Karamah Seekor Kucing
✍🏻Syaikh Dr. Usamah Al-Asyqar hafizhahullah
Berita tentang karamah/keajaiban dari Allah—yang dialami para pejuang di garis depan (Gaza) terus mengalir kepadaku dari berbagai sumber. Banyak di antara mereka tidak aku kenal secara pribadi, namun aku meyakini kejujuran mereka. Meski demikian, aku telah berkomitmen untuk hanya menuliskan kisah yang sumbernya benar-benar dapat dipastikan, yang perawinya kukenal, dan yang telah mencapai tingkat keyakinan yang kuat akan kebenarannya.
Seorang sahabat tepercaya menuturkan sebuah kisah menakjubkan yang dialami langsung oleh para pelaku di lapangan. Kisah ini bermula ketika lima orang pejuang terdesak dalam pertempuran. Mereka terpaksa masuk ke sebuah rumah kosong secara sembunyi-sembunyi dan bersembunyi di loteng sempit—sebuah ruang penyimpanan di atas plafon dapur yang menghadap ke ruang tengah. Ukurannya hanya sekitar 2 × 1 meter.
Tak lama kemudian, sekelompok tentara musuh memasuki rumah tersebut dan menjadikannya sebagai pusat operasi lapangan. Mereka memantau situasi, beristirahat, bahkan memasak di sana selama 24 jam tanpa meninggalkan tempat itu.
Narasumberku berkata:
“Kami bertahan di loteng itu selama tiga belas hari. Kami menyambung hidup dari sisa bahan makanan yang ditinggalkan penghuni rumah sebelum mengungsi. Air yang kami miliki sangat terbatas—hanya cukup untuk membasahi bibir dan tenggorokan dengan seteguk kecil, hingga akhirnya habis sama sekali.
Suatu saat, salah satu dari kami memberanikan diri turun ketika sebagian besar tentara sedang tidur, sementara yang lain sibuk dengan ponsel mereka. Saat ia mengambil sedikit air, botol plastik yang dibawanya mengeluarkan suara berderit. Ia segera bersembunyi, dan kami semua bersiap menghadapi kemungkinan terburuk—takut keberadaannya terbongkar.
Namun tiba-tiba, seekor kucing kecil mengeong di tempat itu. Para tentara tertawa dan mengira suara tadi berasal dari kucing tersebut. Mereka pun kembali melanjutkan aktivitas mereka. Kami tertegun—bagaimana kucing itu datang tepat pada waktunya, seolah menjadi sebab keselamatan kami atas izin Allah.”
Selama bersembunyi, mereka hanya berkomunikasi dengan bisikan. Waktu diisi dengan membaca Al-Qur’an, berdoa, dan memperbanyak shalawat kepada Rasulullah ď·ş. Mereka berharap pertolongan Allah, sebagaimana disebutkan dalam hadits Ubay bin Ka’ab: “Jika demikian, maka urusanmu akan dicukupkan dan dosamu akan diampuni.”
Kebetulan, para tentara membawa dua generator listrik yang suaranya sangat bising. Hal ini justru menjadi penutup bagi suara bisikan dan gerakan mereka.
Dalam kondisi tersebut, mereka bertayamum untuk bersuci, dan sangat jarang buang hajat karena tubuh melemah akibat minimnya makanan dan hampir tidak adanya air.
Ada pula kejadian ganjil: salah seorang pejuang sempat bertatapan langsung dengan seorang prajurit musuh yang sedang melakukan push-up sambil mendongakkan kepala. Namun anehnya, prajurit itu tidak melihatnya sama sekali—bahkan peristiwa itu terjadi lebih dari sekali.
Pada hari ke-13, pertolongan Allah akhirnya datang. Setelah salat Subuh, salah satu dari mereka tertidur dan bermimpi bertemu ayahnya—seorang komandan yang telah gugur sebagai syahid. Dalam mimpi itu, sang ayah berkata: “Kemudahan akan datang hari ini. Tetaplah kalian bershalawat kepada Nabi ď·ş.”
Ia segera membangunkan rekan-rekannya. Mereka pun memperbanyak shalawat bersama. Tak lama kemudian, hanya dalam hitungan jam, para tentara musuh tiba-tiba mengemasi perlengkapan mereka dan meninggalkan wilayah tersebut. Kelima pejuang itu akhirnya dapat keluar dari persembunyian dan kembali ke pos mereka dalam keadaan selamat.






