan tidak lagi banyak muncul narasi takfiri “Syiah bukan Islam”. Fokus bergeser ke kerjasama ekonomi, perdagangan minyak, stabilitas Teluk, toleransi agama dan pariwisata.

Meski demikian, di tingkat warga masyarakat, ketegangan sektarian ini sulit dihapus. Ketegangan sektarian mungkin menurun, terjadi periode damai yang dingin, hanya saling waspada. Namun sektarianisme ini akan tetap dipelihara oleh elit politik, baik itu oleh elit GCC dan Iran maupun oleh Barat, terutama oleh Isrhell dan AS yang sangat aktif mengompori perpecahan Sunni-Syiah dengan berbagai macam cara agar tidak terjadi aliansi Sunni-Syiah yang bisa membahayakan kepentingan Israel dan AS di kawasan teluk.

Jadi perseteruan historis antara sunni, terutama wahabisme, dengan syiah akan tetap ada di akar rumput; damai di tingkat elite negara tak otomatis hapus kebencian sektarian seratus persen. Dan persaingan geopolitik Saudi-Iran soal pengaruh Teluk masih berlanjut, walau tak lagi pakai narasi Sunni vs Syiah sebagai alat.

Perkembangan setahun terakhir 2025-2026 menunjukkan ada sedikit perbaikan relasi Arab Saudi dengan Iran. Kuota Haji untuk Iran, dipulihkan, dan ada penerbangan langsung Mashhad-Dammam, dan fakta Saudi mendukung Iran pasca konflik dengan Israel tahun 2025 menunjukkan masih ada solidaritas Islam lintas mazhab di sana.

Pada tahun lalu Saudi, Turki, Qatar (Sunni) dan Iran (Syiah) bekerja sama via Oman untuk mencegah serangan militer ke Iran, dan memprioritaskan stabilitas regional daripada konflik. Selain itu Saudi tidak lagi mengganggu peziarah Syiah ke Najaf/Irak, dan makin sering muncul narasi “solidaritas Islam” baik itu oleh Khameini maupun MBS, karena sebagian ulama di sana sudah mengikuti jejak mayoritas ulama yang tetap memandang Syiah adalah Islam.

Bahkan dalam perang 2026 ini elit Arab Saudi maupun Iran tampak tidak memainkan isu Sunni-Syiah ketika kedua negara mengalami masa ketegangan tinggi pada Februari-Maret 2026 lalu.

Namun kelompok radikal yang tersebar di berbagai negara tetap berprinsip bahwa Syiah bukan Islam. Jalan menuju rekonsiliasi dalam aspek agama ini memang masih jauh.

(Triwibowo Budi Santoso)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

  1. kenapa agama saudi dicitrakan wahabi… saudi itu negeri tempat lahirnya agama ISLAM bukan wahabi, jadi jangan dipelintir jadi wahabi karena itu bukan agama