REALITA DI BALIK ANGKA 5,61%

Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61%. Pendukung rezim tepuk tangan.

Bro, kalau perusahaan kamu laporan revenue naik 30%, tapi 80% karyawan gajinya masih di bawah UMR, itu bukan pertumbuhan. Itu namanya margin yang makin sehat buat yang di atas, beban yang makin berat buat yang di bawah.

BPS bilang PDB kita sekarang Rp6.187 triliun. Angka yang impressive banget di atas kertas. Tapi angka itu cara kerjanya seperti rata-rata — kalau saya punya Rp0 dan Bos Besar punya Rp10 miliar, rata-rata kita Rp5 miliar. Terdengar hebat. Tapi terasa mengerikan.

Sektor yang paling ngegas pertumbuhannya adalah sektor keuangan, komoditas, properti. Bukan sembarang orang bisa main di sana. Sementara sektor yang nampung paling banyak tenaga kerja adalah pertanian, informal, UMKM kecil-kecil tumbuhnya paling pelan.

Tapi, mari kita tarik kursi sedikit lebih dekat ke layar monitor.

Bayangkan kalian punya sebuah perusahaan besar. Di meeting tahunan, CEO bilang perusahaan untung besar. Semua tepuk tangan.

  • Tapi pas kalian cek payroll (gaji), ternyata bonus 90% dari total keuntungan itu cuma masuk ke kantong 1% jajaran direksi dan komisaris.
  • Sementara itu, 50% karyawan di level staf sampai kurir masih harus pusing mikirin cicilan motor karena gajinya cuma mentok di angka UMR, atau malah di bawahnya.

​Itulah yang lagi terjadi di “PT Indonesia” saat ini. Kita lagi ngerayain pertumbuhan ekonomi yang sebenarnya cuma dinikmati oleh segelintir orang di top floor.

​Lucunya, kita sering disuruh bersyukur karena angka makronya bagus. Ini analoginya kayak kalian lagi laper, terus tetangga sebelah rumah makan steak wagyu A5 sampai kekenyangan, terus rata-rata asupan kalori di RT kalian dinyatakan “sangat baik” oleh Pak RT. Padahal kalian cuma makan mie instan buat ganjel perut.

​Masalahnya, ekonomi yang modelnya numpuk di atas begini itu rapuh banget. Dalam teori bisnis, kalau customer base kalian nggak punya daya beli, cepat atau lambat produk kalian nggak bakal laku. Mau jualan apa kalau 50% rakyatnya cuma punya sisa uang buat bertahan hidup besok pagi?

​Kita lagi ngebangun struktur piramida yang puncaknya terlalu berat. Emasnya ada di pucuk, tapi fondasinya dari semen oplosan.

Jadi, kalau ada yang pamer angka 5,61% itu di feed kalian, senyumin aja.

Bilang ke mereka: “Wah, selamat ya buat 1% penduduk yang makin kaya. Semoga trickle down effect-nya nggak cuma mitos kayak janji pacar”.

​Jangan sampai kita bangga jadi “Macan Asia”, tapi macannya cuma ada satu, sisanya cuma suara back sound.

Stay sharp, Sob. Jangan cuma jago baca angka, tapi harus jago baca realita di balik angka.

(Bambang Sutrisno)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar