War is Back?
Hormuz Letter melaporkan kemarin Iran meluncurkan rudal balistik dari Isfahan. OSINT (intelijen sumber terbuka) menyebut rudal itu mengarah ke jalur pelayaran Teluk dan kemungkinan serangan terhadap kapal tanker UEA (Uni Emirat Arab). Beberapa warga setempat melaporkan adanya ledakan keras di sekitar pelabuhan Jebel Ali di Dubai, yang merupakan pelabuhan Angkatan Laut AS terbesar di luar Amerika Serikat.
Kebakaran melanda kawasan industri perminyakan Fujairah di UEA menyusul adanya serangan pesawat nirawak (drone) Iran. Sejumlah rudal balistik juga dilaporkan diluncurkan dari Provinsi Bushehr, Iran menuju UEA. Sekitar jam 1 siang waktu setempat, Kementerian Dalam Negeri UEA mengirimkan peringatan ancaman rudal pertamanya dalam sebulan terakhir kepada masyarakat di Dubai dan Sharjah, yang menginstruksikan mereka untuk menuju ke tempat aman dan menjauh dari jendela.

Iran juga menghantam kapal milik UEA. UEA secara resmi mengecam serangan terhadap Kapal milik ADNOC saat sedang melintasi selat hormuz. ADNOC (Abu Dhabi National Oil Company) adalah perusahaan minyak nasional Abu Dhabi (semacam Pertamina kalau di Indonesia).

Rudal-rudal Iran bisa menjangkau Tel Aviv yang jaraknya lebih jauh daripada kota-kota di UEA (Abu Dhabi, Dubai, Shajarah, dan lain-lain). Jika Iran kemudian terus-terusan melakukan serangan yang sama dengan serangan ke Tel Aviv Maret lalu, apa jadinya UEA? Dan bagaimana reaksi Israel/AS atas kabar serangan ini? Kemungkinan akan terjadi perang lagi di sana.
Sementara itu, Trump telah secara terbuka minta bantuan kepada Tiongkok, serta negara-negara lain seperti Jepang dan Korea Selatan, untuk mengamankan jalur air tersebut.
Jadi, Amerika yang memulai perang ini, membom Iran selama berminggu-minggu, mengancam akan menghancurkan infrastruktur sipil Iran, menyita kapal-kapal kargo China di perairan internasional, memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran, mengancam memberi sanksi kepada China jika China bertransaksi dengan Iran, tetapi sekarang meminta China untuk membereskan kekacauan yang disebabkan oleh Amerika itu.
Pada 4 Mei Trump meluncurkan inisiatif baru untuk membuka Hormuz yang diberi nama Operation Freedom tapi dalih Trump sebagai gerakan kemanusiaan. Pengamat skeptis dengan alasan itu, sebab ngapain pake kapal perang untuk suatu gerakan kemanusiaan?

Jika Trump secara terbuka meminta bantuan China, itu bukan diplomasi. Tindakan itu seperti menelepon orang yang baru saja kau rampok untuk minta tolong membantumu mencari mencari dompetmu sendiri yang hilang.
Jika setelah ini perang benar-benar akan pecah, akankah Pak Jin Ping secara aktif berperan sebagai juru damai regional untuk melindungi kepentingan energinya, atau membiarkan AS menanggung risikonya sementara China mencari-cari celah yang menguntungkan mereka?
(Triwibowo Budi Santoso)







dikira Trumpet Iran kyk venezuela
“operation freedom”.. sptnya si tantrump mo taqiyah lg nih..