Antara angka-angka glowing dan kenyataan pahit sehari-hari

✍🏻Made Supriatma

Setiap hari mata uang kita, Rupiah, melorot. Gubernur BI mengatakan bahwa Rupiah undervalued. Artinya, kursnya tidak mencerminkan nilai yang sebenarnya.

Kita tahu bahwa banyak hal dalam ekonomi itu berdasarkan keyakinan dan kepercayaan. Bisa jadi Rupiah itu undervalued. Kenapa ia melorot karena orang tidak percaya pada nilainya.

Kemarin Badan Pusat Statistik mengeluarkan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2025. Ekonomi tumbuh 5,6%. Menteri Keuangan langsung melakukan pawai kemenangan (victory lap).

Tapi benarkah ekonomi tumbuh sedemikian tinggi? Banyak indikator justru melemah. Gelombang PHK terus terjadi.

Di lapangan politik lain lagi. Sebuah lembaga survei mengeluarkan hasil polling-nya. Popularitas Prabowo kabarnya 80%. Delapan puluh persen.

Tapi kalau kita kemana saja, tidak hanya di media sosial, banyak orang tidak puas. Bahkan buruh-buruh yang dikumpulkan di Monas kemarin langsung menjawab “tidak” ketika ditanya Prabowo apakah MBG bermanfaat atau tidak.

Memang ini tidak ada kaitannya dengan MBG tapi ini memperlihatkan ketidakyakinan terhadap program utama pemerintah.

Hari-hari ini kita disuguhkan sesuatu yang kontradiktif: antara angka-angka glowing yang berpihak pada pemerintah dan kenyataan pahit sehari-hari yang makin menekan.

Anda percaya pada siapa?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar