Orang ini tidak beraksi dengan pola pikir politik biasa, dia bergerak senyap

Orang ini tidak beraksi dengan pola pikir politik biasa, dia bergerak senyap dan tidak banyak bicara.

Pergerakannya jelas dengan pola pikir orang yang tahu bagaimana membuka sebuah pintu yang tertutup rapat, namun secara diam-diam tapi pasti.

Setelah 1 tahun setengah Suriah dipimpinnya, Uni Emirat Arab dan Mesir masih “dingin” terhadap Suriah.

Dia pergi ke Uni Emirat Arab dua minggu lalu, dia tidak pergi sendirian, dia membawa ibunya bersamanya…

Disini, Uni Emirat Arab memahami ada pesan tersirat dibalik kunjungan dengan ibunya itu. Seakan Presiden Ahmad Al Sharaa mengatakan kepada Presiden MBZ, “Aku ke rumahmu sebagai saudara, aku membawa ibuku…”

Ibu presiden Al Sharaa pun bertemu dan duduk bersama Sheikha Fatima bint Mubarak, Ibunya MBZ, dikenal di negara Teluk bukan hanya dengan gelar resmi… tetapi juga sebagai “Ibu Uni Emirat Arab”.

Terkadang pertemuan ibu-ibu lebih bermakna daripada puluhan pertemuan politik!

Dan apa yang dihasilkan dari kunjungan ini:

  • Emirat membebaskan Issam al-Buwaydani.
  • Delegasi besar para pelaku bisnis dan orang-orang kaya Uni Emirat Arab tiba di Damaskus.
  • Diskusi terbuka tentang investasi senilai miliaran dolar.
  • Dukungan politik guna mendukung roadmap menuju stabilitas di Suriah.

Dan Syekha Fatima mengatakan akan mendanai renovasi lengkap Masjid Agung Bani Umayyah dan area di Old Damascus sekitar masjid itu.

Di sini, kita tidak hanya berbicara tentang “proyek rekonstruksi atau rebuild”, tetapi tersirat sebuah pesan simbolis yang sangat signifikan, karena Masjid Agung Bani Umayyah bukan hanya sebuah masjid… ia adalah simbol kemenangan, simbol budaya dan keagamaan terpenting di Greater Sham.

Ini bukan sekadar kunjungan basi basi atau sekedar cortesy call, ini adalah kebijakan luar negeri yang canggih yang sering kita diskusikan di kelas….yang diimplementasikan oleh Presiden Ahmad Al Sharaa dengan sangat terampil!

Bagaimanapun, UEA adalah negara kunci di kawasan dan pemain berpengalaman dalam semua intrik yang telah terjadi di Timur Tengah. Damaskus sangat berhati-hati dalam berurusan dengan Abu Dhabi.

Setelah penutupan Selat Hormuz, Damaskus menawarkan diri sebagai alternatif untuk mengekspor minyak Arab ke Eropa, Abu Dhabi segera memahami pesan tersebut dan menyadari bahwa aturan main telah berubah.

Hubungan antara Damaskus dan Abu Dhabi dimulai dengan renovasi Masjid Agung Bani Umayyah dan akan meluas ke investasi minyak, gas, dan infrastruktur!

(Saief Alemdar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8 komentar

  1. kerja diam pala loe….org ini kualitasnya sedikit diatas ba**…maaf….
    mujahiddin hidup dari hotel ke hotel…jam tangan ..mobil mahal…..berkawan dgn musuh Allah….semoga Allah membuka aibnya agar umat tak tertipu….

  2. sila jalin kerjasama yg baik antar kedua negri.. dgn tetap brhati2..
    coz utk “smentara” ini UEA spt trkunci oleh kpentingan luar..
    ☝🏻👇
    jgn ragu buang yg meminta “feedback” aneh2.. trima hanya yg brnilai baik.. yg tulus..

  3. Abu Muhammad Al-Julani, mantan gerilyawan yg berpola pikir terbuka, namun tetap teguh pada tujuan perjuangan. Ketika Damascus jatuh, ia datang…Dan apa yang pertama sekali ia lakukan di Damascus : Menghapuskan kultus individu. Ia tidak ingin rakyat Suriah terus terperangkap dalam pengagung-agungan tokoh. Maka ia marah ketika ada orang yang memuji-mujinya seperti ketika orang Suriah masih memuji-muji Asad. Pengkultusan individu membuat rakyat Suriah hidup dalam ketakutan. “Birruh biddaam nafdiika ya Asad…” Teriakan seperti itu sebenarnya adalah simbol ketakutan rakyat. Suriah harus kuat, karena ia berada di garis depan zona perang akhir zaman.