Pemerintah Siapkan CNG 3 Kg Pengganti LPG 3 Kg, Bahlil: Lebih Murah 40%. BENARKAH? APA ITU CNG? APA BEDANYA DENGAN LPG?

✍🏻Erizeli Jely Bandaro

Pemerintah berencana menggantikan LPG 3 kg dengan CNG, dengan klaim biaya bisa lebih murah hingga 40%. Sebelum membahas aspek efisiensinya, penting untuk memahami terlebih dahulu apa itu CNG dan LPG, serta perbedaan mendasarnya.

  • CNG (Compressed Natural Gas) adalah gas alam—utama berupa metana (CH₄)—yang berasal langsung dari sumbernya di bumi. Karakteristiknya lebih “murni” dan ringan.
  • Sementara itu, LPG (Liquefied Petroleum Gas) merupakan hasil sampingan dari pengolahan minyak dan gas, yang terdiri dari campuran propana dan butana, dengan sifat lebih berat dari udara.
  • Dari sisi hulu, biaya produksi CNG memang relatif lebih murah dibandingkan LPG.
  • Namun harga yang diterima konsumen rumah tangga tidak hanya ditentukan oleh biaya produksi, melainkan oleh keseluruhan sistem distribusi.

Pertanyaan kuncinya, bagaimana jika distribusi dilakukan melalui tabung, bukan jaringan pipa?

  • CNG memerlukan tekanan sangat tinggi, sekitar ±200–250 bar, dan dalam kondisi tersebut tetap berbentuk gas, tidak menjadi cair.
  • Berbeda dengan LPG yang berbentuk cair sehingga memiliki densitas energi yang jauh lebih tinggi.
  • Implikasinya, untuk kapasitas energi yang sama, tabung CNG harus berukuran lebih besar dan berdinding lebih tebal. Bobotnya bisa mencapai 5 hingga 10 kali tabung LPG.
  • Selain itu, proses pengisian ulang CNG membutuhkan kompresor bertekanan tinggi, konsumsi listrik yang besar, serta waktu yang lebih lama.
  • Faktor-faktor ini membuat biaya distribusi dan operasional menjadi jauh lebih mahal dibandingkan LPG.
  • Belum lagi, harga tabung bertekanan tinggi tersebut tidak mudah dijangkau oleh sebagian besar rumah tangga.
  • Dengan demikian, jika pemerintah ingin menggantikan LPG dengan CNG dalam skema berbasis tabung, maka diperlukan investasi besar dalam infrastruktur, mulai dari stasiun kompresi, sistem distribusi khusus, hingga penyediaan tabung bertekanan tinggi.
  • Dalam skenario ini, klaim harga lebih murah 40% menjadi sulit direalisasikan—bahkan berpotensi lebih mahal.
  • Sebaliknya, jika tujuan efisiensi ingin benar-benar dicapai, pendekatan yang lebih rasional adalah pembangunan jaringan pipa gas langsung ke rumah tangga (city gas), seperti yang telah diterapkan di negara-negara seperti Iran dan Pakistan. Dalam sistem ini, biaya kompresi dan logistik dapat ditekan secara signifikan, sehingga gas alam benar-benar dapat dinikmati dengan harga yang lebih murah oleh masyarakat.

Moga pak Bahlil paham.

https://www.liputan6.com/bisnis/read/6327470/pemerintah-siapkan-cng-3-kg-pengganti-lpg-3-kg-bahlil-lebih-murah-40-persen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar

  1. bayangin tukang cilok keliling, bakso keliling, nasgor keliling, bahlan kue putu pake gerobak kecil kudu ngegotong tabung yg gede & berkali lipat lebih berat daripada tabung melon 3kg

  2. slama masih dalam cengkraman sistem kapitalis, sy skeptis rencana harga lbih murah buat rakyat dpt terealisasi nyata.. Sdh lah orang²nya banyak bukti tidak amanah, presidennya boros anggaran yg ga penting² amat.. Ditambah bnyk hal kasus yg tidak tertangani dengan baik sperti Bencana Nasional Sumatera..

    Kcuali ada prubahan pundamental & mndasar yang menyeluruh! Inilah yang mksdkan hrs ada prubahan paradigma ideologis!

    Di Iran cukup berhasil brtahan dari Embargo AS puluhan tahun, hingga bisa memasok Energi Listrik utk semua warganya, karena landasan ideologis.. Meskipun ideologis versi mereka..

    Indonesia klo mau bener², harus ada paradigma ideologis yg tentu saja harus ditopang oleh SDM² yang kredibel & amanah..