Istilah “Londo Ireng” (atau dalam bahasa Belanda dikenal sebagai Zwarte Hollanders) benar-benar sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda.
Secara historis, istilah ini memiliki akar yang kuat dalam catatan militer dan sosial era kolonial Hindia Belanda:
1. Asal-Usul Militer (Abad ke-19)
Istilah “Londo Ireng” (secara harfiah berarti “Belanda Hitam” dalam bahasa Jawa) pertama kali muncul sekitar tahun 1831, tepatnya setelah berakhirnya Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825–1830).
Pemerintah Kolonial Belanda mengalami kerugian besar dan kehilangan ribuan tentara Eropa serta serdadu pribumi selama Perang Diponegoro.
Untuk memperkuat pasukan KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger/ Tentara Kerajaan Hindia Belanda) tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pribumi, Belanda mendatangkan dan merekrut lebih dari 3.000 tentara bayaran dari Afrika Barat (wilayah Elmina yang kini menjadi bagian dari Ghana).
Serdadu-serdadu asal Afrika inilah yang awalnya dijuluki oleh masyarakat lokal sebagai “Londo Ireng” karena mereka menjadi bagian dari militer Belanda dan berpihak pada sistem kolonial.
2. Pergeseran Makna Sosial
Seiring berjalannya waktu, makna istilah ini mengalami perluasan dan pergeseran di tengah masyarakat, tidak hanya merujuk pada tentara asal Afrika, istilah ini kemudian juga diasosiasikan atau disematkan kepada kaum pribumi yang dianggap menjadi antek, pelayan, atau berkolaborasi dengan penjajah Belanda untuk menindas bangsa sendiri.
Dalam memori kolektif masyarakat, istilah tersebut melekat sebagai simbol mengenai persoalan loyalitas, keberpihakan, dan dinamika sosial di bawah cengkeraman kolonialisme.
***
*Ket. Foto atas: Foto bersejarah dari tahun 1893 ini menampilkan Kopral de Leeuw, seorang tentara Afrika, yang berdiri berdampingan dengan B. van Weenen, seorang tentara kolonial Belanda.








Sekarang penerusnya para babi dan pe jilatnya kaya ngentot vernandes preman kampung af aris