✍🏻Estining Engky Pamungkas
Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi di lingkungan Sekretariat Jenderal MPR RI, Indri Wahyuni tak akan menyangka, jika pembelaannya kepada seniornya sesama juri LCC MPR RI, bakal menuai gelombang protes netizen Indonesia Raya.
Berawal dari seorang siswa SMA N 1 Pontianak yang telah menjawab benar pertanyaan Juri bernama Dyastasita WB (Kepala Biro Pengkajian Konstitusi di Sekretariat Jenderal MPR RI), tapi kemudian disalahkan. Sementara, saat peserta dari sekolah lain menyampaikan jawaban yang persis sama, malah dibenarkan.
Karuan, siswa SMA N 1 Pontianak tersebut mengajukan keberatan. Dengan sopan, dia menyampaikan bawah jawaban dia persis sama mengapa disalahkan?
Alih-alih minta maaf, rekan juri lainnya, Indri Wahyuni justru balik menyalahkan siswa tersebut, dengan alasan artikulasinya tidak jelas,. Ntah mengapa tetiba pikiran saya melayang pada juri akademi fantasi yang dulu rutin tayang selama lebih dari satu dekade sejak 2003. Tapi ini bukan lomba nyanyi, ini Lomba Cerdas Cermat!
Pertanyaannya: Mengapa Bu Indri memilih sikap menyalahkan peserta, dan membela rekan juri lainnya?
Kalau menurut pendapat saya: Intinya malu mengakui kesalahan, anti kritik. Sehingga saat ada pihak yang dia anggap ‘dibawahnya’ entah itu lebih muda atau lebih junior, dia melakukan pembelaan dan balik menyerang, melemparkan kesalahan pada yang mengkritik.
Saya yakin, bukan kali ini saja Bu Indri melakukan hal serupa. Entah pada staf di bawahnya, pada anaknya, atau pada siapapun yang dia anggap berada di level di bawahnya.
Sebaliknya, pada orang-orang di level di atasnya, Bu Indri ini merendahkan diri, tunduk patuh, dan selalu membenarkan perkataan atasan meski hal itu salah. Berusaha menjadi pembela nomor satu, meski dia tahu itu keliru.
Sama seperti Pak Dyastasita ini. Secara struktural dia menduduki eselon IIa atau setara Sekda kalau di Kabupaten/Kota, posisi yang levelnya jauh di atas Bu Indri yang baru eselon IIIa atau setara kepala bagian Setda Kabupaten/Kota atau camat.
Mungkin ada sekian banyak doa orang-orang teraniaya yang terakumulasi, dan dia selama ini lolos karena mengabaikan sinyal-sinyal peringatan yang Tuhan beri.
Dan pada akhirnya, jreng jreng…
Di sebuah perhelatan akbar, dia lakukan itu. Dia lupa, saat ini, tak akan ada yang lolos dari sorotan media digital. Tak ada yang akan lolos dari kecaman netizen konoha. Dan kalau netizen plesnamdua sudah bergerak, sampai lubang tikuspun akan terendus. Siap-siap saja di-bully se-Indonesia Raya.
Mohon maaflah Bu Indri, pada Tuhan, yang peringatan-peringatan kecilnya kau abaikan selama ini. Mohon maaflah pada orang-orang yang dengan santun menyampaikan masukannya dan Anda memilih mode menyerang. Tak sekedar mode survive sebagaimana di rimba raya.
Untuk Pak Dyastasita, mohon segera periksa ke dokter THT, Pak. Maaf, pendengaran bapak agaknya lumayan parah. Karena jika tidak segera disembuhkan sakit telinga Anda, khawatir makin banyak orang yang bertumbangan jadi korban.
Untuk adek Josepha Alexandra atau Ocha dari SMA N 1 Pontianak, tetap semangat ya! Kamu hebat banget. Kamu sudah menjawab benar. Dan ketika ada ketidakadilan, kamu berani speak up. Dan saat mengajukan keberatan, kamupun mengawali kalimat dengan : Izin…. Itu indikasi kamu anak Indonesia yang menjunjung tinggi norma dan sopan santun yang dulu pernah menjadi ciri khas bangsa kita! Tak banyak anak gen-Z yang memilih sikap seperti dirimu. Keren kamu, Dek!
Sumber: fb







sama suaminya juga berantem dia 😂😂😂
kata suaminya: elu gimana orang keliru di bela
kalau diperhatikan, penyakit orang indon itu salah satunya ya ini, tidak mau mengakui kesalahan, anti kritik, gak penjabat gak rakyat sama saja.
beda sekali dengan bangsa lain, jepang contohnya