
Dosa Iran?
Trump baru saja menulis di akun medsosnya: Iran sudah mengirimkan sebuah proposal negosiasi kepada Amerika.
Tetapi, proposal itu kemungkinan besar akan ditolak karena menurut Trump: Iran belum menerima hukuman yang cukup atas “apa yang mereka lakukan terhadap kemanusiaan dan dunia” selama 47 tahun terakhir.
Terlepas benar/tidak Iran mengirim proposal (karena Trump amat sering berbohong), pernyataan ini kembali membuka kedok AS, bahwa perang ini sama sekali bukan soal nuklir. Kalau soal nuklir, harusnya perang berhenti ketika peluang negosiasi dibuka.
Tapi Trump justru bilang, “Iran harus dihukum atas perbuatannya selama 47 tahun terakhir.” Apa yang dilakukan Iran selama 47 tahun terakhir?
Sebelum menjawabnya, kita ingat dulu, apa yang dilakukan AS dan Barat secara umum selama ratusan tahun terakhir. Kalau perang boleh dilanjutkan karena alasan dendam sejarah, maka negara-negara Global South justru punya alasan jauh lebih besar untuk membalas kejahatan lama Barat.
Dosa Prancis di Aljazair
Dosa Inggris di India
Dosa Amerika di Vietnam
Dosa Amerika di Irak
Dosa Israel dan sponsor-sponsornya di Palestina
Dan Iran?
Iran punya memori yang sangat nyata: AS mendukung Presiden Irak Saddam Hussein dalam perang 8 tahun, dimana Irak memakai senjata kimia dan menewaskan ratusan ribu warga Iran; ratusan ribu lainnya hidup cacat.
Jadi apa sebenarnya kejahatan Iran terhadap umat manusia selama 47 tahun terakhir?
Apakah Iran menyerang Amerika?
Tidak.
Apakah Iran menjajah negara lain?
Tidak.
Dosa terbesar Iran di mata Washington hanya satu: menolak patuh.
Maka makin jelas, isu nuklir hanyalah bungkus.
Yang sedang dijalankan Amerika adalah perang penghukuman terhadap negara yang selama puluhan tahun gagal mereka jinakkan.
Yang tidak bisa diterima “imperium” (dipimpin AS) adalah fakta bahwa setelah 47 tahun dicekik sanksi, diisolasi, disabotase, diperangi, Iran ternyata masih berdiri dan melawan.
(Dina Sulaeman)






