Orang Belanda datang bukan sebagai tentara. Mereka datang sebagai pedagang yang ingin membeli lada dan cengkih.
Jumlahnya sedikit, kapalnya terbatas, dan iklim tropis membunuh mereka lebih cepat daripada tombak siapa pun. Di atas kertas, mereka tidak punya peluang sama sekali di Jawa.
Yang mereka punya hanya kesabaran dan satu kebiasaan lama Mataram: perebutan tahta.
Tahun 1677 keraton yang dipimpin Amangkurat I jatuh oleh pemberontakan Trunajaya.
Amangkurat II, yang kehilangan segalanya, meminta bantuan kompeni (VOC) untuk merebut kembali istana ayahnya. Bantuan itu diberikan, tentu saja, dengan harga.
Harganya bukan emas. Pelabuhan diserahkan, pajak dijaminkan, dan utang perang dituliskan dalam angka yang tidak mungkin dilunasi.
Sejak hari itu raja Jawa duduk di singgasananya sebagai orang yang berutang. Dan pihak yang menagih selalu punya alasan untuk ikut campur.
Polanya kemudian berulang hampir di setiap pergantian raja. Pewaris yang membangkang disingkirkan, seperti Arya Mangkunegara yang dibuang sampai Sri Lanka. Yang penurut dinaikkan.
Bukan darah yang menentukan siapa bertakhta, melainkan siapa yang paling menguntungkan bagi kantor dagang (VOC) di Batavia.
Puncaknya tahun 1752. Mangkubumi dan Mas Said, dua pemberontak yang sempat sepakat melawan bersama, dipisahkan oleh bisikan dan janji wilayah.
Persekutuan itu retak tanpa satu pun pertempuran besar. Kompeni cukup duduk, menunggu, lalu menawarkan perdamaian kepada masing-masing pihak.
Tahun 1755 di Giyanti, Mataram dibelah dua. Para raja tetap bergelar, tetap disembah, tetap memakai mahkota. Yang hilang hanya kuasa untuk menolak.
Penjajahan terpanjang di negeri ini tidak dimulai dari serangan, melainkan dari saudara yang memilih menang atas saudaranya.







praktek itu diterapkan s.d hi oleh rezim Londo ireng.ngasih tanah, ngundang investasi dgn bebas pajak berpuluh2 tahun, boleh bawa tenaga kerja sendiri😭😭😭