✍🏻Bung Iyut @kafiradikalis
Prabowo harus berhati-hati dengan gejala yang datang gak jauh dari episentrum kekuasaan.
Kelesuan ekonomi terkonfirmasi.
Daya beli masyarakat anjlok bukan hoax atau dongeng apalagi narasi menakut-nakuti (fear mongering). Ini nyata.
Angka pertumbuhan ekonomi 5,61% pada kuartal 1 yang baru dirilis kini menjadi isu yang menjadi pintu bagi rakyat awam untuk belajar mengkritisi data ekonomi “versi pemerintah”.
Karena bagi rakyat, “data ekonomi” yang mereka miliki yang sangat sederhana seperti pada berita di Bogor ini yang teramat simpel:
- Pelaku usaha tutup
- Buruh² di PHK
- Kunjungan wisatawan turun
TIGA KRITERIA itu adalah “data ekonomi” versi rakyat yang bisa dirasakan bahkan dilihat (dibaca) secara visual.
Nalar rakyat amat simpel bahwa setidak-tidaknya/sedikit-dikitnya 3 poin di atas bersumber dari daya beli yang menurun.
Ketika data ekonomi versi pemerintah (via BPS) yang rumit secara metodologis beradu tajam dengan “data ekonomi” versi rakyat yang bisa dirasakan secara indrawi, kira-kira mana yang bakal dipercaya oleh sebagian besar rakyat?






Coba sekali2 jalan2 ke mall di Bekasi, kosong melompong. Bbrp mall bahkan sdh lama tutup, setidaknya ada 2 (Blue Mall & Grand Mall). Giant Bekasi, Revo, GGP, Grand Metropolitan, tinggal tunggu waktu sj, tenant-nya sdh lari semua … Sepuluh thn terakhir negeri ini seperti salah arah kebijakan perekonomiannya …
era belanja onlen…
belanja onlen disukai karena:
1.harganya relatif lebih murah dr toko tradisional
2. barang di antar
3.tidak pusing keluar ongkos naik kendaraan dan parkir
inilah yg membuat toko tradisional satu persatu tutup
saya main ke pim weekend wah luar biasa rame terbukti rakyat makmur dan ekonomi kuat, apalagi pas libur panjag tgl merah itu sudah kaya pasar malam, hebat prabowo
(lanjutan) pantes aja ekonomi meroket 5,6%, semoga bisa capai 6% akhir tahun