Republik Nyolong

Republik Nyolong

Menteri-menterinya menandatangani pakta integritas anti korupsi. Presidennya pidato kenceng soal anti korupsi. Suaranya sampai serak berteriak dan selalu diiringi sorak-sorak.

Bahkan ada podium pecah karena digebrak. Makin kencanglah sorak-sorak.

Namun rupanya korupsi makin kencang saja di negeri aneh dan kadang lucu ini. Orang nyolong dimana-mana. Sebagian besar karena terpaksa — untuk mengganjal perut dengan nasi kerupuk.

Namun sebagian kecil di kelas paling mulia nyolong paling brutal. Sangat brutal dan keji. Apa saja dimakannya. Mulai dari perjalanan mewah hingga ke jatah anak-anak miskin! Semua dicolong!

Lalu, bagaimana dengan pemimpin tertinggi? Apakah dia hidup di planet yang sama dengan kita para jelata ini? Apakah dia hidup menginjak tanah, kecuali di istana pribadi yang megah, mobilnya yang gagah, atau pesawat kenegaraannya yang mewah itu?

Sodara, berteriak anti korupsi hingga urat leher putus itu satu soal. Namun ada soal lain yang lebih penting: sebuah sistem yang memperkecil atau syukur-syukur menghilangkan korupsi.

Sebuah sistem yang bisa mengawasi orang-orang yang berkuasa. Sebuah sistem yang menghukum berat para maling, pencoleng, dan tikus-tikus pengerat yang menghancurkan Republik ini.

Kita harus berasumsi bahwa para pemegang kekuasaan adalah para tikus, maling, dan tukang tipu. Mereka tidak bisa dituntut dengan nilai moral atau agama. Karena bagi mereka moral atau agama itu celah untuk maling!

Terus terang, selama saya mengamati perpolitikan negeri ini, belum pernah saya melihat korupsi yang seterang benderang seperti sekarang ini. Juga belum pernah saya lihat pemimpinnya yang berjanji dihadapan rakyat untuk sangat-sangat anti korupsi.

Mengapa ada jarak antara janji dan kenyataan?

Jawabnya cukup sederhana. Karena ia yang berkuasa tidak mau diawasi. Ketika orang-orang yang hendak mengawasi dan memperingatkan penyelewengan ditindas dan disiram air keras!

Talk is cheap. Omongan itu murah belaka.

Jendral Charles De Gaulle, presiden Perancis pernah berkata, “Since a politician never believes what he says, he is quite surprised to be taken at his word.”

“Karena seorang politisi tidak pernah percaya pada apa yang dia katakan, dia cukup kaget ketika omongannya dipercaya begitu saja.”

Bagaimana dengan Jendral yang satu itu?

(Made Supriatma)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 komentar

  1. Koar2 mau berantas korupsi sambil marah2 dan gebrak2 meja, semua cuma akting. Pulang ke istana dikeloni bunted lgs lemes …