Pejabat halu

Pejabat satu ini betulan profesor atau bukan sih?

Duh Rabbi, kalian itu hanya ngasih makan 1x sehari, selama 6 hari. Berapa kalori yg kalian kasih ke anak-anak? Paling mentok 700 kalori.

Berapa kebutuhan kalori anak-anak ini? 2000-an.

Gimana rumusnya itu anak-anak akan tinggi saat kalian cuma ngasih makan 1x sehari?

Anaknya di rumah makan apa?

2x di rumah itu anak makan apa saat orang tuanya kerja serabutan, penghasilan kadang ada kadang nggak, gaji rendah?

JEPANG, juga CHINA yang sukses, anak-anak mereka memang tumbuh tinggi karena penghasilan orang tuanya betulan naik pesat.

Tahun 1997, pendapatan per kapita China itu masih di bawah Indonesia.

2026, pendapatan per kapita Indonesia hanya 1/3 nya saja China.

Di Jepang, gaji rata-rata minimum Rp500 juta per tahun.

Di Indonesia? Rp500 juta untuk 2000 bulan.

Ngalah-ngalahin Lailatul Qadr.

Saat penghasilan orang tuanya naik pesat, maka tanpa MBG sekalipun, generasi berikutnya akan lebih tinggi, lebih gagah. Lah, elu kasih makan 1x sehari, orang tuanya kerja serabutan, nggak masuk mimpi-mimpi kalian itu.

Dan mulailah ngaca, Dadan, menu MBG seupil gitu kamu klaim bergizi? Protein tinggi? Kalori sampai 700? Halu.

(Tere Liye)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

13 komentar

  1. Jumlah kalori pada menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jakarta disesuaikan dengan tingkat pendidikan, dengan rata-rata kebutuhan harian yang dipenuhi sekitar 20-35% dari total kebutuhan energi harian anak.Berdasarkan pedoman yang berlaku di 2026, berikut adalah rincian kalori per porsi untuk wilayah Jakarta:SD (Kelas 1-6): 400 – 500 KaloriSMP: 500 – 600 KaloriSMA/SMK: 600 – 700 KaloriKomposisi Menu MBGMenu yang disajikan telah disusun mengikuti standar Angka Kecukupan Gizi (AKG) Kemenkes melalui Badan Gizi Nasional (BGN).

  2. makan 15 rebu aja dipotong buat oplosan korup diatas plus operasional, sisanya yg dikasih buat anak2 masyarakat… LAKNAT ga tuh ngaku2… sadarlah kaw DAJJAL

  3. BGN meragukan intelektual orangtua, sampai turun tangan menyuapi anak2 makan saat di sekolah… & menjudge program paling penting mengabaikan peran orangtua…. terus diulang2 mirip strategi propaganda israel… kesalahan dinormalisasi…menutup pikiran kritis rakyat.