Gak Ngerti Lagi, Jago Banget Ngelesnya

Pernyataan kontroversial dari ribuan buruh saat peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di Monas terus menuai sorotan. Dalam momen yang turut dihadiri Presiden Prabowo Subianto, terdengar jawaban kompak “tidak” ketika ditanya soal manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG). Alih-alih menjadi evaluasi, respons tersebut justru direspons dengan klarifikasi yang dinilai sebagian pihak terkesan mengada-ada.

Presiden KSPSI, Andi Gani Nena Wea, buru-buru memberikan penjelasan atas viralnya potongan video tersebut. Ia menyebut jawaban “tidak” dari para buruh bukan bentuk penolakan terhadap program pemerintah, melainkan karena mayoritas yang hadir adalah buruh lajang.

Menurut Andi Gani, para buruh yang belum berkeluarga memang belum merasakan langsung manfaat dari program MBG, sehingga spontan menjawab tidak. Ia menegaskan bahwa hal itu tidak bisa diartikan sebagai bentuk kritik terhadap kebijakan pemerintah.

Namun penjelasan ini justru memicu tanda tanya. Pasalnya, program yang digadang-gadang sebagai kebijakan strategis nasional seharusnya memiliki dampak luas, tidak terbatas hanya pada kelompok tertentu saja. Jika manfaatnya belum dirasakan sebagian besar buruh, publik menilai wajar jika muncul respons jujur seperti yang terdengar di lapangan.

Di sisi lain, Andi Gani juga menegaskan tidak ada niat dari kalangan buruh untuk mempermalukan Presiden dalam acara tersebut. Ia bahkan memastikan hubungan antara serikat buruh dan pemerintah tetap berjalan harmonis.

Meski begitu, narasi “harmonis” ini kembali dipertanyakan. Banyak yang melihat klarifikasi tersebut lebih sebagai upaya meredam situasi ketimbang menjawab substansi persoalan, yakni sejauh mana efektivitas program MBG benar-benar dirasakan masyarakat luas, termasuk kalangan pekerja.

Alih-alih dijadikan bahan refleksi kebijakan, respons buruh yang muncul secara spontan justru seperti dipoles agar tidak menimbulkan kesan negatif terhadap pemerintah. Padahal, momen seperti ini seharusnya bisa menjadi cerminan kondisi riil di lapangan.

Perayaan May Day tahun ini pun akhirnya tidak hanya menjadi simbol persatuan buruh, tetapi juga memperlihatkan jarak antara klaim kebijakan dengan pengalaman nyata sebagian masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

13 komentar

    1. sebagai buzzer bayaran ternak prabowo, Lu wajib dukung dia karena komentar mu itu dibayar pakai uang 💵 hasil proyek korupsi makan beracun gratis itu 😂

  1. sasaran pertanyaannya yg keliru. mestinya nanyain mbg bermanfaat atau tidak itu ke juragan dapur sppg, pasti kompak jawab bermanfaat

  2. aneh sibuk klarifikasi… ngomong aja apa adanya : maaf pa itu respon spontan para buruh
    kami pun terserah buruh …
    kyk gitu boss…. jentelmen

  3. GOBLOK!!!! Wkwkwkwkwkkw

    Bani Monokotil emang gini ya kelakuan nya? dikira semua orang kaya mereka kali, akalnya ga jalan 🤣🤣

  4. Salah Wowo sendiri. Ngapain di hari buruh nanyain program MBG ? Kalau dia sering baca berita, dia pasti tahu jawaban buruh pun akan tidak sesuai harapan. Itu namanya pertanyaan yg mempermalukan diri sendiri.